Home NUSANTARA Kasih kepada Tuhan Harus Nyata dalam Sabda, Sesama, dan Salib

Kasih kepada Tuhan Harus Nyata dalam Sabda, Sesama, dan Salib

0

PenaKatolik.Com | Perayaan Ekaristi bersama Societas Sancta Clara di Kapel SSC Kuta, Bali, Sabtu (9/5/2026), berlangsung penuh refleksi. Dalam homilinya, Romo Jhon Seran mengajak oma dan opa untuk memahami makna kasih sejati kepada Tuhan melalui kesetiaan pada sabda, kepedulian terhadap sesama, dan keberanian memikul salib kehidupan.

Mengawali renungannya, Romo Jhon menyampaikan sebuah kisah lucu khas Papua yang dikenal dengan istilah Mopopua. Cerita tersebut berkisah tentang pasangan lanjut usia, Opa Yosef dan Oma Maria, yang mengalami kecelakaan kecil saat mengendarai motor baru mereka.

Alih-alih menolong istrinya lebih dulu setelah terjatuh, Opa Yosef justru buru-buru menegakkan motor yang mereka kendarai. Ketika Oma Maria mempertanyakan apakah suaminya lebih mencintai motor daripada dirinya, Opa Yosef menjawab bahwa istrinya “sudah lunas dibayar”, sedangkan motor itu masih dalam masa kredit.

Kisah humor tersebut mengundang tawa oma dan opa yang hadir, namun di balik itu Romo Jhon menegaskan bahwa cerita sederhana itu menggambarkan dinamika cinta dalam kehidupan manusia.

Dokumentasi Misa Rutin, 9 Mei 2026 – Foto: Koming.

“Kalau cinta dijalani dengan sukacita dan pengertian, perjalanan hidup akan terasa lebih indah meskipun ada tantangan,” ungkapnya.

Dalam homilinya, Romo Jhon menekankan bahwa Injil hari itu berbicara tentang kasih kepada Kristus yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata.

Ia mengutip sabda Yesus, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.”

Menurutnya, kasih kepada Tuhan pertama-tama diwujudkan melalui kecintaan pada sabda Tuhan. Membaca Kitab Suci dan mendengarkan firman Tuhan, kata dia, tidak boleh berhenti pada kebiasaan mengulang ayat-ayat yang menyenangkan hati saja.

“Kasih kepada Tuhan menjadi nyata ketika sabda yang kita dengar mampu mengubah hidup kita,” tegasnya.

Romo Jhon juga mengingatkan bahwa banyak orang mudah mengatakan mencintai Tuhan, tetapi sulit menghidupi firman-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, ia mengajak umat untuk menjadikan sabda Tuhan sebagai pedoman hidup yang nyata.

Selain melalui sabda, kasih kepada Tuhan juga harus diwujudkan lewat kasih kepada sesama. Dalam penjelasannya, Romo Jhon mengutip ajaran Gereja tentang manusia sebagai Imago Dei atau citra Allah.

“Setiap manusia adalah pantulan wajah Allah. Karena itu, mengasihi sesama berarti mengasihi Tuhan sendiri,” ujarnya.

Ia menyebut bahwa sesama bukan hanya keluarga dekat, tetapi juga sahabat, tetangga, rekan kerja, dan semua orang yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Namun demikian, Romo Jhon mengakui bahwa mengasihi sesama sering kali lebih sulit dibandingkan mengasihi Tuhan, karena dalam relasi antarmanusia terdapat ego, luka hati, dan ketidaktulusan.

Dalam renungannya, ia juga menjelaskan makna salib sebagai lambang kasih paling sempurna. Menurutnya, salib menunjukkan totalitas cinta Yesus yang rela menyerahkan seluruh hidup-Nya demi keselamatan manusia.

“Ketika kita melihat salib, kita sebenarnya sedang melihat kasih,” katanya.

Dokumentasi: Misa Rutin setiap tanggal 9. (9 Mei 2026) SSC Kuta Bali, Foto: Koming.

Ia menegaskan bahwa mengasihi Tuhan berarti juga bersedia memikul salib kehidupan, baik dalam bentuk penderitaan, pengorbanan, kesulitan, maupun pergumulan hidup sehari-hari.

“Kasih sejati selalu menuntut pengorbanan. Tidak mungkin seseorang berkata mencintai Tuhan tetapi tidak mau berkorban,” tutur Romo Jhon.

Di akhir homili, Romo Jhon mengajak umat untuk mengukur kualitas iman masing-masing: apakah kasih kepada Tuhan dan sesama sungguh diwujudkan dalam tindakan, atau hanya sebatas ucapan di bibir.

Menurutnya, kesetiaan dalam pengorbanan dan keberanian memikul salib bersama Kristus merupakan jalan menuju kasih yang sejati.

Perayaan misa di Kapel SSC Kuta sore itu berlangsung khidmat dan penuh suasana reflektif. Pesan homili Romo Jhon Seran SVD menjadi pengingat bagi oma dan opa untuk terus membangun relasi kasih dengan Tuhan dan sesama dalam kehidupan sehari-hari.*Samuel – Pena Katolik.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version