Pena Katolik, Kalbar | Malam pernah begitu panjang di Dusun Sebakuan, Desa Buduk Sempadang, Kecamatan Selakau Timur, Kabupaten Sambas. Gelap datang lebih cepat di sana. Begitu matahari tenggelam, kehidupan perlahan meredup bersama cahaya yang menghilang dari langit. Di dalam rumah-rumah kayu, nyala kecil pelita menjadi satu-satunya penawar malam — berpendar redup, berasap tipis, dan sering kali tak cukup terang untuk mengusir bayangan.
Selama puluhan tahun, itulah yang dikenal Pak Saudi.
Lelaki berusia 82 tahun itu adalah salah satu warga pertama yang menetap di dusun tersebut. Ia menyaksikan hutan berubah menjadi permukiman, anak-anak tumbuh menjadi orang tua, dan zaman berganti pelan. Namun satu hal tak kunjung datang: listrik.
Setiap malam, ia dan keluarganya menyalakan pelita. Api kecil itu dijaga seperti harapan — jangan sampai padam sebelum waktu tidur tiba.
“Dulu pakai pelita saja,” katanya pelan, mengenang masa yang terasa begitu dekat sekaligus jauh.
Lalu, tahun ini, sesuatu berubah.
Lampu listrik menyala di rumahnya.
Bukan sekadar terang, tetapi pengalaman baru yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.

Terang yang Datang di Usia Senja
Pada Sabtu, 4 April 2026, rumah Pak Saudi menjadi salah satu titik kunjungan peninjauan Program Bantuan Pasang Baru Listrik (PBPBL). Anggota DPR RI Franciscus Maria Agustinus Sibarani datang bersama Manager PLN UP3 Singkawang, Made Harry Palguna, untuk melihat langsung bagaimana listrik akhirnya hadir di desa tersebut.
Di balik kunjungan resmi itu, tersimpan cerita yang jauh lebih sunyi, dan cerita tentang seseorang yang menunggu cahaya hampir sepanjang hidupnya.
Pak Saudi berdiri di depan rumahnya ketika rombongan datang, wajahnya tenang, namun tampak dalam arsip foto yang diberikan bahwa matanya menyimpan rasa yang sulit dijelaskan, mungkin antara syukur, tak percaya, atau lega.
Kini, ketika malam tiba, ia (Pak Saudi) tidak lagi bergantung pada nyala api kecil, dan akhirnya sakelar sederhana di dinding rumah cukup untuk menghadirkan terang.
“Sekarang rasanya lebih terang,” ujarnya.
Sederhana sih, tetapi berat oleh pengalaman puluhan tahun hidup dalam keterbatasan.

Janji Negara
Dalam kunjungan hari itu, Sibarani menegaskan bahwa program elektrifikasi menjadi bagian dari komitmen nasional agar seluruh masyarakat Indonesia memiliki akses listrik.
“Presiden Prabowo memiliki program agar seluruh masyarakat Indonesia memperoleh akses listrik seratus persen,” ujarnya.
Sibarani menilai progres pembangunan di wilayah tersebut berjalan cepat dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan, sebagian rumah sudah menikmati listrik sejak bulan Ramadan, memungkinkan masyarakat merasakan langsung manfaatnya.
Namun di desa seperti Buduk Sempadang, listrik tak hanya sekadar proyek pembangunan, lebih jauh bahwa ada pertemuan antara kebijakan negara dan kehidupan nyata warga.
Saat kabel ditarik melintasi ladang dan tiang listrik berdiri di jalan tanah, yang sebenarnya sedang dibangun adalah harapan baru.
Menurut Sibarani, listrik kini bukan lagi kebutuhan tambahan, melainkan kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup masyarakat.
“Listrik hari ini adalah kebutuhan dasar masyarakat. Ini bukan lagi soal pembangunan, tetapi soal keadilan. Negara harus hadir memastikan seluruh rakyat mendapatkan akses energi,” tegasnya.
Ia menyebut, meskipun pemerintah menargetkan elektrifikasi desa mencapai 100 persen, masih terdapat sekitar 15 persen desa di Kalimantan Barat yang belum teraliri listrik secara optimal.
Manager PLN UP3 Singkawang, Made Harry Palguna juga menegaskan kesiapan PLN untuk terus berkolaborasi memperluas pelayanan listrik hingga ke wilayah terpencil.
Bagi masyarakat desa, listrik membuka lebih dari sekadar penerangan, selanjutnya ia juga menghadirkan kemungkinan untuk anak-anak belajar lebih lama, usaha kecil tumbuh, informasi dunia luar masuk tanpa batas.
Kepala Desa Buduk Sempadang, Juanda juga menyampaikan rasa syukur mendalam atas hadirnya listrik yang selama ini dinantikan warga. Ia mengucapkan terima kasih kepada Presiden RI Prabowo Subianto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Anggota DPR RI Franciscus Maria Agustinus Sibarani, serta seluruh pihak yang telah membantu mewujudkan impian masyarakat.
“Sampai akhirnya impian kami benar-benar terwujud,” pungkasnya.
Dari Temaram ke Masa Depan
Di Dusun Sebakuan, malam kini tidak lagi sama. Cahaya lampu memantul di dinding rumah, menerangi halaman, dan membuat desa terasa hidup lebih lama dari sebelumnya. Anak-anak tidak lagi bergegas tidur karena gelap. Suara televisi mulai terdengar dari beberapa rumah dan dunia terasa sedikit lebih dekat.
Bagi Pak Saudi, perubahan ini datang di usia senja — mungkin terlambat bagi sebagian orang, tetapi justru terasa paling bermakna baginya.
Ia duduk di ruang tamu, memandang lampu yang menyala stabil tanpa asap, tanpa bau minyak tanah.
Pelita yang dulu setia menemaninya kini menjadi artefak dari salah satu kisah tentang ‘kebijakan’ yang berpihak pada orang kecil.
Di tengah terang yang baru itu, ada perasaan yang sulit diucapkan dengan kata-kata, bahwa akhirnya, setelah perjalanan hidup yang panjang, cahaya benar-benar sampai ke rumahnya.*S.



