VATIKAN, Pena katolik – Di tengah eskalasi konflik yang kian mengkhawatirkan di Timur Tengah, Presiden Palestina Mahmoud Abbas melakukan pembicaraan telepon dengan Paus Leo XIV pada Senin pagi, 16 Maret 2026. Komunikasi diplomatik ini terjadi saat serangan Israel-Amerika di Iran memasuki minggu ketiga, yang membawa dampak besar pada peta stabilitas kawasan.
Kantor Pers Vatikan melaporkan bahwa pembicaraan kedua pemimpin tersebut berfokus pada “perkembangan mengkhawatirkan dalam konflik di Timur Tengah serta kondisi kehidupan rakyat Palestina” yang kian kritis.
Dalam percakapan tersebut, Paus Leo XIV menegaskan kembali komitmen Takhta Suci untuk mengupayakan perdamaian melalui jalur dialog politik dan diplomasi. Paus menekankan bahwa solusi hanya dapat dicapai melalui penghormatan penuh terhadap hukum internasional.
Langkah ini memperkuat hubungan kedua pemimpin yang sebelumnya sempat bertemu langsung di Vatikan pada 6 November 2025. Saat itu, pemimpin Palestina yang kini berusia 90 tahun tersebut sepakat dengan Paus mengenai urgensi solusi dua negara (Two-State Solution).
Solusi Dua Negara
Vatikan secara konsisten memandang solusi dua negara sebagai satu-satunya jalan keluar yang adil dan langgeng, meski diakui menghadapi hambatan besar. Posisi ini didasari oleh pengakuan formal Takhta Suci terhadap Israel (Perjanjian Fundamental tahun 1993) dan Pelestina (Perjanjian Komprehensif tahun 2015).
Dalam berbagai forum internasional, termasuk di PBB, perwakilan Vatikan terus menyuarakan hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri, serta aspirasi sah mereka untuk hidup dalam kebebasan, keamanan, dan martabat di dalam negara yang merdeka dan berdaulat.
Keterlibatan Israel dalam perang di dua front—Iran sejak akhir Februari dan Lebanon sejak awal Maret—dinilai telah membayangi penderitaan rakyat Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Meskipun gencatan senjata di Gaza secara teoritis berlaku sejak 10 Oktober 2025, serangan udara tetap berlanjut. Laporan terbaru menyebutkan bahwa pada 15 Maret, serangan bom Israel menewaskan sembilan petugas polisi dan empat warga sipil, termasuk seorang wanita hamil.
Pendekatan Kepausan
Terkait respons militer Israel yang memakan banyak korban sipil sejak pecahnya perang pada Oktober 2023, publik mencatat adanya perbedaan gaya diplomasi antara kepemimpinan saat ini dengan pendahulunya.
Paus Fransiskus sebelumnya mengeluarkan pernyataan keras yang mendorong penyelidikan atas kemungkinan terjadinya genosida di Gaza. Paus Leo XIV, hingga saat ini, mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati. Meski berulang kali menyatakan bela rasa dan kasih sayang yang mendalam bagi warga Gaza, ia belum menggunakan istilah “genosida” dalam pernyataan resminya.
Pembicaraan telepon ini menandai langkah krusial Vatikan untuk tetap menjaga relevansi diplomasinya di tengah krisis multidimensi yang melanda Lebanon, Gaza, hingga Iran, demi terciptanya stabilitas di tanah yang dianggap suci oleh tiga agama besar dunia tersebut.



