VATIKAN, Pena Katolik – Pada tanggal 21 Februari, Paus Leo XIV memutuskan untuk mengkanonisasi Santo Gabriel-Maria, seorang biarawan Fransiskan asal abad ke-15. Meski biarawan tersebut telah dihormati sebagai orang suci berabad silam, pengakuan resmi dari Takhta Suci baru terwujud berabad-abad kemudian.
Mekanisme khusus ini disebut sebagai “Kanonisasi Ekuipolen”. Secara umum, proses menjadi Santo harus melewati tahapan panjang: mulai dari penyelidikan kebajikan heroic, beatifikasi, hingga pembuktian mukjizat. Namun, dalam Kanonisasi atau Beatifikasi Ekuipolen, Paus memiliki wewenang untuk menetapkan seseorang sebagai Beato atau Santo melalui dekrit yang lebih sederhana.
Kanonisasi Ekuipolen dipilih ketika seorang calon orang kudus itu telah dihormati secara luas oleh umat sejak zaman dahulu. Proses ini juga mensyaratkan, calon orang kudus itu memiliki reputasi kesucian yang tak terputus dan terdokumentasi dengan baik. Ia juga memiliki kebajikan heroik yang diakui oleh otoritas Gereja setempat.
Meskipun jarang terjadi, prosedur ini telah digunakan oleh beberapa Paus dalam sejarah modern untuk menghormati tokoh-tokoh besar Gereja. Paus Benediktus XVI memilih jalur ini untuk mengakui Santa Hildegard dari Bingen, yang kemudian juga ditetapkan sebagai Pujangga Gereja. Sementara itu, Paus Fransiskus tercatat cukup sering menggunakan mekanisme ini selama masa pontifikalnya. Salah satu momen paling berkesan adalah pada 17 Desember 2013, saat ia memasukkan imam Yesuit Prancis, St. Pierre Favre (1506-1546), ke dalam katalog orang suci.
Penetapan St. Pierre Favre—sahabat karib Santo Ignatius de Loyola—diumumkan tepat pada hari ulang tahun Paus Fransiskus (Jorge Mario Bergoglio). Langkah ini dipandang luas sebagai bentuk pengabdian pribadi Paus terhadap sesama anggota Serikat Yesus yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah spiritualitas Gereja.
Kasus St. Gabriel-Maria, biarawan Fransiskan yang baru dikanonisasi ini, menjadi pengingat bahwa kesucian hidup seseorang sering kali telah dirasakan oleh umat jauh sebelum prosedur hukum formal dimulai. Penyelidikan kanonik yang dimulai pada abad ke-20 akhirnya membuahkan hasil manis di bawah kepemimpinan Paus Leo XIV, menegaskan kembali bahwa pengakuan Gereja adalah peneguhan atas iman yang sudah hidup di tengah masyarakat.
Penjaga Spiritual Fransiskan
St. Gabriel-Maria lahir dengan nama Gilbert Nicholas di Riom, Auvergne, Prancis. Benih iman telah tertanam kuat dalam dirinya sejak dini. Panggilan religiusnya dipicu oleh peristiwa sederhana namun mendalam. Pada masa remaja, ia mendengar sebuah khotbah tentang “Dikandung Tanpa Noda” yang dibawakan oleh para biarawan Fransiskan. Tergerak oleh semangat tersebut, pada tahun 1480, Gilbert muda berjalan kaki menempuh jarak yang jauh menuju Lafont untuk bergabung dengan para biarawan Fransiskan Observan.
Setelah ditahbiskan menjadi imam, Pastor Gabriel-Maria awalnya mendedikasikan hidupnya untuk mendidik para biarawan muda dalam bidang teologi. Namun, garis hidupnya berubah secara tak terduga saat ia berkenalan dengan Joan Valois, putri Raja Prancis yang diceraikan oleh suaminya, Raja Louis XII.
Pertemuan ini menjadi tonggak sejarah baru bagi Gereja. Pastor Gabriel-Maria menjadi bapa pengakuan dosa dan pembimbing rohani bagi Joan. Ia lalu membantu Joan mendirikan Ordo Kabar Gembira Perawan Maria yang Terberkati pada tahun 1501. Selama tiga dekade, ia menjabat sebagai Superior Jenderal dan berhasil membawa ordo ini berkembang pesat hingga ke Belgia, Belanda, Inggris, dan Spanyol.
Warisan Kebajikan dan Spiritualitas
Sosok St. Gabriel-Maria adalah perwujudan nyata dari kebajikan teologis (iman, harapan, kasih) dan nasihat injili yang luar biasa. Ia dikenal sebagai “Pewarta Firman yang Membara”. Melalui khotbah populer dan pengajaran teologi, ia fokus pada keselamatan jiwa-jiwa. Ia juga promotor gigih devosi kepada Perawan Maria, khususnya dalam menyebarkan ajaran tentang Dikandung Tanpa Noda jauh sebelum dogma tersebut ditetapkan secara resmi.
Segera setelah wafatnya, umat beriman mulai memohon perantaraannya, dan berbagai mukjizat segera dikaitkan dengan namanya. Menariknya, devosi kepada St. Gabriel-Maria terus mengalir selama berabad-abad tanpa pernah dilarang oleh otoritas Gereja. Oleh karena itu, tindakan Paus Leo XIV adalah peneguhan resmi atas kesucian yang telah diimani oleh umat selama lebih dari 500 tahun.



