ATAMBUA, Pena Katolik – Menghadapi ancaman pemanasan global (global warming) yang kian nyata, Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku mengeluarkan seruan keras kepada seluruh umat dan warga di wilayah Keuskupan Atambua untuk melakukan “tobat ekologi”. Seruan ini mencakup perubahan pola pikir hingga tindakan nyata dalam merawat lingkungan hidup.
Langkah ini diambil sebagai respons atas peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai ancaman kekeringan ekstrem yang diprediksi akan melanda musim tanam tahun 2026.
Dalam pernyataannya pada Minggu, 29 Maret 2026, Mgr. Dominikus menekankan bahwa bumi memiliki keterbatasan sumber daya yang harus dijaga. Menurutnya, tobat ekologi menuntut manusia untuk menata kembali sikap dan tingkah laku terhadap alam.
“Bumi ini hanya satu. Tanah, air, dan segala kekayaan di dalamnya tersedia sangat terbatas. Kita manusia harus tahu membatasi diri dalam mengeksploitasi alam. Kepentingan sesaat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan harus dihentikan,” tegas Uskup Atambua.
Ia mengingatkan bahwa setiap elemen di alam, mulai dari tumbuhan hingga hewan terkecil, memiliki peran penting dalam rantai ekologi. “Termasuk plankton paling kecil pun tidak boleh dihancurkan. Meracuni tanah, menebang pohon, atau membasmi hewan kecil dengan bahan kimia adalah tindakan yang merusak keseimbangan alam,” tambahnya.
Uskup Dominikus juga menyoroti pentingnya transisi menuju energi bersih (clean energy) dan ekonomi hijau (green economy) untuk menekan dampak perubahan iklim. Ia menilai, kerusakan lingkungan sering kali dipicu oleh penggunaan bahan kimia secara masif di sektor pertanian akibat mentalitas “instan” masyarakat.
Penggunaan bahan kimia yang berlebihan di lahan garapan warga tani disebutnya sebagai salah satu bentuk partisipasi dalam perusakan alam. Hal ini, menurut Uskup, harus segera ditinggalkan demi keberlangsungan ekosistem jangka panjang.
Seruan mengenai bahaya pemanasan global ini sebenarnya bukanlah hal baru bagi Keuskupan Atambua. Gereja Katolik setempat tercatat telah konsisten menyuarakan isu lingkungan sejak tahun 2008.
Setelah hampir 16 tahun memberikan peringatan, Mgr. Dominikus berharap momentum tahun 2026 ini menjadi titik balik bagi warga untuk bertindak bijak. Ia mengajak umat tidak hanya melihat alam sebagai objek keuntungan, tetapi sebagai rumah bersama yang harus dirawat agar tidak mewariskan kehancuran bagi generasi mendatang.
