Home BERITA TERKINI Seminari Menengah Maria Nirmala: Dari Bekas Kandang Sapi Menjadi Rumah Pendidikan Calon...

Seminari Menengah Maria Nirmala: Dari Bekas Kandang Sapi Menjadi Rumah Pendidikan Calon Imam di Padang

0

PADANG, Pena Katolik – Perjalanan Seminari Menengah Maria Nirmala Padang, Sumatra Barat telah melintasi zaman. Berdiri di bekas kendang sapi, seminari ini melewati masa pra kemerdekaan Indonesia. Sempat dipindah, ditutup, dan dibuka kembali, Seminari Menengah Maria Nirmala menjadi bukti bahwa panggilan, pembinaan calon imam, dan perjalanan iman adalah garis misteri di Tuhan sendiri yang menuliskannya.

Seminari Menengah Maria Nirmala berada di Jalan Sudirman, Kota Padang, Sumatra Barat. Gagasan untuk mendirikan seminari di Padang diretas Mgr. Mathias Leonardus Trudon Brans, OFMCap (23 November 1879 – 12 Desember 1969).

Seminari Menengah Maria Nirmala pertama kali dibuka pada 1 September 1950. Seminari sempat dipindah ke Medan, dan di Pematang Siantar. Seminari Menengah Maria Nirmala sempat beridiri lagi di Padang pada 1961 namun ditutup kembali pada 1989. Setelah vakum lebih dari tiga dekade, Seminari Menengah Maria Nirmala dibuka kembali pada pada 2 Agustus 2022, selang dua tahun setelah Keuskupan Padang memiliki uskup baru.

Sejarah Panjang

Akar sejarahnya bermula jauh sebelum kemerdekaan, wilayah Padang dan sekitarnya menjadi pusat misi Ordo Kapusin (Ordo Fratrum Monorum Capuccinorum/OFMCap). Pada 30 Juni 1911, Prefektur Apostolik Sumatra terbentuk, sebagai wilayah gerejawi yang terpisah dari Vikariat Apostolik Batavia. Wilayah gerejawi ini berpusat di Padang di bawah pimpinan Pastor Liberatus Cluts OFM Cap, sebgai Prefek Apostolik.

Di bawah kepemimpinan Pastor Cluts, pada masa Hindia Belanda tahun 1916, para pastor Kapusin mulai membangun kompleks asrama dan panti asuhan bagi anak-anak yatim piatu di Padang.

Kehidupan misi saat itu begitu mandiri, di mana para pastor mengelola peternakan sapi dan pabrik susu untuk menghidupi panti asuhan tersebut. Dari hasil ternak ini, mereka membantu para yatim piatu untuk meraih mimpi mereka.

Vatikan meningkatkan status Perfektur Apostolik Padang menjadi Vikariat Apostolik pada tanggal 18 Juli 1932 dan mengangkat Mgr. Mathias Leonardus Trudon Brans, OFMCap sebagai Vikaris Apostolik. Tak sampai di situ, Vatikan memindahkan pusat Vikariat Apostolik Padang ke Medan sehingga Namanya pun berubah menjadi Vikariat Apostolik Medan. Situasi ini mengharuskan Mgr. Brans harus ikut pindah ke Medan, meski baru terlaksana pada tahun 1946, karena pada masa Jepang, Mgr. Brans ikut ditahan oleh Jepang di Bangkinang. Alhasil, panti asuhan yang sebelumnya dirintis dan dibangun para Imam Kapusin pun tutup dan terbengkalai pada masa pendudukan Jepang.

Pada waktu itu, wilayah pastoral di Padang tidak begitu menggebirakan dalam hal perkembangan misi, situasi ini berbeda dengan situasi di Medan, yang berkembang lebih cepat. Namun, di wilayah Sumatra, saat itu belum memiliki seminari sebagai rumah pendidikan para calon imam. Imam yang berkarya di wilayah Sumatra semua berasal dari misionaris Eropa.

Awal Seminari

Ketika panti asuhan di Padan ditutup, tempat ini menyisakan gedung yang terbengkalai. Situasi ini bertahan selama pendudukan Jepang dan revolusi fisik (Agresi Militer Belanda).

Pada September 1949, Mgr. Brans mulai menggagas pembentukan seminari. Namun mengingat akar kelahiran Vikariat Apostolik Medan yang awalnya ada di Padang, ia berkeinginan mendirikan rumah pendidikan calon imam ini di Padang. Saat itu, gedung bekas panti asuhan di Padang sudah nyaris roboh karena terbengkalai sekian tahun. Di sinilah, Mgr. Brans memulai mendirikan seminari menengah di bekas panti asuhan yang berdiri di atas bekas kendang sapi.

Seminari akhirnya resmi dibuka pada 1 September 1950. Pada angkatan pertama, sebanyak 20 murid yang mayoritas berasal dari wilayah Sumatra Utara mulai meniti panggilan di tempat ini dengan kurikulum yang menitikberatkan pada Bahasa Latin sebagai persiapan menuju Seminari Tinggi. Mereka terdiri dari 16 asal Tapanulli, dua asal Simalungun, dan dua asal dari Tanah Karo.

Mgr. Brans tetap menjalankan inisiatifnya ini, terutama karena ada dukungan dari Nunsio Apostolik Saat itu, Mgr. de Jonghe d’Ardoye. Bukan tanpa tantangan, gagasan Mgr. Brans mendapat kritik dari para imam yang berpendapat bahwa pendirian seminari ini masih prematur, mengingat perkembangan misi di wilayah itu yang masih lambat, juga karena situasi pasca kemerdekaan yang belum setabil.

Dua formator pertama adalah Pastor Bernardinus van de Laar OFMCap dan Pastor Wendelinus Willems OFMCap. Mereka menggantikan Pastor Nivardus Ansems OFMCap yang awalnya dibebani dengan tugas memulai persiapan pendirian seminari ini. Pastor Ansems adalah ahli Kitab Suci, tamatan Universitas Biblicum di Roma. Rencana ini urung karena secara mendadak Pastor Ansems meninggal, tanggal 23 April 1950.

Pastor van de Laar dan Pastor Willems adalah imam tentera yang pada waktu itu bahkan tidak berpengalaman di bidang sekolah. Sehingga, keduanya berpedoman pada pendidikan religius yang mereka dapatkan dan alami selama masa pendidikan di seminari menengah di Belanda. Seminari ini mempersiapkan muridnya untuk Seminari Tinggi dan menjadi imam. Bahasa Latin menjadi mata pelajaran utama.

“Mati” dan Hidup Lagi

Pada tahun 1951, Kongregasi Propaganda Fidei di Roma bahwa daerah Sumatera Barat akan dipisahkan dari wilayah Vikariat Apostolik Medan. Konsekuensinya, di wilayah Sumatra Barat akan didirikan Praefektur Apostolik Padang. Perubahan ini sepenuhnya terwujud saat Prefektur Apostolik Padang resmi berdiri pada tanggal 19 Juni 1952.

Konsekuensi lanjutan dari perubahan ini, seminari menengah yang tadinya ada di Medan harus pindah ke wilayah pastoral Vikariat Apostolik Medan, atau ke wilayah Sumatera Utara. Mula-mula diusulkan Brastagi. Akhirnya diputuskan bahwa Pematangsiantar tempat yang paling sesuai. Berkat relasi yang baik dengan pemerintah kota Pematangsiantar, Keuskupan Medan berhasil membeli sebidang tanah seluas 8 hektar di Jalan Lapangan Bola Atas.

Seminari di Padang hanya berjalan kurang dari tiga tahun dan pindah dari Padang ke Pematang Siantar, dan dari saat itu seminari ini kemudian berkembang menjadi Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematang Siantar.

Ketika wilayah Sumatra Barat telah menjadi Prefektur Apostolik Padang, pelayanan misi dipegang oleh para imam Serikat Xaverian (Societas Xaveriana/SX). Saat itu, Paus menunjuk Pastor Pascal de Martino SX menjadi Prefek Apostolik. Prefektur Apostolik Padang ditingkatkan statusnya menjadi Keuskupan Padang pada tahun 3 Januari 1961, di saat bersamaan, Pastor Martino wafat. Paus lalu mengangkaat Mgr. Raimondo Cesare Bergamin SX sebagai Uskup Padang dan ditahbiskan pada 6 Januari 1962.

Ketika Keuskupan Padang berdiri, pendidikan di Seminari di Padang sudah terhenti. Maka para imam Serikat Xaverian kemudian kembali menerima siswa untuk belajar di seminari di tempat yang sama bekas panti asuhan yang siswanya sudah pindah ke Pematang Siantar. Seminari di Padang ini dibuka kembali dengan Pastor Aldo La Ruffa SX sebagai rektornya. Di sinilah, perjalanan Seminari Menengah Maria Nirmala “hidup” kembali.

Pastor La Ruffa adalah misionaris Xaverian kelahiran Spanyol. Ia memimpin Seminari Menengah maria Nirmala sampai tahun 1979. Ia kemudian digantikan Pastor Frans Halim, mantan siswa di Seminari Menengah Maria hingga 1985. Namun, pendidikan calon imam di seminari ini lalu terhenti pada 1989.

Seminari Menengah Maria Nirmala dibuka kembali pada 2 Agutus 2022 yang dibuka Uskup Padang Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX, uskup baru saja ditahbiskan setahun sebelumnya.

Kesan yang Masih Kuat

Kenangan manis dituturkan oleh para alumni, Pastor Bernard Lie adalah imam Keuskupan Padang yang masuk Seminari Menengah Maria Nirmala pada tahun 1973. Ia mengingat betapa gembiranya para seminaris menyaksikan karnaval 17 Agustus dari lantai atas gedung seminari—sebuah simbol kedekatan gereja dengan kegembiraan nasional.

Alumni Seminari Menengah Maria Nirmala ini juga termasuk Uskup Agung Medan, Mgr. Pius Datubara OFMCap. Ia merupakan angkatan-angkatan awal yang masih merasakan menjalani pendidikan di Padang sebelum dipindah ke Pematang Siantar.

Saat peresmian dimulainya kembali pendidikan di Seminari Menengah Maria Nirmala empat tahun lalu, Mgr. Vitus menyampaikan mengapa memilih Padang sebagai lokasi seminari. Ia mengatakan, pembukaan seminari ini ingin menunjukkan hospitalitas iman Katolik. Mgr. Vitus meyakini banyak orang muda yang mencari panggilan dan akan menemukannya di tempat ini.

“Di tempat di mana orang bicara tentang sikap intoleran, hostilitas, permusuhan, kita ingin bicara hospitalitas, keramahan keterbukaan,” ujar Mgr. Vitus.

Dalam pernyataannya di Majalah Gema, Mgr. Vitus mengatakan, dahulu dengan kondisi minim, Seminari Nirmala begitu dibanggakan oleh Mgr. Pius Datubara OFMCap. Ia merasa malu kalau saat ini membiarkan warisan sejarah yang indah itu dibiarkan terbengkalai.

“Saya mengajak banyak anak muda kita di Keuskupan Padang ini yang masih berani untuk ‘bermimpi’ merelakan diri menjadi pelayan-pelayan Gereja di masa depan. Marilah kita sambut panggilan dari Tuhan untuk bangkit dan keluar dari bayang-bayang kecemasan dan ketidakpastian di masa depan dengan menanggapi undangan-Nya untuk menjadi ‘penjala manusia’,” ujarnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version