
PenaKatolik.Com | Suasana penuh haru dan syukur menyelimuti Kapel Rutan Klas IIA Pontianak pada Minggu pagi, 17 Mei 2026.
Di balik tembok tinggi dan jeruji besi yang sering identik dengan hukuman, keterbatasan, dan masa lalu yang kelam, Gereja kembali menyaksikan bahwa rahmat Tuhan tidak pernah berhenti mencari manusia.
Keluarga Dominikan Awam Chapter St. Dominikus Pontianak mengadakan penerimaan anggota baru dan pengucapan Profes Pertama bagi komunitas baru St. Margaret Castello di lingkungan Rutan Klas IIA Pontianak.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Rm. Andrei, OP dan dihadiri Presiden Chapter, Fransiskus Edy.
Meskipun berlangsung sederhana, perayaan itu terasa sangat menyentuh dan penuh makna.
Dalam suasana hening kapel rutan, tampak wajah-wajah yang perlahan belajar bangkit, berharap, dan menyerahkan kembali hidup mereka kepada Tuhan.
Sebanyak empat orang diterima sebagai anggota baru Dominikan Awam, sementara sebelas orang lainnya mengucapkan Profes Pertama sebagai tanda komitmen untuk hidup semakin dekat dengan Tuhan dalam semangat Santo Dominikus.
Momen pengikraran profes menjadi sangat mengharukan karena dilakukan di tempat yang kerap dipandang negatif oleh masyarakat. Namun justru di tempat itulah banyak orang mulai menemukan kembali makna hidup, persaudaraan, dan harapan baru.
Komunitas ini mengambil nama St. Margaret Castello, seorang mistikus Dominikan yang mengalami penolakan dan penderitaan sejak kecil karena keterbatasan fisiknya. Meski demikian, ia tetap hidup dalam sukacita, doa, dan kasih kepada Tuhan. Hidupnya menjadi inspirasi bahwa tidak ada pribadi yang terlalu kecil, terlalu terluka, ataupun terlalu jatuh untuk dikasihi Tuhan.
Perlahan, komunitas ini juga menjadi sumber penghiburan bagi sesama penghuni rutan. Dengan sederhana dan setia, mereka setiap hari mengajak teman-teman berkumpul di kapel rutan untuk mendaraskan doa Rosario bersama setiap pukul 16.00 WIB.
Di tengah kehidupan yang penuh pergulatan, doa Rosario menjadi tempat bersandar, tempat mencurahkan air mata, dan tempat menemukan kembali ketenangan hati. Banyak penghuni rutan mulai belajar berdoa bersama, saling menguatkan, dan menemukan harapan baru melalui kebersamaan tersebut.
Dalam homilinya yang bertema âTetap Milik Tuhanâ, Rm. Andrei mengangkat doa Yesus dalam Injil Yohanes 17:1â11a, khususnya kalimat, âMereka adalah milik-Mu.â
Kalimat itu terasa sangat menyentuh karena Yesus mengatakannya bukan kepada orang-orang sempurna. Para murid masih memiliki kelemahan, ketakutan, dan kebingungan. Bahkan mereka nantinya akan jatuh dan meninggalkan Yesus. Namun demikian, mereka tetap disebut sebagai milik Tuhan.
Pesan itu terasa sangat dekat dengan kehidupan para anggota komunitas di rutan.
âMungkin dunia memberi label: orang gagal, mantan narapidana, atau orang berdosa. Tetapi bagi Tuhan, kalian tetap berharga dan tetap milik-Nya,â ungkapnya dalam homili.
Rm. Andrei juga menegaskan bahwa profesi bukan tanda bahwa seseorang telah sempurna, melainkan keberanian untuk bangkit dan berjalan bersama Tuhan.
âTuhan dimuliakan ketika seseorang yang pernah jatuh memilih berubah. Ketika hati yang putus asa mulai belajar berharap kembali,â katanya.
Suasana menjadi semakin mengharukan ketika para anggota profes pertama mengucapkan janji mereka dengan penuh kesungguhan. Di tengah keterbatasan ruang dan hidup yang tidak mudah, terdengar sebuah harapan sederhana namun kuat: keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan hidup lebih dekat dengan Tuhan.
Perayaan ini menjadi tanda nyata bahwa karya belas kasih Tuhan tetap hidup di mana pun, bahkan di tempat yang sering dianggap paling gelap oleh dunia.
Di balik tembok, rahmat masih bekerja.
Di balik jeruji, harapan masih bernapas.
Dan di balik masa lalu yang pernah gelap, Tuhan masih mampu menyalakan terang baru.*(akurfedop).