ROMA, Pena Katolik – Kamis Putih menandai institusi (penetapan) Ekaristi Kudus pada Perjamuan Malam Terakhir. Saat itulah Yesus berpesan kepada para murid-Nya, “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku.” Meskipun Ekaristi pertama ini dirayakan dalam konteks Paskah Yahudi, umat Kristen perdana segera membedakan diri mereka. Mereka mulai mempersembahkan Ekaristi secara teratur dan mengembangkan tradisi mereka sendiri.
Bagaimana umat Kristen perdana merayakan Misa pada 2000 tahun lalu? Jika kita melihat sejarah, ada satu hal yang pasti yakni beberapa hal tidak pernah berubah. Struktur dasar perayaan iman kita hari ini ternyata sangat identik dengan apa yang dilakukan jemaat purba.
Kita beruntung memiliki deskripsi yang sangat akurat tentang perayaan ini dari seorang kudus Gereja perdana: St. Yustinus Martir (hidup antara tahun 100–165 M). Ia adalah seorang filsuf dan apologet (pembela iman) Kristen yang rindu membagikan iman barunya, sekaligus menjelaskannya agar dapat dipahami oleh orang-orang pagan di Kekaisaran Romawi.
Untuk meluruskan berbagai kesalahpahaman dan fitnah terhadap cara ibadah umat Kristen saat itu, St. Justinus mengirimkan sebuah laporan resmi kepada Kaisar Romawi. Berikut adalah kutipan dari “Apologia Pertama”, yang merinci liturgi awal Gereja Kristen.
Misa Rutin
“Dan pada hari yang disebut hari Minggu, semua orang yang tinggal di kota maupun di desa berkumpul bersama di satu tempat. Kemudian, catatan-catatan kenangan [surat-surat] para rasul atau tulisan-tulisan para nabi dibacakan, sejauh waktu memungkinkan.
Setelah pembaca selesai, pemuka jemaat [imam atau uskup yang memimpin] memberikan instruksi lisan, memberikan nasehat dan ajakan untuk meneladani hal-hal baik tersebut.
Kemudian, kami semua bangkit berdiri bersama dan berdoa. Seperti yang telah kami sampaikan sebelumnya, ketika doa kami selesai, roti, anggur, dan air dibawa ke depan. Pemuka jemaat pun, dengan cara yang sama, mempersembahkan doa-doa dan ucapan syukur sesuai dengan kemampuannya, dan jemaat memberikan persetujuan mereka dengan menyerukan: Amen.
Setelah itu, dilakukan pembagian dan partisipasi (komuni) atas apa yang telah disyukuri tersebut kepada setiap orang yang hadir. Sementara bagi mereka yang tidak hadir, bagian mereka dikirimkan melalui para diakon.
Mereka yang berkecukupan dan rela, memberikan persembahan sukarela menurut kerelaan masing-masing. Apa yang terkumpul diserahkan kepada pemuka jemaat, yang gunanya untuk membantu para yatim piatu, janda, mereka yang sakit atau berkekurangan karena alasan lain, mereka yang dipenjara, serta para pendatang yang ada di antara kita. Singkatnya, ia merawat semua orang yang membutuhkan.”
Mengapa Hari Minggu?
Mengapa umat Kristen perdana memilih hari Minggu, bukan hari Sabat (Sabtu)? St. Yustinus menjelaskan alasannya.
“Hari Minggu adalah hari di mana kita semua mengadakan perkumpulan bersama, karena ini adalah hari pertama saat Tuhan mengubah kegelapan dan materi untuk menciptakan dunia; dan pada hari yang sama pula Yesus Kristus, Juru Selamat kita, bangkit dari antara orang mati.
Sebab, Dia disalibkan pada hari sebelum hari Saturnus (Sabtu); dan pada hari sesudah hari Saturnus, yaitu hari Matahari (Minggu), Dia menampakkan diri kepada para rasul dan murid-Nya, lalu mengajarkan hal-hal ini kepada mereka, yang telah kami ajukan juga kepada Anda untuk dipertimbangkan.”
Makna Ekaristi
Bagi umat Kristen perdana, Ekaristi adalah kehadiran nyata Tubuh dan Darah Kristus, sebuah doktrin yang sudah dipegang teguh sejak abad kedua.
“Dan makanan ini di antara kami disebut Εὐχαριστία [Ekaristi]. Tidak ada seorang pun yang diizinkan untuk menyambutnya kecuali mereka yang percaya bahwa apa yang kami ajarkan adalah benar, telah dibasuh dengan pembasuhan demi pengampunan dosa dan kelahiran kembali [Baptisan], dan hidup sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Kristus.
Karena kami menerima ini bukan sebagai roti biasa atau minuman biasa. Sama seperti Yesus Kristus Juru Selamat kita yang telah menjadi manusia oleh Firman Allah, serta memiliki daging dan darah demi keselamatan kita, demikianlah kita telah diajarkan: bahwa makanan yang telah diberkati oleh doa dari Firman-Nya—yang melaluinya darah dan daging kita dipelihara melalui pengudusan—adalah Tubuh dan Darah Yesus yang telah menjadi manusia itu.
Sebab para rasul, dalam catatan kenangan yang mereka tulis yang disebut Injil, telah menyampaikan kepada kita apa yang diperintahkan kepada mereka: bahwa Yesus mengambil roti, dan setelah mengucap syukur, berkata, ‘Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Daku, [Lukas 22:19] ini adalah Tubuh-Ku.’ Dan dengan cara yang sama, setelah mengambil cawan dan mengucap syukur, Ia berkata, ‘Ini adalah Darah-Ku,’ dan memberikannya kepada mereka saja.” Dengan demikian jelas, Misa yang kita hadiri setiap Minggu telah ada sejak masa-masa awal kelahiran Gereja. Dalam Ekaristi, kita merayakan ibadah yang sama, iman yang sama, dan misteri surgawi yang sama, yang telah menghidupkan Gereja sejak para Rasul masih berjalan di bumi.
