AMERIKA SERIKAT, Pena Katolik — Di tengah kesibukan melayani umat dan melintasi jalan tol antar-negara bagian dari Macon, Georgia, hingga Birmingham, Alabama, kelompok biarawan Ordo Dominikan yang tergabung dalam grup musik The Hillbilly Thomists kembali membuat kejutan. Mereka secara resmi merilis album terbaru bertajuk Strange Land di awal perjalanan tur musim panas mereka.
Album ini menyajikan kombinasi unik antara refleksi teologis mendalam dengan balutan musik tradisional Americana dan bluegrass. Bagi para anggota yang menyebut diri mereka sebagai “anjing-anjing Tuhan” (hounds of the Lord), menyeimbangkan kehidupan religius penuh waktu dengan dinamika tur musik regional merupakan tantangan tersendiri.
Dedikasi di Sela Pelayanan
Keputusan merilis album secara mendadak ini didorong oleh padatnya jadwal pelayanan para biarawan. Meskipun proses penulisan lagu dan rekaman telah diselesaikan setahun lalu, tahap pascaproduksi harus disesuaikan dengan prioritas utama mereka.
“Proses pascaproduksi memakan waktu karena kami semua adalah pengkhotbah, pengajar, kapelan, dan pastor penuh waktu. Setelah kegiatan dua minggu di musim panas ini, musik akan kembali menjadi prioritas sekunder. Jadi, album ini rilis begitu prosesnya selesai,” ujar Pastor Justin Bolger, O.P.
Secara musikal, Strange Land menghadirkan spektrum yang luas—mulai dari lagu bernuansa spiritual seperti “In-A-My Soul” dan “Gloria”, hingga lagu dengan judul yang unik seperti “Garrigou” dan “Good Old Elvis”.
Pastor Thomas Joseph White, O.P., salah satu pendiri grup yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Angelicum di Roma, menjelaskan bahwa album ini merefleksikan kepribadian tiap personel tanpa mengesampingkan tema besar bersama.
“Ada tema-tema konsisten yang muncul di setiap lagu, seperti peziarahan, harapan, dan perjuangan hidup. Semuanya mengalir secara alami dari proses penciptaan lagu kami,” tutur Pastor Thomas Joseph.
Kualitas Produksi yang Kian Matang
Dari segi teknis, Strange Land menandai langkah maju bagi The Hillbilly Thomists. Berbeda dari album-album sebelumnya yang direkam dan diolah secara mandiri di rumah retret, kali ini mereka melibatkan teknisi rekaman profesional.
Keterlibatan tenaga profesional ini memberi ruang bagi para anggota untuk lebih fokus pada harmonisasi vokal dan aransemen musik yang lebih kompleks. Atmosfer kolaborasi yang erat pun terjalin berkat ikatan persaudaraan yang telah terbangun bertahun-tahun dalam Ordo Dominikan.
