Home BERITA TERKINI Tiga Fragmen Injil Santo Markus Dipersatukan Kembali di Aquileia Setelah 7 Abad...

Tiga Fragmen Injil Santo Markus Dipersatukan Kembali di Aquileia Setelah 7 Abad Terpisah

0

AQUILEIA, Pena Katolik— Untuk pertama kalinya, setelah terpisah selama tujuh abad (700 tahun), tiga fragmen dari manuskrip Injil Santo Markus dipersatukan Kembali di Basilika St. Maria Assumpta Aquileia, Italia. Fragmen ini diyakini berasal dari abad ke-6, yang dihormati sebagai relikui suci.

Peristiwa ini menandai sebuah titik sejarah keagamaan dan kebudayaan Eropa yang baru saja terukir di kota berpenduduk sekitar 3.000 jiwa di timur laut Italia itu. Penyatuan ini terjadi dalam pameran bertajuk “The Gospel of Mark: Seven Centuries. Three Fragments. One European Story” yang akan diselenggarakan hingga 25 April 2027.

Karena kerapuhan bahan perkamen kuno tersebut, manuskrip asli hanya dapat ditampilkan secara langsung kepada publik selama enam minggu pertama. Selanjutnya, pameran ini akan menampilkan reproduksi digital manuskrip beresolusi tinggi.

Jejak Santo Markus

Santo Markus dikenal sebagai penerjemah dan sekretaris Santo Petrus. Ia menyertai sang rasul ke Roma, mencatat khotbah-khotbah awal umat Kristen yang berani menentang hukum Kekaisaran Roma. Catatan-catatan tersebut menjadi sumber utama penulisan Injil.

Injil Markus, secara tradisional dianggap menggambarkan khotbah dan kisah Petrus sebagai saksi mata langsung kehidupan Yesus. Tradisi lokal meyakini Santo Markus kemudian tiba di Aquileia dan mendirikan komunitas Kristiani pertama di sana. Keyakinan ini diperkuat oleh lukisan dinding (fresco) abad pertengahan di Basilika Aquileia yang menggambarkan kedatangan sang penginjil.

Setelah Edik Milan (Edict of Milan) pada tahun 313 M oleh Kaisar Konstantinus, memberikan kebebasan beragama bagi umat Kristiani di Kekaisaran Roma. Sejak itu, Aquileia berkembang pesat. Kota ini berada di persimpangan jalan antara Barat dan Timur. Hal ini menjadikan Aquileia menjadi jembatan budaya Mediterania dan Slavia. Aquileia lalu menjadi pusat penyebaran kekristenan ke Eropa Tengah dan Balkan.

Pada abad ke-5, kota ini mendapat gelar “Kota Apostolik” dan uskupnya bergelar Patriark. Gelar ini menjadi hak istimewa khusus bagi keuskupan yang memiliki jalinan asal-usul langsung dengan khotbah seorang rasul.

Relikui Suci

Manuskrip yang dipamerkan ini awalnya merupakan bagian dari “Codex Forojuliensis”. Dibuat sekitar abad ke-6, kemungkinan besar di Ravenna. Manuskrip ini ditulis dalam kaligrafi uncial—gaya tulisan tangan kuno khusus untuk teks-teks suci. Manuskrip ini memuat empat Injil lengkap dalam terjemahan Latin Santo Hieronimus (Vulgata).

Pada paruh kedua abad ke-9, naskah ini tiba di Aquileia dan disahkan oleh tanda tangan Patriark Theodemar. Keberadaan naskah ini memperkuat supremasi gerejawi Aquileia, hingga pada tahun 827, Sinode Mantua mengesahkan dominasi keagamaan Aquileia atas wilayah Grado.

Prestise religius Aquileia memicu persaingan politik. Pada tahun 828, para pedagang Venesia membawa relikui jenazah Santo Markus dari Aleksandria ke kota laguna mereka, memberi Republik Venesia pelindungan apostolik.

Tujuh quire (lipatan lembaran naskah) yang memuat Injil Markus kemudian dipisahkan dari naskah utama empat Injil. Bagian ini dijilid ulang secara terpisah dan dilapisi sampul perak bersepuh emas yang indah. Sejak itu, komunitas Kristen di sana mengalihfungsikan buku ini menjadi objek penghormatan berbentuk seperti peti relikui. Sejak saat itu, naskah ini dianggap seolah sebagai “tulisan tangan” (autograph) asli Santo Markus.

Ketenaran Injil Santo Markus yang konon otentik dengan cepat menyebar ke seluruh Eropa. Pada tahun 1354, saat melakukan perjalanan ke Roma untuk menerima mahkota kekaisaran, Charles IV dari Luksemburg singgah di Aquileia. Pada saat itu, saudara tirinya, Nicholas dari Luksemburg, menjabat sebagai patriark di sana.

Charles IV meminta sebagian manuskrip suci tersebut dari saudara tirinya. Ia lalu menerima dua dari tujuh quire. Lembaran tersebut dibawa ke Praha dan disimpan di Katedral Santo Vitus bersama relikui Santo Wenceslaus. Quire ini menjadi dokumen tertulis tertua yang tersimpan di perpustakaan Ceko.

Pada 30 Mei 1420, Doge Tommaso Mocenigo dari Venesia menaklukkan Aquileia. Venesia lalu “mengklaim” sisa fragmen Injil Markus untuk disandingkan di dekat makam sang penginjil di Basilika Santo Markus. Sayangnya, kelembapan laguna Venesia merusak lembaran perkamen hingga hampir tidak terbaca. Manuskrip itu lalu disimpan di dalam peti relikui Treasury Santo Markus.

Akibatnya, rangkaian peristiwa sejarah tersebut, manuskrip Injil Markus terpisah permanen di tiga kota: Cividale del Friuli, Venesia, dan Praha. Pemeran yang diadakan di Aquileia berhasil menyatukan fragmen-fragmen ini.

Liber Vitae

Pameran ini juga mengungkap fungsi unik manuskrip sebelum dipisahkan. Naskah ini sempat berfungsi sebagai Liber Vitae, ‘buku orang-orang hidup’. Di Italia, hanya ada dua libri vitae yang diketahui berasal dari era Karoling, dan manuskrip ini adalah salah satunya.

Antara abad ke-7 dan ke-8, margin naskah mulanya diisi catatan liturgi sederhana mengenai petunjuk pembacaan ayat. Namun, mulai paruh kedua abad ke-9, naskah ini menjadi catatan pendaftaran nama. Lebih dari 1.500 nama tokoh penting dituliskan oleh orang-orang yang ingin dikenang dalam doa komunitas biarawan setempat.

Bagi para sejarawan, daftar pendaftaran nama ini menjadi bukti otentik adanya jaringan kontak, ziarah, dan pertukaran budaya antardaerah di Eropa jauh sebelum lahirnya negara-negara modern.

Penyatuan kembali tiga bagian manuskrip ini menghadirkan refleksi sejarah yang mendalam. Lembaran dari Praha meninggalkan Republik Ceko untuk pertama kalinya, sementara fragmen Venesia keluar sementara dari Basilika Santo Markus untuk bertemu kembali dengan lembaran yang tersimpan di Friuli.

“Yang indah adalah, meskipun kita mengakui bahwa setiap fragmen memiliki sejarah dan jalan yang berbeda, dengan menyatukannya kita memilih untuk merangkul sejarah bersama tersebut. Tiga fragmen ini tidak pernah berhenti menjadi bagian dari narasi tunggal, dan narasi itu adalah narasi Eropa,” ujar Martina Dlabajová, Kurator asal Ceko.

Mahjong Ways dan Fenomena Persepsi Momentum yang Muncul dari Hasil Putaran BerurutanMahjong Ways dan Cara Data Sesi Menggambarkan Variasi Hasil dalam Permainan DigitalMengapa Perubahan Simbol pada Mahjong Ways Dapat Membentuk Pengalaman Bermain yang BerbedaPerbedaan Fitur Mahjong Ways yang Perlu Dilihat Sebelum Membandingkannya dengan Game SejenisMemahami Perbedaan Fitur Bonus Mahjong Ways dari Fungsi dan Mekanisme PermainannyaBagaimana Elemen Audio dan Visual Membentuk Identitas Mahjong Ways di Platform DigitalMahjong Ways dalam Perspektif Statistik: Memahami Hasil Tanpa Mengabaikan Faktor AcakBagaimana Mekanisme Pembayaran Mahjong Ways Membentuk Struktur Hasil pada Setiap Putaran5 Faktor yang Membuat Pengalaman Setiap Sesi Mahjong Ways Terlihat BerbedaMahjong Ways Menjadi Bagian dari Perubahan Tren Game Reel Bertema Asia di Platform DigitalPerubahan Pola Interaksi Pengguna Menjadi Bagian dari Evolusi Mahjong Ways di Era MobileMengapa Rentang Waktu Pengamatan Dapat Mengubah Cara Hasil Mahjong Ways TerlihatPeran Informasi Real Time dalam Membentuk Pengalaman Pengguna Mahjong Ways di Platform DigitalMengapa Hasil Berulang dalam Mahjong Ways Tidak Selalu Berarti Pola yang Sama Akan TerjadiMengamati Perubahan Frekuensi Simbol Mahjong Ways dari Perspektif Data dan ProbabilitasStruktur Permainan Mahjong Ways Dilihat dari Hubungan Simbol, Fitur, dan Variasi HasilMahjong Ways dan Perbedaan Cara Membaca Volatilitas dalam Sesi Permainan yang BeragamApa yang Membuat Mahjong Ways Tetap Menarik Diamati di Tengah Banyaknya Game Reel ModernAnalisis Simbol Mahjong Ways Membuka Perspektif Baru tentang Struktur Permainan DigitalPerkembangan Teknologi Platform Mengubah Cara Mahjong Ways Disajikan kepada Pengguna
Exit mobile version