SIRIA, Pena Katolik – Dalam Sejarah Gereja, ada pula santo-santa yang memperoleh gelar sangat unik, bahkan terdengar agak janggal di telinga kita. Salah satunya adalah Santo Simeon, seorang rahib pertapa yang mendapat julukan resmi sebagai “Si Orang Bodoh yang Kudus.”
Mengapa Gereja memberikan gelar yang terkesan merendahkan ini? Ketika meneladani jalan hidupnya, dan membandingkannya dengan standar nilai duniawi, julukan tersebut justru menjadi sangat masuk akal.
Berlagak Gila
Simeon lahir di Edessa pada menjelang akhir abad ke-5 masehi. Ia hidup sezaman dengan Kaisar Justinian I. Simeon tinggal di sana Edessa sampai usia 20 dan belum menikah. Ia tinggal Bersama ibunya yang sudah tua.
Pada usia 20 tahun itu, Simeon memutuskan mengikrarkan kaul monastik di Biara Abba Gerasimus di Suriah, bersama temannya dan sesama pertapa, Yohanes dari Edessa. Setelah itu, Simeon dan Yohanes menghabiskan sekitar 29 tahun di padang gurun dekat Laut Mati. Keduanya berlatih asketis dan spiritual. Didorong oleh “bisikan” Ilahi, Simeon memutuskan pindah ke Emesa, untuk melakukan pelayanan sosial dan amal.
Simeon meminta Tuhan untuk melayani orang-orang. Namun, ia tidak ingin dilihat mencolok, kalua ia telah berbuat banyak bagi sesame, sehingga mereka pun tidak sadar telah ditolong.
Di Emesa, Simeon hidup seperti “orang gila”. Namun, dengan tindakannya, Simeon membawa banyak warga kepada pertobatan, menyelamatkan banyak jiwa dari dosa, dan banyak yang dibaptis karenanya.
Suatu kali di Gerbang Emesa, Simeon berjalan sambil menyeret seekor anjing mati. Anak-anak sekolah yang melihatnya sontak berteriak, “Hei, seorang abba gila.”
Keesokan harinya, hari Minggu, Simeon memasuki gereja, memadamkan lampu dan melemparkan kacang ke arah para wanita. Dalam perjalanan keluar dari gereja, Simeon membalikkan meja-meja penjual kue.
Perilaku bodoh seperti itu membuatnya menjadi sasaran penghinaan, pelecehan, dan pemukulan. Namun, “hinaan” itu diterima Simeon dengan sabar.
Meskipun perilakunya tampak aneh, Simeon menyembuhkan banyak orang yang kerasukan melalui doanya, memberi makan orang lapar, memberitakan Injil, dan membantu warga kota yang membutuhkan. Banyak perbuatan suci dilakukan Simeon dilakukan secara diam-diam.
Menyembuhkan Orang Sakit
Suatu hari, Simeon mendapati seorang pria yang menderita leukoma di matanya. Ketika pria yang menderita penyakit mata itu mendekati Simeon, ia mengolesi mata pria itu dengan mustard, membakarnya dan memperburuk kondisinya hingga dilaporkan menjadi buta. Namun kemudian, mata pria itu disembuhkan atas nasihat Simeon. Rupanya, Simeon menggunakan cara tersebut untuk menjelaskan dosa-dosa pria itu dan mengajaknya bertobat.
Simeon memainkan berbagai peran bodoh. Terkadang, ia berpura-pura pincang, di lain wkatu, ia melompat-lompat, selanjutnya ia pernah menyeret dirinya sendiri dengan pantatnya. Pada waktu lain ketika bulan baru muncul, ia memandang langit dan jatuh tersungkur serta meronta-ronta.
Kehidupan Simeon si Orang Suci yang Bodoh digambarkan oleh Leontios dari Neapolis, yang secara simbolis membandingkan hidupnya dengan kehidupan Yesus, yang coba ditiru oleh santo tersebut dengan caranya sendiri.
Menurut Leontios, ketika St. Simeon berada di Emesa, ia berseru kepada banyak orang. Beberapa orang ia salahkan, dengan mengatakan bahwa mereka tidak sering menerima komuni, dan yang lain ia cela karena sumpah palsu, sehingga melalui daya ciptanya ia hampir mengakhiri dosa di seluruh kota.
Satu-satunya orang di Emesa yang tidak dipermainkan oleh Simeon adalah diaken gereja di Emesa, yaitu temannya sendiri Yohanes. Suatu kali, Simeon menyelamatkan Yohanes dari hukuman mati, ketika sahabatnay itu dituduh dengan tuduhan yang salah.
Tak lama sebelum kematiannya, Simeon berkata kepada Yohanes. “Aku mohon kepadamu, jangan pernah mengabaikan satu jiwa pun, terutama jika itu adalah seorang biarawan atau pengemis. Tunjukkan kasihmu kepada sesama melalui sedekah. Karena kebajikan ini, di atas segalanya, akan membantu kita pada Hari Penghakiman.”
Dimakamkan di Tengah Orang Miskin
Leontius Menyusun biografi St. Simeon, yang sekaligus menjadi Gambaran kehidupan perkotaan di akhir zaman kuno. Karya ini tersedia dalam terjemahan bahasa Suryani, Arab, Georgia, dan Slavia abad pertengahan.
Santo Simeon tidak pernah berusaha mencari pembenaran diri, menjaga pencitraan, atau berpura-pura tampil terhormat di depan publik. Ia tampil apa adanya dan menggunakan metode-metode penginjilan yang sangat tidak konvensional. Dengan car aini, ia menarik perhatian orang-orang yang terasing dan berdosa.
Gaya hidup radikal ini sangat mirip dengan Santo Fransiskus dari Asisi, yang menolak kebijaksanaan duniawi, melepaskan seluruh kekayaan keluarganya, dan memilih hidup dalam kemiskinan total. St. Fransiskus juga kerap dianggap “gila” oleh warga kotanya sendiri.
St. Simeon meninggal sekitar tahun 570 M. Ia dimakamkan oleh kaum miskin kota, di tempat di mana para tunawisma dan orang asing dimakamkan. Saat jenazahnya dibawa, beberapa orang mendengar paduan suara gereja yang menakjubkan. Baru setelah kematiannya “rahasia kebodohannya” terungkap. Beberapa penduduk mengingat perbuatan baiknya dan melaporkan mukjizat yang aneh dan dahsyat. Kesucian St. Simeon diperingati Gereja setiap tanggal 21 Juli.
