MERAUKE, Pena Katolik – Peran Bunda Maria sangat krusial dalam Gereja Katolik, di mana peristiwa Natal dan Paskah tidak dapat dipisahkan dari makna Hari Raya Kabar Sukacita, 25 Maret 2026. Dalam khotbahnya di Paroki Sang Penebus Merauke, Romo Anthonius Kaseger, MSC, menegaskan bahwa Bunda Maria adalah pribadi yang sangat pantas untuk selalu dihormati dan diteladani. Ia menekankan bahwa Maria memiliki kualitas relasi yang luar biasa dengan Allah sehingga terpilih untuk mengandung serta melahirkan Yesus.
Romo Anthon menjelaskan bahwa Allah tidak sembarangan memilih orang untuk menghadirkan Putra-Nya ke dunia, melainkan memilih yang terbaik. Selain relasi, Maria juga memiliki kepercayaan yang sangat besar pada Sabda Allah yang diterima melalui Malaikat Gabriel. Kesadaran bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah membuat Maria berani berseru, “Fiat mihi secundum verbum tuum” atau terjadilah padaku menurut perkataan-mu.
Kepercayaan ini menunjukkan totalitas ketaatan, keberanian, dan penyerahan diri Bunda Maria dalam tugas perutusannya. Oleh karena itu, Pastor Paroki Sang Penebus ini mengajak umat untuk terus menjalin relasi yang baik dengan Tuhan melalui Ekaristi dan doa. Dengan kualitas relasi yang baik, diharapkan umat menjadi pribadi yang layak menerima berkat dari Allah meskipun tidak sebesar yang diterima Bunda Maria.
Romo juga menyoroti “budaya instan” di mana banyak orang ingin mendapatkan berkat terbaik dengan cara mudah, namun enggan hidup dalam Tuhan. Beliau mengajak umat untuk sungguh-sungguh percaya kepada Allah agar berani menerima tanggung jawab dalam tugas perutusan masing-masing. Hal ini sesuai dengan Panca Perutusan Gereja, yaitu Liturgia, Koinonia, Kerygma, Diakonia, dan Martyria.
Di akhir khotbahnya, Romo Anthon memberikan penegasan bahwa sangat kurang tepat dan berbahaya jika seseorang rajin berdevosi kepada Bunda Maria tetapi jarang pergi ke gereja. Hari Raya Kabar Sukacita seharusnya memperkuat iman umat untuk semakin rajin merayakan Ekaristi karena melalui Marialah kita sampai pada Kristus. Beliau kembali menegaskan prinsipnya bahwa orang Katolik tanpa Ekaristi bagaikan tubuh tanpa jiwa.
“Adalah kurang tepat dan berbahaya jika orang rajin berdoa melalui Bunda Maria tetapi tidak pernah menginjakkan kaki di gereja,” katanya.
Senada dengan hal tersebut, Sri Mukalib selaku tokoh senior WKRI dan Kepala Pusdiklat Merauke merefleksikan Bunda Maria sebagai pintu masuk dalam merayakan Natal. Maria adalah sosok ibu yang terpilih untuk memelihara bayi Yesus dalam kandungannya sehingga sangat layak disebut sebagai Ibu Tuhan. Sebagai warga Katolik, penghormatan kepada Bunda Maria merupakan wujud penghargaan atas kepatuhannya pada kehendak Allah.
“Sebagai warga katolik menghormati Bunda Maria karena patuh pada kehendak Allah,” katanya. (Agapitus Batbual/Merauke)




