TRAWAS, Pena Katolik – Langkah awal kepemimpinan Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo di Keuskupan Surabaya ditandai dengan semangat sinodalitas yang kental. Bertempat di Sasana Krida, Jatijejer, Trawas, uskup yang akrab disapa Uskup Didik ini menggelar pertemuan formal perdana bersama seluruh imam se-Keuskupan Surabaya sejak ditahbiskan pada 22 Januari 2025 lalu.
Pertemuan ini menjadi momen krusial bagi 190 imam yang hadir untuk duduk bersama, melakukan refleksi, serta membedah berbagai keprihatinan dan harapan terkait tata kelola penggembalaan di masa depan. Atmosfer dialog terbuka sangat terasa, di mana para imam diajak menggali “kegelisahan” pastoral demi pelayanan yang lebih relevan bagi umat.
Dalam arahannya, Uskup asal Ngawi ini memberikan perumpamaan yang menyentuh hati. Beliau menegaskan bahwa para imam bukanlah sekadar pelaksana tugas, melainkan mitra strategis dalam misi kegembalaan.
“Semua imam atau romo adalah malaikat-malaikat penolong yang membantu saya dalam menggembalakan umat Katolik di Keuskupan Surabaya. Dengan begitu, tugas-tugas uskup yang semula kelihatan sangat berat menjadi terasa lebih ringan karena dikerjakan bersama-sama,” ujar Bapak Uskup Didik.
Semangat “berjalan bersama” atau sinodalitas yang diusung Uskup Didik menjadi sinyal kuat bahwa pola kepemimpinannya akan mengedepankan keterbukaan. Perjumpaan di Trawas ini bukan sekadar pertemuan administratif, melainkan fondasi bagi Keuskupan Surabaya untuk membangun sistem penggembalaan yang lebih sehat, solid, dan sesuai dengan kebutuhan zaman.
Melalui dialog ini, diharapkan setiap gerak langkah Gereja Katolik di Surabaya ke depan merupakan hasil dari buah pemikiran bersama yang mencerminkan wajah Gereja yang inklusif dan melayani.



