LOURDES, Pena Katolik — Paus Leo XIV berdiri sebagai seorang peziarah di Gua Massabielle, Lourdes pada 27 September 2026. Pada momen ini, Paus Leo XIV memberikan pengingat nyata, tentang alasan Gereja Katolik terus menjaga dan menghormati penampakan Maria. Penampakan ini seperti yang terjadi di Lourdes.
Kehadiran Bapa Suci menegaskan kembali pertanyaan mendasar bagi umat Katolik, “Jika Wahyu Ilahi telah sempurna dan lengkap dalam diri Yesus Kristus (wahyu utama), mengapa Gereja tetap mengakui dan mempromosikan tempat suci yang lahir dari penampakan pribadi?” Jawabannya terletak pada peran pastoral dari wahyu pribadi yang sifatnya mendukung wahyu utama tersebut.
Wahyu Publik
Doktrin fundamental Katolik menegaskan keyakinan bahwa kepenuhan komunikasi diri Allah telah mencapai puncaknya yang sempurna dalam diri Yesus Kristus.
Aajaran ini sebagaimana diajarkan dalam Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi Konsili Vatikan II, Dei Verbum. Setelah Allah berbicara melalui para nabi, “pada zaman akhir ini, Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya” (Ibr 1:1-2). Kristus adalah “pantara sekaligus kepenuhan dari seluruh wahyu” yang menyempurnakan karya keselamatan melalui sabda, karya, wafat, dan kebangkitan-Nya.
Konsili Vatikan II secara tegas menyatakan bahwa “tidak ada wahyu publik baru yang perlu dinantikan sebelum penyataan mulia Tuhan kita Yesus Kristus.” Batasan ini bersifat mutlak. Dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Lumen Gentium, Konsili kembali menegaskan bahwa umat beriman tidak menerima “wahyu publik baru karena hal itu tidak termasuk dalam deposit iman Ilahi.”
Sebagaimana ditekankan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK No. 65-67), Gereja tidak pernah menerima satu pun kebenaran terwahyu yang baru sejak wafatnya rasul terakhir. Tidak ada penglihatan atau penampakan dalam sejarah yang menambahkan satu kata pun ke dalam apa yang telah diwariskan melalui para rasul.
Sifat dan Batasan
Lantas, bagaimana Gereja memandang Tempat Suci Santa Perawan Maria di Lourdes?
Gereja mengategorikan peristiwa seperti di Lourdes sebagai “wahyu pribadi”. Menurut Katekismus Gereja Katolik, wahyu pribadi—beberapa di antaranya telah diakui oleh otoritas Gereja. Perannya bukan untuk menyempurnakan atau melengkapi Wahyu definitif Kristus, melainkan untuk membantu umat memperhidup Wahyu tersebut secara lebih penuh pada periode sejarah tertentu” (KGK No. 67).
“Dalam peredaran waktu terdapatlah apa yang dinamakan “wahyu pribadi”, yang beberapa di antaranya diakui oleh pimpinan Gereja. Namun wahyu pribadi itu tidak termasuk dalam perbendaharaan iman (Depositum Fidei). Bukanlah tugas mereka untuk “menyempurnakan” wahyu Kristus yang definitif atau untuk “melengkapinya”, melainkan untuk membantu supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu tertentu.”
Karena wahyu pribadi tidak membentuk bagian dari doktrin yang wajib, tidak ada umat Katolik yang diwajibkan secara dogmatis untuk mempercayai penampakan di Lourdes. Persetujuan Gereja tidak mengangkat suatu penampakan menjadi dogma. Sebaliknya, wahyu tersebut tetap bersifat pribadi, tidak mengikat secara doctrinal, dan menjadi hal yang dapat dipercaya secara bijaksana.
Menguji Roh
Untuk melindungi umat beriman dari sifat mudah percaya tanpa kritis, Gereja menguji klaim-klaim penampakan dengan kewaspadaan yang ketat. Dei Verbum menyatakan bahwa otoritas mengajar Gereja (Magisterium) mengabdi pada Sabda Allah. Caranya, Gereja “menjaganya secara murni dan menjalankannya secara setia” sesuai dengan tugas ilahi dan dengan bantuan Roh Kudus.
Dalam Lumen Gentium (No. 12), Konsili mencatat bahwa “erkait karunia-karunia luar biasa, “penilaian mengenai keaslian dan penggunaannya yang tepat adalah wewenang mereka yang memimpin dalam Gereja,” yang bertugas untuk “menguji segala sesuatu dan memegang teguh apa yang baik.”
Prinsip inilah yang memandu evaluasi Gereja terhadap kesaksian St. Bernadette Soubirous mengenai penampakan pada tahun 1858. Investigasi yang berlangsung selama empat tahun memeriksa karakter Bernadette, kondisi psikologis, keselarasan doktrin. Penelitian ini termasuk mendalami buah-buah spiritual yang dihasilkan, termasuk pertobatan dan kesembuhan.
Pada tahun 1862, Uskup setempat menyimpulkan bahwa umat beriman dibenarkan untuk mempercayai keaslian penampakan tersebut.
Mengarah kepada Injil
Penampakan yang otentik tidak pernah menggantikan posisi Kristus. Sebaliknya, peristiwa tersebut selalu mengarahkan kembali umat beriman kepada Kitab Suci dan sakramen-sakramen.
Dalam kotbahnya di Lourdes, Paus Leo XIV dalam kunjungannya ke Perancis 25-28 September 2026, ia mengamati “bacaan-bacaan Kitab Suci Minggu ini menyentuh bagian inti dari pesan yang dipercayakan Perawan Maria kepada St. Bernadette: panggilan menuju pertobatan, yang lembut namun mendesak.”
“Aku tidak berjanji untuk membuatmu bahagia di dunia ini, melainkan di dunia yang akan datang,” Pesan Maria kepada Bernadette. Maria juga menggemakan Kembali “tuntutan utama” Injil “Pertobatan!”
Pemahaman tentang peran Maria ini sejalan dengan Lumen Gentium (No. 60), yang mengajarkan bahwa “peran keibuan Maria terhadap manusia tidak sedikit pun mengaburkan atau mengurangi perantaraan Kristus yang tunggal, melainkan justru menunjukkan kuasanya.” Konsili menambahkan bahwa “semua pengaruh penyelamatan dari Perawan Maria kepada manusia berasal dari kerelaan Ilahi.”
Saat Paus Leo XIV berlutut di Massabielle sebagai “seorang peziarah di antara para peziarah,” ia memperagakan pendekatan otentik Gereja terhadap wahyu pribadi. Para Paus tidak berkunjung ke Lourdes untuk menemukan doktrin baru. Sebaliknya, mereka hadir untuk menyaksikan “mukjizat Lourdes” dapat membangkitkan sukacita, harapan di tengah-tengah penderitaan dan kesusahan.
