LONDON, Pena Katolik — Terpilihnya pemimpin Partai Buruh, Andrew Murray Burnham, sebagai Perdana Menteri Britania Raya bulan ini menandai babak baru dalam sejarah politik Inggris. Media massa menyoroti satu hal penting dari sosoknya. Ia merupakan pemeluk Katolik pertama yang menduduki jabatan tertinggi Inggris dan berkantor di 10 Downing Street.
Lahir dari ibu berdarah Irlandia-Katolik di kawasan Liverpool, Burnham mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang Katolik. Kehadirannya menjadi sorotan besar di Inggris—sebuah negara yang gereja resminya berhaluan Protestan dan memiliki sejarah panjang melarang warga Katolik menduduki jabatan parlemen hingga awal abad ke-19.
Meski Inggris modern telah berkembang menjadi masyarakat yang sekuler. Saat ini, sebanyak 37% warga di Inggris dan Wales mengaku tidak beragama.
Sejarah gesekan agama di negara ini terbilang kelam. Sejak Raja Henry VIII memisahkan diri dari Roma (Gereja Katolik), ketakutan akan dominasi Katolik sempat memicu Revolusi Gemilang (Glorious Revolution) pada 1688, bahkan hingga berhasil menggulingkan Raja James II. Undang-undang anti-Katolik pun diberlakukan, sebelum akhirnya bertahap dihapuskan sejak 1829.
Sebelum Burnham, Inggris pernah dipimpin oleh Benjamin Disraeli yang keturunan Yahudi, serta Rishi Sunak yang beragama Hindu. Boris Johnson dibaptis secara Katolik namun berpindah ke Anglikan saat bersekolah di Eton. Sementara itu, Tony Blair baru secara resmi berpindah ke iman Katolik setelah ia melepaskan jabatan PM.
Budaya dan Ajaran Gereja
Dengan rekam jejak tersebut, penunjukan Andy Burnham menjadikannya sosok pionir dalam sejarah pemerintahan Britania Raya. Masa kecil Burnham dihabiskan di lingkungan Katolik yang kental. Ia menempuh pendidikan di sekolah-sekolah Katolik dan menjadi putra altar bersama saudara-saudaranya. Ibunya, Eileen, mengenang masa muda Burnham yang penuh semangat saat bertugas di gereja.
“Anda harus melihat bagaimana ia dan saudara-saudaranya berebut di hari Minggu. Mereka semua putra altar, tetapi Andy selalu ingin berada di paling depan memegang nampan komuni,” kenang Eileen.
Burnham bertemu Paus Fransiskus di Vatikan bersama para pemimpin regional lainnya pada tahun 2023. Burnham mengatakan, “Meskipun saya bukan seorang Katolik dalam arti kata yang sebenarnya, saya merasakan daya tarik magnetis Vatikan.”
Burnham pernah mengekspresikan sudut pandangnya mengenai aspek-aspek utama yang membentuk hidupnya. “Selain keluarga, ada tiga hal yang ia akui sangat penting dalam hidupnya: Everton F.C., Partai Buruh, dan Gereja Katolik
“Mengapa saya katakan demikian? Karena semuanya kembali pada identitas budaya saya,” ungkapnya.
Burnham mengakui, ajaran iman Katolik meninggalkan jejak mendalam pada gagasan politiknya. Saat menjadi putra altar, Burnham kerap mendengarkan khotbah Uskup Agung Katolik Liverpool, Derek Worlock, yang gencar menyuarakan kritik terhadap ketimpangan sosial pada era pemerintahan Margaret Thatcher. Burnham menegaskan bahwa Ajaran Sosial Gereja merupakan pondasi utama dalam karier politiknya.
“Saya dibesarkan dalam kepercayaan pada Ajaran Sosial Gereja, dan itu sangat membentuk diri saya. Bagi saya, hal yang paling mendekati nilai-nilai tersebut adalah garis politik Partai Buruh.”
Moral dan Kepedulian Sosial
Sepanjang kariernya di Parlemen hingga menjabat sebagai Wali Kota Manchester, pandangan politik Burnham tidak selalu sejalan dengan doktrin resmi Gereja, khususnya terkait isu kontrasepsi dan hak-hak kelompok homoseksual.
Meski demikian, nilai dasar untuk membela kaum miskin dan masyarakat marjinal—yang menjadi pilar Ajaran Sosial Gereja—tetap menjadi pegangan utamanya dalam merumuskan kebijakan publik hingga kini memimpin Britania Raya. Terpilihnya Burnham, sebagai Perdana Menteri Britania Raya bulan ini, menandai babak baru dalam sejarah politik Inggris. Ia merupakan pemeluk Katolik pertama yang menduduki jabatan tertinggi di 10 Downing Street.
Sepanjang kariernya di Parlemen hingga menjabat sebagai Wali Kota Manchester, pandangan politik Burnham memang tidak selalu sejalan dengan doktrin resmi Gereja, khususnya terkait isu kontrasepsi dan hak-hak kelompok homoseksual. Para pemimpin Gereja Katolik di Inggris akan mencermati bagaimana latar belakang iman Burnham memengaruhi kebijakan publik, terutama terkait isu-isu sensitif seperti legalisasi eutanasia (assisted dying) yang ditolak keras oleh Gereja, serta regulasi pendanaan bagi sekolah-sekolah berbasis agama.
Uskup Agung Westminster, Mgr. Richard Moth berharap latar belakang sebagai seorang Katolik dan Kristiani yang dimiliki Burnham akan membentuk hati nurani dan cara pandangnya.
“Kami berharap dapat melihat kepedulian nyata terhadap kemanusiaan, tidak hanya dalam skala besar, tetapi juga untuk kebutuhan keluarga dan kaum tunawisma.”
Di depan 10 Downing Street, Burnham menegaskan bahwa tugas utamanya sebagai perdana menteri adalah menghentikan fenomena rough sleeping—suatu istilah untuk warga yang terpaksa tidur di jalanan tanpa tempat tinggal.
Banyak pihak berharap agar akar nilai Katolik yang dihidupinya dapat membuahkan kebijakan yang membawa kebaikan bagi seluruh rakyat Britania Raya.
