VATIKAN, Pena Katolik – Takhta Suci mengumumkan bahwa Paus Leo XIV telah secara resmi menerima pengunduran diri Kardinal Louis Raphaël Sako dari jabatannya sebagai Patriark Baghdad bagi Gereja Kasdim. Keputusan ini diambil sesuai dengan Kanon 126 §2 dari Kitab Hukum Kanonik Gereja-Gereja Timur (CCEO.
Dalam sebuah surat terbuka yang dirilis pada hari Selasa, 10 Maret 2026, Kardinal Sako memberikan refleksi mendalam mengenai masa kepemimpinannya yang diwarnai oleh gejolak perang dan tantangan eksistensial bagi umat Kristiani di Irak. Ia menegaskan bahwa keputusan untuk mundur adalah murni keinginannya sendiri demi mendedikasikan waktu bagi doa dan pelayanan sederhana.
Kardinal Sako mencatat bahwa ia telah memimpin Gereja Kasdim selama 13 tahun dalam kondisi yang “sangat sulit”. Menjabat sejak tahun 2013, masa kepemimpinannya bertepatan dengan periode paling kelam di Irak, termasuk bangkitnya kelompok teror ISIS yang memaksa ribuan umat Kristiani mengungsi dari Dataran Niniwe.
“Saya telah memimpin Gereja Kasdim di bawah keadaan yang sangat sulit dan di tengah tantangan besar. Saya telah menjaga persatuan institusi-institusinya,” tulis Kardinal Sako.
Selain peran pastoral, ia dikenal sebagai tokoh vokal yang memperjuangkan hak-hak warga Irak dan minoritas Kristen, baik di dalam maupun luar negeri. Ia menjadi jembatan dialog di tengah masyarakat yang terpolarisasi.
Kardinal Sako menyatakan harapannya agar penggantinya kelak adalah sosok yang memiliki pengetahuan teologis yang kokoh, keberanian, dan kebijaksanaan. Namun, ia juga menambahkan kriteria unik yang dianggapnya sangat penting bagi masa depan Takhta Baghdad.
Kardinal Sako juga mengungkap isi wasiatnya (testamen) secara transparan untuk menghindari kesalahpahaman. Ia mengungkapkan bahwa dirinya tidak memiliki rumah maupun mobil pribadi. Seluruh harta bendanya, yang berjumlah sekitar 40 juta dinar Irak, 5.000 dolar AS, dan 5.000 euro, merupakan akumulasi gaji selama 52 tahun masa pelayanan imamat dan hasil penjualan rumah keluarga di Mosul.
“Kekayaan sejati saya adalah pelayanan yang penuh pengabdian serta 45 buku dan banyak artikel yang telah saya terbitkan,” tegasnya.
Kardinal Sako mulai dari menjadi imam di Mosul, Uskup di Kirkuk, hingga menjadi Patriark di Baghdad. Ia diangkat kardinal pada Konsistori 28 Juni 2018. Ia menjadi saksi dedikasi seorang gembala yang tetap setia meskipun harus menyaksikan domba-dombanya tercerai-berai oleh konflik. Pengunduran dirinya menandai berakhirnya sebuah era kepemimpinan yang berani dalam sejarah modern Gereja Katolik di Timur Tengah.
