Senin, April 6, 2026

Pada Momen Paskah, Kardinal Suharyo Menegaskan bahwa Gereja Katolik Menentang Keras Perang di Asia Barat

JAKARTA, Pena Katolik – Uskup Agung Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo, menyampaikan pesan mendalam mengenai krisis kemanusiaan di Asia Barat dalam perayaan Misa Pontifikal Hari Raya Paskah di Gereja Katedral Jakarta, Minggu (5/4/2026). Dalam keterangannya, Kardinal Suharyo menegaskan posisi Gereja Katolik yang menentang keras peperangan, menyusul konflik yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran sejak akhir Februari lalu.

Kardinal Suharyo mengutip pesan kuat dari Paus Leo XIV yang disampaikan pada Minggu Palma pekan lalu. Pesan tersebut ditujukan langsung kepada para pemimpin dunia yang memicu konflik bersenjata.

“Dengan kata-kata yang sangat keras mengenai perang, beliau (Paus Leo XIV) mengatakan: ‘Doa para pemimpin yang memaklumkan perang tidak akan didengarkan oleh Tuhan’,” ujar Kardinal Suharyo mengutip pernyataan pemimpin umat Katolik dunia tersebut.

Kardinal Suharyo mengenang kembali pidato perdana Paus Leo XIV pada Mei 2025 di Basilika Santo Petrus, di mana kalimat pertamanya adalah doa untuk perdamaian. Namun, meski aspirasi perdamaian terus disuarakan, konflik bersenjata justru meluas dan memasuki bulan kedua tepat di hari raya Paskah ini. Menurutnya, meskipun pemimpin Gereja tidak memiliki instrumen persenjataan untuk menghentikan rudal dan peluru, Gereja memiliki senjata yang jauh lebih mendasar.

“Yang beliau punya, yang Gereja punya adalah keteguhan moral sebagai implikasi dari iman,” tuturnya.

Kardinal Suharyo menilai perang di Asia Barat bukan hanya sekadar konflik politik, melainkan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membawa dampak buruk bagi kemanusiaan serta ekologi bumi.

Pesan senada sebelumnya disampaikan Paus Leo XIV di hadapan puluhan ribu umat di Lapangan Santo Petrus. Sebagai Paus pertama asal Amerika Serikat, Leo XIV mengambil sikap yang sangat tegas dengan mengkritik kebijakan negaranya sendiri serta sekutunya.

Paus menegaskan bahwa nama Yesus tidak boleh digunakan untuk membenarkan agresi militer. Ia mengutip ayat Alkitab untuk menunjukkan penolakan Tuhan terhadap mereka yang memiliki “tangan penuh darah”.

“Yesus, Raja Damai, menolak perang. Ia tidak mendengarkan doa-doa mereka yang berperang,” tegas Paus Leo dalam pidatonya yang dikutip kembali di Jakarta.

Meski harapan Paus agar perang berakhir sebelum Paskah tidak terwujud akibat “kekuatan kegelapan” dari pemimpin yang gelap mata, Kardinal Suharyo mengajak umat untuk tidak kehilangan harapan.

“Saya yakin di tengah-tengah kegelapan itu selalu ada, kalaupun bukan terang besar, tetapi lilin kecil yang menerangi kemanusiaan,” tutup Kardinal Suharyo di akhir keterangannya.

Melalui momentum Paskah 2026 ini, Gereja Katolik Indonesia mengajak seluruh umat untuk terus mendoakan terciptanya perdamaian dunia dan tetap menjadi saksi kebenaran di tengah situasi global yang tidak menentu.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini