PenaKatolik.Com | Ngabang — Bulan Maria di lingkungan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo kampus Ngabang dibuka dalam suasana yang sederhana, hangat, namun penuh rahmat. Sejak pagi hari, umat diajak memulai bulan istimewa ini dengan menyerahkan langkah hidup kepada Bunda Maria—bukan hanya lewat doa, tetapi juga lewat kebersamaan dan harapan.
Perayaan diawali dengan Misa Kudus pagi pukul 07.00 WIB yang diikuti sekitar empat puluh peserta, terdiri dari mahasiswa, dosen, umat sekitar, serta para suster dari Suster Dominikan Beata Imelda, Suster Dominikan Indonesia, dan Suster Dominikan Annunciata.
Kehadiran para suster Dominikan dari berbagai kongregasi memberikan warna tersendiri dalam perayaan tersebut—menghadirkan semangat doa, persaudaraan, dan pewartaan yang menjadi ciri khas spiritualitas Dominikan.
Misa pagi sengaja dipisahkan dari prosesi sore agar umat dapat mengikuti kedua rangkaian kegiatan dengan lebih tenang dan tidak terpusat hanya pada satu acara saja. Dalam keheningan misa pagi itu, terasa bahwa Bulan Maria bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan undangan untuk kembali berjalan bersama Tuhan melalui teladan kesetiaan Bunda Maria.
Namun suasana yang paling membekas justru terjadi pada sore harinya. Sekitar pukul 16.30 WIB, mahasiswa mulai berkumpul di Asrama Rosa de Lima untuk mengikuti prosesi menuju Kapel Bunda Maria Ratu Rosario dari Manaoag.

Banyak mahasiswa hadir setelah menyelesaikan kelas agama yang baru saja berlangsung sebelumnya. Jumlah peserta sore itu jauh lebih banyak dibanding misa pagi, bahkan memenuhi area kapel hingga beberapa peserta tidak lagi mendapatkan tempat duduk.
Awalnya, prosesi hampir dibatalkan. Gerimis turun perlahan sejak sore. Langit tampak mendung dan beberapa orang mulai khawatir perjalanan tidak dapat dilaksanakan. Bahkan sempat muncul rencana untuk mengganti prosesi dengan doa Rosario bersama di dalam asrama saja.
Tetapi tepat ketika keputusan hampir diambil, suasana berubah secara tak terduga. Hujan tiba-tiba berhenti. Langit yang semula gelap perlahan menjadi terang. Udara menjadi tenang.
Banyak peserta spontan tersenyum dan saling memandang penuh syukur—seolah Tuhan sendiri membuka jalan agar umat-Nya tetap dapat berjalan bersama Maria.
Dan prosesi itu pun dimulai. Patung Bunda Maria diarak dari Asrama Rosa de Lima menuju Kapel Bunda Maria Ratu Rosario dari Manaoag dengan nyanyian dan doa Rosario yang mengalun sepanjang perjalanan. Yang indah, hampir seluruh rangkaian prosesi dipimpin sendiri oleh para mahasiswa. Alan bersama teman-temannya memimpin doa, lagu, dan jalannya prosesi dengan penuh semangat dan tanggung jawab.
Beberapa dosen pun ikut bergabung dalam prosesi sore tersebut, berjalan bersama para mahasiswa dalam suasana persaudaraan dan devosi yang hangat. Sementara Romo Petrus CP serta para suster Dominikan memilih mendampingi dengan sederhana—memberi ruang agar kaum muda sendiri berani mengambil bagian aktif dalam kehidupan iman dan pelayanan Gereja.
Di sanalah terasa sesuatu yang sangat hidup: Gereja yang berjalan bersama, Gereja yang memberi ruang kepada kaum muda untuk bertumbuh, memimpin, dan mengalami Tuhan secara nyata.
Setibanya di Kapel Bunda Maria Ratu Rosario dari Manaoag, umat melanjutkan doa bersama dalam suasana hening dan penuh syukur. Perayaan ditutup dengan berkat penutup dari Romo Petrus CP.
Pembukaan Bulan Maria di Ngabang tahun ini mungkin berlangsung sederhana. Tidak megah. Tidak ramai oleh gemerlap acara besar. Namun justru dalam kesederhanaan itulah banyak hati disentuh.
Tentang hujan yang berhenti tepat pada waktunya. Tentang mahasiswa yang berani memimpin doa. Tentang para suster dan dosen yang berjalan bersama kaum muda.
Dan tentang Bunda Maria yang terus mengajarkan bahwa harapan selalu menemukan jalannya.
Sebab terkadang mukjizat hadir bukan dalam hal yang besar dan luar biasa.
Kadang mukjizat itu hadir dalam langit yang tiba-tiba terang… ketika umat Tuhan memutuskan untuk tetap berjalan bersama Maria. *akurtrsaop