TIMIKA, Pena Katolik – Perayaan Malam Paskah di Timika pada Sabtu (04/04/2026) menjadi momentum refleksi mendalam bagi umat Katolik. Dalam homilinya yang tegas, Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, menyoroti dua luka besar yang tengah menyayat Indonesia, khususnya Tanah Papua: kejahatan kemanusiaan dan kerusakan lingkungan hidup.
pan ribuan umat, Mgr. Bernardus mengungkapkan keprihatinan mendalam atas konflik bersenjata yang tak kunjung usai di Papua. Beliau menekankan bahwa berita kematian telah menjadi konsumsi harian dari Merauke hingga Sorong, menyasar semua kalangan mulai dari anak-anak hingga lansia. Menurutnya, perayaan Paskah akan kehilangan esensinya jika hanya menjadi seremonial tanpa upaya nyata mengakhiri kekerasan.
“Konflik ideologi ‘NKRI Harga Mati’ dan ‘Merdeka Harga Mati’ telah mengorbankan ribuan nyawa, baik rakyat sipil, warga asli Papua, hingga militer. Memangnya tidak ada dialog? Memangnya hati manusia itu binatang?” ujar Mgr. Bernardus dengan nada getir.
Ia secara khusus menyinggung tragedi penembakan warga sipil di Dogiyai yang menewaskan seorang lansia dan remaja sebagai bentuk pelanggaran kemanusiaan yang tidak dapat dibenarkan.
Sebagai solusi konkret, Mgr. Bernardus menyerukan agar Presiden Prabowo Subianto beserta jajaran pemerintah pusat hingga daerah, duduk bersama dengan kelompok TPNPB untuk memulai dialog damai. Ia bahkan mengusulkan kehadiran pihak ketiga, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), guna memastikan penyelesaian konflik yang bermartabat.
“Martabat manusia adalah citra Allah (Imago Dei), wajah Kristus. Bukan binatang,” tegasnya, mengingatkan bahwa setiap nyawa yang hilang adalah kehilangan besar bagi kemanusiaan.
Selain isu keamanan, Mgr. Bernardus melontarkan kritik tajam terhadap kerusakan lingkungan akibat eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) yang berlebihan. Ia menuding kelompok oligarki telah menjadikan negara sebagai alat untuk memuluskan kepentingan pribadi melalui kebijakan yang merusak hutan dan mengabaikan hak masyarakat adat.
Ia merujuk pada ancaman nyata yang dihadapi masyarakat di pulau-pulau kecil Maluku dan Papua akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit serta pertambangan. Ia mengingatkan agar kerusakan lingkungan di Sumatera menjadi pelajaran pahit yang tidak boleh terulang di Timur Indonesia.
Uskup mendesak para pelaku usaha yang dinilai rakus untuk segera bertobat. Pulau-pulau kecil harus dibiarkan asri demi menjaga keindahan ciptaan Tuhan, bukan dihancurkan demi profit semata.
Mgr. Bernardus mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemangku kebijakan untuk menjadikan Paskah 2026 sebagai titik balik. Perayaan kebangkitan Kristus harus diwujudkan melalui perjuangan nyata demi perdamaian, keadilan bagi rakyat kecil, dan kelestarian alam ciptaan Tuhan.




