Kamis, Februari 26, 2026

Bacaan dan Renungan Rabu, 4 Maret 2026, Hari Biasa Pekan Prapaskah II (ungu)

Bacaa I – Yer. 18:18-20

Berkatalah mereka: “Marilah kita mengadakan persepakatan terhadap Yeremia, sebab imam tidak akan kehabisan pengajaran, orang bijaksana tidak akan kehabisan nasihat dan nabi tidak akan kehabisan firman. Marilah kita memukul dia dengan bahasanya sendiri dan jangan memperhatikan setiap perkataannya!”

Perhatikanlah aku, ya TUHAN, dan dengarkanlah suara pengaduanku! Akan dibalaskah kebaikan dengan kejahatan? Namun mereka telah menggali pelubang untuk aku! Ingatlah bahwa aku telah berdiri di hadapan-Mu, dan telah berbicara membela mereka, supaya amarah-Mu disurutkan dari mereka.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

Mzm. 31:5-6,14,15-16

  • Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia. Engkau benci kepada orang-orang yang memuja berhala yang sia-sia, tetapi aku percaya kepada TUHAN.
  • Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: “Engkaulah Allahku!”
  • Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku! Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu!

Bacaa Injil – Mat. 20:17-28.

Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.

Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.

Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”

Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.”

Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.”

Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

***

Bukan untuk Dilayani, Melainkan untuk Melayani

Dalam perikop ini, kita dihadapkan pada kontras yang tajam antara jalan penderitaan yang dipilih Yesus dengan ambisi duniawi para murid-Nya. Saat Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem untuk menyerahkan nyawa-Nya—memprediksi penyiksaan dan penyaliban-Nya—ibu dari anak-anak Zebedeus justru datang meminta takhta kekuasaan bagi anak-anaknya. Ketidaksambungan ini menunjukkan betapa seringnya kita sebagai pengikut Kristus salah memahami hakikat Kerajaan Allah. Kita sering kali mencari “posisi strategis” atau keuntungan pribadi dalam pelayanan, padahal Yesus sedang menunjukkan bahwa mahkota sejati dalam Kerajaan-Nya tidak diperoleh melalui dominasi, melainkan melalui pengorbanan dan kesediaan untuk meminum “cawan” penderitaan.

Yesus menanggapi ambisi tersebut dengan merombak total definisi kepemimpinan. Di dunia ini, penguasa memerintah dengan tangan besi dan pembesar menjalankan kuasa atas rakyatnya. Namun, di antara kita sebagai pengikut-Nya, aturannya berbeda: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Menjadi yang terbesar menurut standar Kristus berarti menempatkan diri di posisi yang paling rendah untuk memikul beban sesama. Ini adalah panggilan untuk menanggalkan jubah kebesaran ego kita dan mengenakan celemek pelayan, karena di mata Tuhan, otoritas sejati justru lahir dari kerendahan hati yang tulus untuk membantu tanpa mengharapkan imbalan.

Puncak dari seluruh pengajaran ini terletak pada teladan pribadi Yesus sendiri, yang menyatakan bahwa Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Kematian-Nya di kayu salib adalah bentuk pelayanan tertinggi yang pernah ada di dunia. Dengan melihat pada salib, kita diingatkan bahwa setiap bentuk pelayanan yang kita lakukan haruslah berakar pada kasih yang rela memberi diri. Kita dipanggil untuk tidak lagi menghitung untung-rugi atau mencari pengakuan dalam komunitas beriman, melainkan fokus pada bagaimana hidup kita dapat menjadi berkat dan “tebusan” bagi kebahagiaan serta keselamatan orang lain di sekitar kita.

Pada akhirnya, mengikuti Yesus berarti bersedia berjalan di jalur yang sama dengan-Nya, yaitu jalur pengabdian. Ketika kita merasa lelah atau kecewa karena pelayanan kita tidak dihargai, mari kita ingat bahwa Guru kita pun ditolak dan disalibkan demi kasih-Nya kepada kita. Marilah kita mengubah orientasi hati kita dari bertanya “apa yang bisa saya dapatkan?” menjadi “apa yang bisa saya berikan?” Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi pengikut Kristus dalam nama, tetapi menjadi saksi yang hidup akan kasih-Nya yang membebaskan dan memulihkan dunia melalui pelayanan yang rendah hati.

Doa Penutup

Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Sang Pelayan Sejati yang telah menyerahkan nyawa-Mu demi keselamatan kami. Kami mohon, ampunilah kesombongan dan ambisi kami yang sering kali mencari kehormatan diri di atas kepentingan sesama. Bentuklah hati kami agar memiliki semangat pelayanan yang tulus seperti Engkau. Berilah kami kekuatan untuk bersedia meminum “cawan” pengorbanan dalam tugas dan tanggung jawab kami sehari-hari. Semoga melalui setiap pelayanan kecil yang kami lakukan dengan kasih, nama-Mu semakin dimuliakan dan Kerajaan-Mu semakin nyata di tengah dunia ini. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

***

Santo Kasimirus, Pengaku Iman

Putra kedua Kasimir III, Raja Polandia dan maharaja Lithuania ini, lahir pada tahun 1461. Keluarganya tergolong saleh dan taat agama. Ibunya, Elisabeth dari Austria, mendidik dia menurut tata cara hidup kerjaan dan hidup Kristiani yang berlaku pada masa itu. Setelah menanjak remaja, pendidikannya diserahkan kepada Yohanes Longinus. Kasimirus berkembang dewasa menjadi seorang putra Raja yang berhati mulia, murah hati, sopan dan ramah dalam pergaulan dengan sesamanya. Ia disenangi banyak orang terutama teman-temannya sebaya. Kecuali itu, pendidikan itu berhasil menanamkan dalam dirinya sikap yang tepat dan terpuji tersemarakan dan kemewahan duniawi. Bahwasannya semua kemewahan dan hormat duniawi itu bersifat sia-sia dan bisa saja menjerumuskan manusia kedalam keserakahan dan ingat diri.

Sikap itu terbukti kebenarannya, tatkala ia terlibat dalam suatu perkara politik yang terjadi di kerajaan Hongaria. Banyak bangsawan Hongaria tidak suka akan Matias, rajanya. Mereka datang kepada Kamisirus dan memohon kesediannya untuk menjadi raja mereka. Kamisirus mengabulkan permohonan itu dan segera berangkat ke Hongaria. Mendengar hal itu, Raja Matias menyiapkan sepasukan prajurit untuk melawan kerajaan Polandia. Tetapi perang tidak terjadi karena campur tangan Paus.

Dengan malu, Pangeran Kamisirus pulang ke Polandia. Peristiwa ini menyadarkan dirinya akan kesia-siaan hormat duniawi. Maka mulai saat itu ia meninggalkan cara hidupnya yang mewah dan kehormatan duniawi, lalu memusatkan perhatiannya pada doa, puasa dan tapa. Banyak waktunya di habiskan untuk berdoa. Pagi-pagi sekali ia sudah berdiri di depan pintu gereja untuk mengikuti perayaan Misa Kudus dan mendengarkan Kotbah. Ia juga lebih banyak memperhatikan kepentingan kaum kafir miskin dengan membagi-bagikan harta kekayaannya. Cinta kasih dan hormatnya kepada Bunda Maria sangat besar. “Omni die hic Mariae”(“Mengasihi Maria, kini dan selalu”) adalah semboyannya.

Semua usahanya untuk memusatkan diri pada doa, tapa dan puasa membuat dia menjadi seorang beriman yang saleh. Ia menjadi orang kesayangan warganya, terutama kaum miskin di kota itu. Ia meningal dunia pada tanggal 4 Maret 1484 karena penyakit sampar. Seratus dua puluh tahun kemudian, kuburnya di Katedral Wein di buka kembali dan relikuinya dipindahkan ke sebuah kapela. Tubunya masih tampak utuh dan menyebarkan bau harum. Tulisan doanya “Mengasihi Maria, kini dan selalu”masih terletak rapi di kepalanya. Hal ini menunjukkan bahwa devosinya kepada Maria merupakan suatu persembahan yang berkenan di hati Maria.

Santo Lusius, Paus dan Martir

Lusius memangku jabatan Paus menggantikan Paus Cornelius pada tanggal 25 Juni 253. Ia diasingkan selama aksi penganiayaan umat Kristen di bawah pemerintahan Kaisar Gallus, dan baru kembali ke Roma setelah Gallus meninggal dunia.

Ketika berada di Roma, ia menerima sepucuk surat dari Santo Siprianus, Uskup Kartago. Di dalamnya Saprianus memuji keberanian Lusius untuk menghadapi aksi penganiayaan umat. Bersama Saprianus, Lusius menggalakkan karya kariatif untuk orang-orang Kristen yang dipenjarakan. Bagi orang-orang ini, Paus Lusius menetapkan bahwa setelah menerima pengampunan, mereka harus diberkati dan diperbaharui keanggotaannya dalam gereja.

Lusius ditentang oleh Novatianus,seorang imam berkebangsaan Roma yang mengangkat dirinya sebagai Paus tandingan selama masa kepemimpinan Paus Cornelius (251-253). Novatianus menolak pengampunan kepada orang-orang Kristen yang mutrad selama masa penganiayaan. Oleh Lusius, pandangan Novatianus dianggap suatu bidaah.

Lusius meninggal dunia pada tanggal 5 Maret 254. Jenazahnya dimakamkan di pekuburan para Paus di katakombe Santo Kalikstus, di jalan Appia.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini