Kamis, Maret 26, 2026

Bacaan dan Renungan Rabu 1 April 2026 – RABU DALAM PEKAN SUCI (Ungu)

Bacaan I: Yes 50:4-9a

TUHAN Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataanku aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu.

Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan Allah telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.

Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku.

Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. Tetapi Tuhan Allah menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda.

Maka aku meneguhkan hatiku seperti teguhnya gunung batu, karena aku tahu bahwa aku aku tidak akan mendapat malu.

Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Marilah kita tampil bersama-sama! Siapakah lawanku beperkara?

Biarlah ia mendekat kepadaku! Sungguh, Tuhan Allah menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah?

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

Mazmur Tanggapan: Mzm 69:8-10.21bcd-22.31.33-34

Ref. Demi kasih setia-Mu yang besar, ya Tuhan, jawablah aku pada waktu Engkau berkenan.

  • Karena Engkaulah ya Tuhan, aku menanggung cela, karena Engkaulah noda meliputi mukaku. Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, menjadi orang asing bagi anak-anak ibuku; sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku.
  • Cela itu telah mematahkan hatiku, dan aku putus asa; aku menantikan belaskasihan, tetapi sia-sia, dan waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam.
  • Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan lagu syukur; Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; biarlah hatimu hidup kembali, hai kamu yang mencari Allah! Sebab Tuhan mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya yang ada dalam tahanan.

Bacaan Injil: Mat 26:14-25

Sekali peristiwa, pergilah seorang dari keduabelas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala.

Ia berkata, “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya.

Dan mulai saat itu Yudas mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus. Pada hari pertama dari hari raya Roti Tak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata, “Di manakah Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?

Jawab Yesus, “Pergilah ke kota, kepada Si Anu, dan katakan kepadanya: Beginilah pesan Guru: Waktu-Ku hamper tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.”

Lalu murid-murid melakukan seperti apa yang ditugaskan Yesus kepada mereka, dan mempersiapkan Paskah. Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama dengan keduabelas murid itu.

Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.”

Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya, “Bukan aku, ya Tuhan?” Yesus menjawab, “Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku.

Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan!

Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan!” Yudas, yang hendak menyerahkan Yesus itu menyahut, “Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya, “Engkau telah mengatakannya.”

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

***

Retaknya Kesetiaan di Meja Perjamuan

Yudas Iskariot, salah satu dari dua belas murid yang dipilih langsung oleh Yesus, pergi menemui imam-imam kepala dan bertanya, “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Harga seorang Guru, Sang Mesias, ternyata hanya dinilai sebesar tiga puluh uang perak—harga yang sama untuk seorang budak pada masa itu.

Seringkali kita memandang Yudas sebagai sosok yang sangat jahat dan jauh dari diri kita. Namun, jika kita merenung lebih dalam, drama pengkhianatan ini sebenarnya adalah cermin dari kerapuhan manusiawi kita sendiri. Pengkhianatan tidak selalu dimulai dengan langkah besar; ia dimulai dari retakan-retakan kecil di dalam hati: kekecewaan karena Tuhan tidak menuruti kemauan kita, keserakahan yang terselubung, atau prioritas duniawi yang perlahan menggeser kasih kepada Kristus.

Di meja perjamuan, Yesus berkata dengan sangat tenang namun menyayat hati, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Reaksi para murid sangat menarik; mereka tidak saling menuduh, melainkan bertanya, “Bukan aku, ya Tuhan?” Pertanyaan ini menunjukkan bahwa setiap murid menyadari potensi kegelapan di dalam diri mereka. Mereka tahu bahwa meskipun mereka mencintai Yesus, mereka adalah manusia yang lemah.

Namun, yang membedakan Yudas dari murid lainnya bukan hanya tindakannya, melainkan penolakannya untuk bertobat. Bahkan saat Yesus memberi peringatan keras tentang celakanya orang yang menyerahkan Anak Manusia, Yudas tetap melanjutkan sandiwaranya dengan bertanya, “Bukan aku, ya Rabi?” Yesus menjawab, “Engkau telah mengatakannya.” Di sini, Yesus memberikan kesempatan terakhir bagi Yudas untuk berbalik, namun hati Yudas sudah tertutup oleh ambisi dan ego.

Renungan ini mengajak kita untuk memeriksa “tiga puluh uang perak” di dalam hidup kita. Apa yang seringkali membuat kita menjual kesetiaan kita kepada Kristus? Apakah itu kenyamanan, jabatan, atau kebencian? Di masa Prapaskah ini, kita diundang untuk datang ke meja perjamuan-Nya bukan dengan topeng kesalehan, melainkan dengan kejujuran hati. Jangan biarkan retakan kesetiaan kita menjadi jurang pemisah yang permanen. Mari kita berani berkata, “Tuhan, aku lemah, jagalah aku agar tidak mengkhianati-Mu.”

Doa Penutup

Tuhan Yesus Kristus, Sang Kasih yang Setia, kami bersyukur karena Engkau tetap mengasihi kami meski Engkau tahu betapa rapuhnya kesetiaan kami. Ampunilah kami jika seringkali kami menyerahkan Engkau demi kesenangan sesaat, materi, atau ego kami sendiri. Terangi kegelapan hati kami agar kami tidak menjadi tuli terhadap sapaan-Mu yang memanggil kami untuk bertobat. Curahkanlah Roh Kudus-Mu supaya dalam kelemahan, kami tetap berpaut pada salib-Mu dan tidak membiarkan diri kami dikuasai oleh keputusasaan atau pengkhianatan. Biarlah hati kami senantiasa menjadi tempat persemayaman yang layak bagi-Mu, kini dan sepanjang masa. Amin.

***

Beato Nonius Alvares Pereira

Di tengah gemuruh sejarah Portugal abad ke-14, nama Nonius Alvares Pereira bersinar layaknya pedang yang terhunus. Lahir di Santares pada 24 Juli 1360, ia bukan sekadar bangsawan biasa; ia adalah sepupu dari pendiri keluarga Braganza yang termahsyur. Sebagai Konstabel Kerajaan Portugal dan ksatria ternama dalam Ordo Santo Yohanes dari Yerusalem, dunianya dipenuhi dengan takhta, strategi perang, dan kehormatan militer.

Namun, di balik baju zirah yang kuat itu, bergetar hati yang merindukan sesuatu yang jauh lebih abadi daripada kemenangan di medan laga.

Pada titik balik hidupnya yang luar biasa, Nonius mengambil keputusan yang mengejutkan seisi kerajaan. Ia menanggalkan gelar kebangsawanannya, meletakkan pedangnya, dan meninggalkan segala kemewahan duniawi. Ia memilih untuk masuk ke Ordo Karmelit sebagai seorang saudara awam (lay-brother).

Perubahan ini bukanlah sekadar pensiun, melainkan sebuah transformasi spiritual yang radikal. Pria yang dulunya memerintah pasukan ini kini dengan sukacita melakukan tugas-tugas paling rendah di dalam biara. Tanpa rasa ragu atau malu, ia berjalan dari pintu ke pintu untuk mengemis sedekah demi membantu mereka yang kelaparan. Hidupnya berpusat pada kasih yang luar biasa kepada Bunda Maria, yang menjadi kompas dalam kesunyian biara.

Nonius Alvares Pereira membuktikan bahwa kepahlawanan sejati tidak ditemukan dalam penaklukan wilayah, melainkan dalam penaklukan diri sendiri. Ia menutup usia pada 1 April 1431, tepat pada hari Minggu Paskah—sebuah simbol indah dari kebangkitan jiwanya menuju kemuliaan surgawi setelah menjalani hidup yang penuh pengorbanan dan amal kasih bagi kaum miskin.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini