Minggu, Februari 15, 2026

Bacaan dan Renungan Sabtu, 21 Februari 2026, Hari Sabtu sesudah Rabu Abu (ungu)

Bacaan l – Yes. 58:9b-14

Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.

TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.

Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”.

Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat “hari kenikmatan”, dan hari kudus TUHAN “hari yang mulia”; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong,

maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut Tuhanlah yang mengatakannya.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

Mzm. 86:1-2,3-4,5-6

  • Doa Daud. Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku. Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu.
  • Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku.
  • Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu. Pasanglah telinga kepada doaku, ya TUHAN, dan perhatikanlah suara permohonanku.

Bacaan Injil – Luk. 5:27-32

Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.

   Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia.

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”

Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

***

“Yesus Datang untuk Orang Berdosa” 

Lewi, seorang pemungut cukai, setelah dipanggil, Lewi segera meninggalkan segalanya dan mengikuti Yesus. Ia kemudian mengadakan perjamuan besar di rumahnya, di mana banyak pemungut cukai dan orang berdosa turut hadir. Melihat hal itu, orang Farisi dan ahli Taurat mengeluh: “Mengapa kamu makan dan minum bersama pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus menjawab: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa supaya mereka bertobat.”

Perikop ini menyingkapkan wajah belas kasih Allah. Yesus tidak datang untuk mencari orang yang merasa dirinya sudah benar, melainkan untuk menyelamatkan mereka yang jatuh dalam dosa. Kehadiran-Nya adalah kabar gembira bagi orang yang tersisih, ditolak, dan dianggap hina oleh masyarakat. Lewi, seorang pemungut cukai yang dipandang rendah, justru dipanggil menjadi murid. Hal ini menunjukkan bahwa kasih Allah tidak terbatas, melainkan menjangkau semua orang.

Sering kali kita merasa tidak layak di hadapan Tuhan karena kelemahan dan dosa kita. Namun Injil hari ini mengingatkan bahwa justru dalam kelemahan itulah Yesus hadir. Ia adalah Tabib yang menyembuhkan luka batin, mengangkat kita dari kejatuhan, dan mengundang kita untuk bertobat. Pertobatan bukan sekadar meninggalkan dosa, tetapi juga membuka diri untuk mengikuti Yesus dengan hati yang baru.

Kehadiran Yesus di rumah Lewi juga mengajarkan bahwa iman tidak berhenti pada panggilan pribadi, tetapi harus menjadi kesaksian bagi orang lain. Lewi mengundang banyak orang berdosa untuk bertemu Yesus. Demikian pula kita, setelah mengalami kasih Allah, dipanggil untuk menghadirkan-Nya bagi sesama, terutama mereka yang merasa jauh dari Tuhan.

Hari ini mari kita renungkan: apakah kita sungguh menyadari bahwa Yesus datang untuk kita yang berdosa? Apakah kita berani membuka hati untuk pertobatan dan membiarkan kasih-Nya menyembuhkan kita? Semoga kita belajar dari Lewi, yang dengan segera meninggalkan segalanya dan mengikuti Yesus.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau datang bukan untuk orang benar, melainkan untuk orang berdosa agar mereka bertobat. Kami bersyukur karena Engkau memanggil kami meski penuh kelemahan. Bukalah hati kami agar berani meninggalkan dosa dan mengikuti-Mu dengan setia. Jadikan kami saksi kasih-Mu yang membawa pengharapan bagi sesama, terutama mereka yang merasa jauh dari-Mu. Semoga hidup kami menjadi perjamuan kasih, di mana banyak orang dapat merasakan kehadiran-Mu yang menyembuhkan dan menyelamatkan. Kami serahkan diri kami kepada-Mu, ya Tabib jiwa kami, kini dan selamanya. Amin.

***

Santo Petrus Damianus, Uskup dan Pujangga Gereja

Orangtua Petrus meninggal selagi ia masih kecil. Kakaknya yang sulung memikul tanggung jawab untuk membesarkan Petrus. Meskipun demikian, Petrus tidak menikmati suatu hidup yang baik dan membahagiakan di rumah kakaknya itu. Dia diperlakukan secara kejam. Menyaksikan keadaan Petrus, seorang saudaranya yang sudah menjadi imam, mengirim dia untuk belajar di Parma.

Di sekolah ini Petrus mengalami perkembangan yang sangat baik. Tingkah lakunya disenangi oleh banyak orang. Ia meraih prestasi yang luar biasa dalam semua mata pelajaran. Di antara kawan kawannya, Petrus dikenal sebagai anak yang suka menolong kawan  kawannya yang mengalami kesusahan dan berbagai kesulitan. Ia memberikan uang kepada mereka meskipun tunjangan hidupnya sendiri tidak memadai. Setelah menjalani suatu sejarah hidup yang kelam dan panjang, ia akhirnya di tabhiskan menjadi Imam. Tekadnya menjadi imam ialah tidak mau mengabdi Tuhan setengah  setengah. Karena itu ia mengambil keputusan untuk meninggalkan segala  galanya, lalu menjadi rahib di pertapaan Fonte Avellana.

Kebijaksanaan, kepintaran dan kerendahan hatinya membuat dia disenangi oleh semua rahib di pertapaan itu. Akhirnya ia diangkat menjadi pemimpin pertapaan itu. Dalam kedudukannya sebagai pemimpin, pertapaannya mengalami perubahan  perubahan yang menggembirakan. Ia juga sering diminta untuk membantu membereskan masalah masalah yang menimpa kehidupan biara  baira lain. Ia pun diangkat menjadi penasehat pribadi untuk tujuh orang Paus. Karena semua prestasinya itu, Petrus Damianus akhirnya di pilih menjadi Uskup dan Kardinal di Ostia oleh Sri Paus Stephanus IX (1057 1058). Jabatan mulia ini kemudian diletakkan kembali karena ia lebih suka hidup menyendiri di biara pertapaan di Fonte Avellana.

Sungguhpun Petrus dikenal luas sebagai seorang Intelektual, namun ia tetap menampilkan dirinya setara dengan kawan  kawannya. Ia dengan senang hati mengerjakan tugas  tugas dari biaranya, mengikuti aturan aturan yang berlaku, menyelesaikan pekerjaan  pekerjaan tangan seperti membuat sendok dari kayu, memperbaiki keranjang dll.

Pada tahun 1072, Petrus Damianus meninggal dunia. Tulisan  tulisannya tentang berbagai soal iman sangat bermutu dan menjadi warisan Gereja yang bernilai tinggi. oleh gereja, Petrus Damianus di hormati sebagai Pujangga Gereja.

Santa Irene, Pengaku Iman

Irene adalah seorang puteri berkebangsaan Romawi yang hidup pada permulaan abad ke-4. Ia menikah dengan Kastullus dan dikarunia beberapa anak. Pada masa pemerintahan Kaisar Maksimianus, Kastullus dibunuh karena mengijinkan pertemuan umat Kristen dirumahnya. Irene sendiri bersama kedua orang anaknya ditangkap dan ditawan. Kedua anaknya meninggal di penjara karena wabah Malaria.

Ketika Maxentius berhasil merebut kekuasaan dari ayahnya, Irene di bebaskan. Tetapi Maxentius dibenci karena tindakannya yang sewenang  wenang dan tidak adil. Irene terus saja ditimpa ketidakadilan. Ketika Valeria, gadis keponakan Irene, dipinang oleh putera bendaharawan Negara, seorang pemboros dan pemabuk, Irene dengan tegas menolak lamaran tersebut. Ibu Valeria telah meninggal dunia sebagai korban kebenaran sedang ayahnya ditawan karena imannya. Karenanya, Irene bertindak sebagai pengasuh dan pembela Valeria dan menolak bahkan mengusir dengan tegas pesuruh yang datang melamar Valeria.

Karena penolakan ini, Irene diseret ke hadapan pengadilan kota untuk diadili. Disini dengan berani Irene menjawab setiap pertanyaan hakim. Dia bahkan menantang hakim dengan berkata: Mengapa saya dihadapkan kesini? Belum cukupkah penghinaan terhadap keluargaku? Kami ditangkap dan ditahan. Ibu Valeria di bunuh, juga ayahnya.

Semuanya karena nafsu dan dendam. Dan sekarang apakah Valeria lagi yang akan disiksa karena menolak keinginan pemboros dan pemabuk itu? Tidak! Selama aku masih hidup, sekali kali hal ini tidak akan terjadi. Bendaharawan itu mengenal baik siapa Irene. Ia tahu bahwa Irene adalah isteri Kastullus yang telah dihukum mati, dan ibu Kandidus, perwira militer Kaisar Konstatinus yang bermusuhan dengan Kaisar Romawi. Sebab itu tanpa pikir panjang ia menyuruh mengikat Irene dan menyeretnya ke dalam penjara.

Sementara itu, rakyat tidak tahan lagi dengan pemerintahan Maxentius yang sewenang wenang itu. Rakyat mulai menyusun rencana untuk menggulingkan dia. Diam diam mereka mengutus beberapa orang untuk meminta bantuan kepada Kaisar Konstantianus yang adil dan bijaksana. Kaisar Konstantianus menyambut permohonan itu dan segera melancarkan serangan untuk menggulingkan Maxentius.

Maxentius lari dan menenggelamkan diri ke sungai Tiber. Semua tawanan dibebaskan, termasuk Irene. Ia bebas dari rencana pembunuhan ngeri atas dirinya pada hari pelantikan Maxentius sebagai Kaisar. Kandidus, anak Irene yang ikut dalam serangan melawan Maxentius, kembali bersama ibunya ke rumah. Selanjutnya Irene mengabdikan diri pada kepentingan orang  orang yang mengalami penderitaan.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini