PenaKatolik.Com | Perdebatan mengenai posisi adat dan budaya lokal dalam kehidupan beragama masih kerap muncul di tengah masyarakat.
Namun, suasana Misa Syukur Pekan Gawai Dayak (PGD) XL 2026 pada Jumat (15/5/2026) menghadirkan gambaran berbeda Gereja dan budaya Dayak justru dapat berjalan berdampingan dalam harmoni melalui semangat liturgi inkulturatif.
Dalam perayaan tersebut, Uskup Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, menegaskan bahwa nilai-nilai budaya lokal sejatinya mengandung benih-benih sabda Tuhan yang hidup di tengah masyarakat.
Menurutnya, banyak kearifan adat Dayak yang memiliki makna mendalam dan sejalan dengan nilai-nilai Kristiani. Salah satunya tampak dalam hukum adat Dayak terkait penyelesaian persoalan hidup bersama.
“Perkara yang sudah diadatkan tidak boleh diungkit lagi,” katanya, (15/05).
Uskup Pius kemudian menghubungkan filosofi adat tersebut dengan makna pengampunan dalam perayaan Ekaristi.
Bapa Uskup juga mengutip kata-kata konsekrasi dalam misa yang berbicara tentang darah Kristus yang ditumpahkan demi pengampunan dosa manusia.
Baginya, pesan itu mengandung ajakan agar manusia tidak terus-menerus hidup dalam kesalahan dan dendam masa lalu. Setelah pengampunan diberikan, manusia dipanggil untuk memperbarui hidup dan tidak kembali jatuh dalam dosa yang sama.
Pandangan serupa juga disampaikan Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, yang turut hadir dalam misa syukur tersebut.
Sebagai putra Dayak berbahasa Banyadu, ia menilai Gereja Katolik memiliki keterbukaan terhadap kebudayaan lokal dan nilai-nilai luhur yang hidup di tengah masyarakat.
Menurut Uskup Samuel, OFMCap mengatakan bahwa Gereja menerima segala unsur budaya yang baik dan mendukung kehidupan manusia.
Meski demikian, ia mengakui bahwa dalam perjalanan sejarah, terdapat pula aspek-aspek budaya lama yang tidak lagi relevan dan telah ditinggalkan.
“Saya mengajak kita semua untuk terus mengusahakan kebudayaan yang baik dan menyatu dengan Gereja secara utuh,” katanya.
Uskup Samuel OFMCap menilai nilai-nilai seperti kebersamaan, cinta kasih, penghormatan terhadap perempuan, serta penghargaan kepada Allah sebagai Sang Pencipta merupakan bagian penting dari budaya Dayak yang selaras dengan ajaran Gereja.
Menutup sambutannya, Uskup Samuel OFMCap mengingatkan bahwa keberagaman bahasa sub-suku Dayak dalam doa-doa liturgi tidak menjadi penghalang bagi manusia untuk menyampaikan isi hati kepada Tuhan.
Menurutnya, meskipun umat berdoa dengan bahasa yang berbeda-beda, doa yang lahir dari hati nurani yang tulus akan tetap sampai kepada Tuhan dengan sempurna.
Misa Syukur PGD XL 2026 pun menjadi simbol bahwa iman dan budaya tidak harus dipertentangkan. Sebaliknya, keduanya dapat saling memperkaya dan menghadirkan wajah Gereja yang dekat dengan kehidupan masyarakat serta akar budayanya sendiri.*Samuel – Pena Katolik.
