JAKARTA, Pena Katolik – Indonesia bersiap kembali menjadi sorotan dunia sebagai simbol harmoni lintas iman. Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menyatakan dukungan penuh pemerintah atas rencana Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan besar para uskup se-Asia (FABC) yang dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026 mendatang.
Dukungan tersebut disampaikan langsung oleh Menag saat menerima audiensi Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC, di Masjid Istiqlal pada Jumat, 13 Maret 2026. Dalam pertemuan hangat tersebut, Menag didampingi oleh Dirjen Bimas Katolik, Suparman, dan Staf Khusus Menag, Ismail Cawidu.
Mgr. Antonius memaparkan bahwa perhelatan internasional ini akan digelar pada 20–26 Juli 2026. Rangkaian acara dirancang sedemikian rupa untuk memperkuat jejaring persaudaraan di kawasan Asia: 20 Juli: Kedatangan para peserta; 21 Juli: Pembukaan resmi acara; 26 Juli: Penutupan khidmat di Gereja Katedral Jakarta.
“Diperkirakan sekitar 150 uskup dari berbagai negara di Asia akan hadir. Selain itu, kami juga menyambut perwakilan tamu dari Afrika, Eropa, Amerika, Australia, hingga Oseania,” ungkap Mgr. Antonius.
Salah satu agenda ikonik dalam pertemuan ini adalah kunjungan para peserta ke Terowongan Silaturahmi, sebuah struktur simbolis yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta, sebagai bukti nyata moderasi beragama di Indonesia.
Nasaruddin menegaskan bahwa momen ini adalah kelanjutan dari iklim positif yang ditinggalkan oleh kunjungan historis Paus Fransiskus pada 2024 lalu.
“Tentu saja kami sangat mendukung. Kunjungan Paus Fransiskus ke Masjid Istiqlal sebelumnya telah memberikan nuansa positif bagi persaudaraan antarumat beragama di tanah air,” ujar Menag.
Ia menitipkan pesan penting agar setiap rumah ibadah—baik masjid maupun gereja—terus menjadi mata air kedamaian. Menag mendorong agar narasi dalam setiap khotbah keagamaan harus menyejukkan dan mencerahkan, serta mencerdaskan umat.
Pertemuan para uskup se-Asia ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda rutin organisasi, tetapi menjadi momentum pembuktian bahwa Indonesia adalah “ruang perjumpaan” yang aman dan damai bagi masyarakat dunia. Melalui acara ini, citra Indonesia sebagai laboratorium kerukunan beragama dunia diharapkan semakin kokoh.
