Pena Katolik, Pontianak — Perayaan Kamis Putih menjadi momentum penting bagi umat Katolik untuk kembali merenungkan makna terdalam Ekaristi dan pelayanan. Dalam refleksi yang disampaikan oleh RD. Tjhen Hendra, S.S., M.Ak, Wakil Rektor II Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, umat diajak untuk memahami Kamis Putih bukan sekadar peringatan liturgis, melainkan fondasi iman yang hidup.
Mengawali renungannya, Romo Tjhen menyampaikan salam damai kepada umat dan menegaskan bahwa peristiwa Perjamuan Malam Terakhir menjadi dasar ditetapkannya Sakramen Ekaristi sekaligus teladan pelayanan kasih.
“Peristiwa perjamuan malam terakhir antara Yesus dan para murid adalah dasar dari ditetapkannya sakramen Ekaristi dan teladan pelayanan cinta kasih,” ujarnya dalam kanal Youtube San Agustin TV (02/04/2026).
Ia menjelaskan bahwa dalam perjamuan tersebut, Yesus mempersembahkan diri-Nya sebagai roti dan anggur, sekaligus sebagai imam dan kurban. Peristiwa itu, menurutnya, merupakan warisan iman yang terus dihidupi Gereja sepanjang masa.
Menurut Romo Tjhen, terdapat dua hal utama yang patut direnungkan dalam perayaan Kamis Putih, yakni peristiwa pembasuhan kaki dan penetapan Sakramen Ekaristi.
Teladan Kerendahan Hati
Ia menerangkan bahwa dalam tradisi Yunani kuno, pembasuhan kaki merupakan tugas seorang budak dan dipandang sebagai pekerjaan hina. Namun Yesus justru melakukan tindakan tersebut kepada para murid-Nya sebagai simbol penyerahan diri, pembersihan, pengampunan, dan pembaruan kemuridan.
“Yesus rela menjadi hamba untuk melayani, bukan untuk mencari nama dan sensasi, bukan untuk dikagumi, bukan juga untuk pamer atau sekadar pencitraan,” tegasnya.
Menurutnya, tindakan Yesus tersebut menjadi “tamparan kasih” bagi dunia modern yang cenderung individualistis. Ketika banyak orang berlomba mengejar jabatan dan kehormatan, Yesus justru memilih turun dan merendahkan diri.
Romo Tjhen menuturkan bahwa Yesus menunjukkan kepemimpinan yang berbeda dari logika dunia. Ia memimpin dengan melayani, bahkan rela menjadi hina di mata manusia demi menyelamatkan umat dari dosa.
Secara tidak langsung ia mengingatkan bahwa umat pun dipanggil untuk berani menanggalkan kesombongan, kuasa, dan ambisi pribadi demi menjadi pelayan bagi sesama, terutama bagi mereka yang kecil dan menderita.
Ekaristi sebagai Mandat Hidup
Hal kedua yang ditekankan adalah makna Sakramen Ekaristi. Ia menjelaskan bahwa Ekaristi merupakan penyerahan diri Yesus yang sempurna—tubuh dan darah-Nya diberikan sebagai santapan rohani bagi para rasul dan umat sepanjang zaman.
“Ekaristi tidak hanya memberikan kita kenangan untuk dikenang, tetapi Ekaristi adalah mandat,” katanya.
Ia mengutip sabda Yesus, “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku,” yang menurutnya mengandung panggilan bagi setiap orang beriman untuk menjadi “Ekaristi yang hidup”, yakni pribadi yang rela dipecah dan dibagikan demi kehidupan sesama.
Romo Tjhen menegaskan bahwa menghadiri misa bukanlah sekadar memenuhi kewajiban ritual. Merayakan Ekaristi berarti ambil bagian dalam karya penyelamatan Kristus serta terdorong hidup dalam kebenaran dan kasih.
Ia juga menyampaikan bahwa Ekaristi mendorong umat untuk membangun hidup komuniter sebagai satu tubuh mistik Kristus, saling memperhatikan, bersatu dalam kasih, dan hidup dalam pengampunan.
Undangan di Tengah Krisis Dunia
Dalam refleksinya, Romo Tjhen menyinggung situasi dunia yang tengah mengalami krisis kepercayaan, ketidakadilan sosial, dan polarisasi. Menurutnya, Kamis Putih menjadi undangan untuk kembali pada dasar iman, yakni Ekaristi dan pelayanan.
Ia menekankan bahwa tanpa pelayanan, Ekaristi dapat tereduksi menjadi ritual belaka. Sebaliknya, tanpa Ekaristi, pelayanan akan kehilangan sumber kasih sejati.
Lebih lanjut ia menyebut Kamis Putih sebagai awal Jalan Salib, namun bukan jalan penderitaan tanpa harapan.
“Ini bukanlah akhir. Ini adalah awal dari cinta Tuhan yang tidak pernah mati,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa sebelum salib ditegakkan, cinta Tuhan telah lebih dahulu dihadirkan dalam roti dan air pembasuh kaki. Hal itu menjadi kekuatan agar umat tidak kehilangan arah ketika menghadapi “malam-malam gelap” kehidupan, seperti yang dialami Yesus di Taman Getsemani.
Menutup renungannya, Romo Tjhen mengajak umat untuk berdoa agar rahmat Ekaristi memampukan setiap orang beriman untuk berani merendahkan diri, menjadi pelayan, dan rela berkorban bagi sesama.
“Semoga rahmat Ekaristi memampukan kita untuk berani menjadi hamba yang rela dipecah dan dihancurkan bagi semua orang,” tutupnya.
Perayaan Kamis Putih dengan demikian tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian Pekan Suci, tetapi juga pengingat bahwa kasih sejati selalu diwujudkan dalam kerendahan hati dan pelayanan tanpa pamrih. *Sam (Sumber: Youtube San Agustin TV)




