LEBANON, Pena Katolik – Di tengah konflik yang sering melanda Timur Tengah, nama “Kaldea” kerap muncul dalam laporan berita mengenai komunitas Kristen di Irak, Iran, dan Lebanon. Namun, siapakah sebenarnya umat Katolik Kaldea? Apakah mereka bagian dari Gereja Katolik Roma?
Penting untuk dipahami bahwa meskipun Gereja Katolik itu satu, di dalamnya terdapat 24 tradisi gerejawi yang diakui secara resmi. Gereja Katolik Kaldea adalah salah satunya. Mereka bersatu dengan Paus di Roma, namun memiliki otonomi dalam hal liturgi, sejarah, dan tradisi teologis.
Selain Kaldea, contoh lain dari keberagaman ini adalah Gereja Maronit (Lebanon), Syro-Malabar (India), dan Gereja Katolik Etiopia. Keragaman ini muncul karena di masa lampau, penyebaran kekristenan terpisah secara geografis tanpa adanya komunikasi instan seperti internet, sehingga setiap wilayah mengembangkan ritus yang khas.
Asal-usul
Sejarah Gereja Kaldea berakar pada abad ke-5 di Kekaisaran Sasaniyah (sekarang Irak dan Iran). Pada masa itu, umat Kristen di sana menganut Nestorianisme—sebuah paham yang dianggap sesat karena memisahkan pribadi kemanusiaan Kristus dan keilahian-Nya, sehingga menyangkal Inkarnasi.
Banyak sejarawan menilai pemisahan ini dilakukan agar umat Kristen Persia tidak dianggap sebagai agen asing oleh pemerintah Sasaniyah. Kelompok ini kemudian dikenal sebagai Gereja Timur. Meskipun sempat menyebar hingga ke India dan Tiongkok, komunitas ini hampir punah akibat serangan pemimpin Mongol pada abad ke-14.
Titik balik terjadi pada tahun 1551, ketika kelompok-kelompok besar dari sisa-sisa penganut Nestorian mulai bersatu kembali dengan Roma. Karena wilayah asal mereka di masa lalu dikenal sebagai Kaldea (wilayah yang sering disebut dalam Alkitab), mereka kemudian dikenal sebagai Katolik Kaldea.
Identitas yang Tak Tergoyahkan
Patriark Kaldea Baghdad saat ini lowong setelah surat pengunduran diri Kardinal Louis Raphael Sako disetujui Paus Leo XIV pada awal Maret 2026). Dalam surat itu, ia menegaskan, “Kami adalah orang Kaldea, identitas kami adalah Kaldea, kewarganegaraan kami adalah Kaldea, dan Gereja kami adalah Katolik Kaldea.”
Meskipun menjadi minoritas di tanah kelahirannya, umat Katolik Kaldea tetap menjadi populasi Kristen terbesar di Irak. Di Irak ada sekitar 250 ribu umat Katolik Kaldea dengan pusat kepatriarkan ada di Bagdad. Di Lebanon, umat Katolik Kaldea ada sektar 30 ribu umat. Mereka ada juga di Iran, meski jumlah mereka tidak diketahui. Selain di negara-negara itu, umat Katolik Kaldea ada juga di Amerika Serikat, khususnya di Kota Michigan.
Gereja Katolik Kaldea berdiri sebagai saksi hidup dari kekristenan awal yang bertahan melewati penganiayaan, migrasi paksa, dan perubahan peta politik dunia. Mereka terus merayakan liturgi dalam bahasa yang dekat dengan bahasa yang diucapkan Yesus, mengingatkan dunia bahwa sejarah sering kali menunggu berabad-abad untuk dihargai kembali.



