Sabtu, 3 Oktober 2026
Ayub 42:1–3, 5–6, 12–16
Kadang saya bertanya-tanya: bagaimana seseorang seperti Ayub mampu terus berserah dan menaruh kepercayaan yang begitu dalam kepada Tuhan?
Bagi banyak dari kita, persoalan kecil saja sudah dapat mengundang keluhan, bahkan kemarahan kepada Tuhan. Kita bertanya, “Mengapa ini terjadi padaku?” Atau, dalam kesepian, kita berbisik, “Tuhan, di manakah Engkau? Mengapa seolah-olah Engkau membiarkan aku sendirian?”
Ayub mengingatkan kita bahwa kesulitan merupakan bagian dari kehidupan. Yang menentukan perjalanan kita bukan hanya keadaan yang kita hadapi, melainkan juga cara kita memandang dan menanggapinya.
Ada saatnya penderitaan terasa datang silih berganti, seakan tak berujung. Namun, setiap pengalaman yang sulit juga dapat menjadi kesempatan untuk bertumbuh, menjadi lebih kuat, dan belajar menghadapi kehidupan dengan iman yang lebih dalam serta hati yang lebih dewasa.
Ayub mengajarkan nilai ketekunan. Kisahnya mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak meninggalkan anak-anak-Nya. Kita mungkin belum memahami apa yang sedang terjadi. Kita mungkin juga belum melihat makna di balik pergumulan kita. Meski demikian, kita dapat terus percaya bahwa Tuhan hadir dan jalan-Nya melampaui pemahaman kita.
Keluhan dapat menjadi ungkapan jujur dari hati yang terluka. Namun, kita tidak harus terus tinggal di dalamnya. Perlahan, kita diajak belajar menerima, berserah, dan percaya.
Kadang, iman sesederhana doa ini: “Tuhan, aku belum mengerti, tetapi aku tetap percaya kepada-Mu.”
Dan mungkin, pada waktu yang Tuhan tentukan, kita akan menyadari bahwa Dia tak pernah berhenti berkarya dalam hidup kita.
“Tuhan, ketika aku tidak memahami apa yang sedang terjadi, anugerahkanlah rahmat agar aku tetap setia. Ajarlah aku untuk berserah, menaruh kepercayaan kepada-Mu, dan meyakini bahwa Engkau tidak pernah meninggalkanku. Amin.”
Rm. EL, OP
