Home BERITA TERKINI Apakah Alkitab Sepenuhnya Tanpa Kesalahan?

Apakah Alkitab Sepenuhnya Tanpa Kesalahan?

0

ROMA, Pena Katolik – Pernahkah Anda membaca Alkitab dan merasa narasinya seolah bertentangan dengan penemuan sains modern atau arkeologi? Pertanyaan apakah masih ada kesalahan dalam Alkitab bukanlah hal baru. Selama berabad-abad, umat beriman hingga para kritikus telah menggumuli pertanyaan ini. Sebagai tanggapan, Gereja Katolik memberikan jawaban yang tegas dalam Katekismus dan ajaran para Paus.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Allah adalah pengarang Kitab Suci, namun Ia tidak bekerja sendirian. Allah mengilhami penulis untuk menyusun buku-buku suci tersebut. Menurut Katekismus Gereja Katolik Tuhan memilih orang-orang tertentu yang tetap menggunakan seluruh kecakapan dan kekuatan mereka sebagai “penulis sejati”. (KGK 106-107)

Hasilnya, Kitab Suci mengajarkan dengan teguh, setia, dan “tanpa sesat” (inerrancy) kebenaran yang ingin disampaikan Allah demi keselamatan kita. Penting untuk digarisbawahi bahwa sifat tanpa sesat ini berkaitan erat dengan “kebenaran demi keselamatan kita,” bukan dimaksudkan sebagai ensiklopedia sains.

Paus Leo XIII dalam ensikliknya menegaskan bahwa karena Allah adalah Pencipta sekaligus Pengarang Kitab Suci. Dengan demikian, sains atau arkeologi tidak mungkin benar-benar bertentangan dengan Alkitab. Jika tampak ada pertentangan, itu bukanlah kesalahan Alkitab, melainkan keterbatasan kita dalam menafsirkan teks tersebut.

Senada dengan itu, Paus Pius XII dalam Humani Generis (1950) menolak pandangan yang membatasi sifat tanpa sesat hanya pada bagian moral atau religius saja. Paus Benediktus XVI pun melalui Verbum Domini (2010) mendorong penelitian lebih lanjut agar umat dapat menafsirkan teks suci sesuai dengan hakikatnya, demi kemajuan ilmu biblika dan kehidupan spiritual umat.

Kunci Alkitab

Salah satu kunci memahami ketiadaan sesat dalam Alkitab adalah membedakan antara makna literal dan penafsiran literalistik. Seorang ekseget, Edward Sri menjelaskan bahwa makna literal memperhitungkan konteks sejarah dan genre sastra.

Sebagai contoh, Kitab Mazmur adalah puisi. Ketika pemazmur menulis, “Setiap malam aku membanjiri tempat tidurku dengan air mata,” ia tidak bermaksud secara saintifik bahwa kasurnya benar-benar tergenang air. Sebaliknya, penafsiran literalistik cenderung mengabaikan gaya bahasa, metafora, dan analogi. Penafsiran literalistik akan membuat kita secara keliru memotong tangan kita sendiri hanya karena Yesus menggunakan kiasan keras tentang dosa.

Paus Leo XIII menjelaskan bahwa para penulis suci tidak bermaksud mengajarkan rahasia alam semesta secara saintifik. Mereka menggunakan bahasa sehari-hari atau bahasa figuratif berdasarkan apa yang tertangkap oleh panca indera pada zaman itu.

Penulis Kitab Kejadian, misalnya, tidak mendefinisikan “hari” dalam konteks 24 jam modern. Oleh karena itu, ada ruang bagi penafsiran yang tidak bertentangan dengan sains modern namun tetap setia pada ajaran Gereja. Alkitab tetap “tanpa sesat” karena para penulis menuliskan tepat apa yang Allah inginkan dengan menggunakan pengetahuan manusiawi yang tersedia bagi mereka saat itu.

St. Agustinus dalam suratnya kepada St. Heronimus, ia menulis bahwa jika ia menemukan sesuatu yang tampak bertentangan dengan kebenaran dalam Kitab Suci. Ia berasumsi bahwa entah naskahnya tidak akurat, penerjemahannya salah, atau—yang paling sering terjadi—dirinya sendirilah yang belum memahami teks tersebut dengan benar.

Ketidakmampuan untuk sepenuhnya menangkap kebenaran ilahi sering kali menjadi sumber dari dugaan bahwa ada “kesalahan” dalam Alkitab. Alkitab tetap menjadi pelita yang tak pernah padam, menuntun pada kebenaran keselamatan di tengah dunia yang terus berubah.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version