Home RENUNGAN Bacaan dan Renungan Kamis, 17 Februari 2026, Hari Kamis sesudah Rabu Abu...

Bacaan dan Renungan Kamis, 17 Februari 2026, Hari Kamis sesudah Rabu Abu (Ungu)

0

Bacaan I – Ul. 30:15-20

Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya.

Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya, maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya.

Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.”

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

Mzm. 1:1-2,3,4,6

  • Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
  • tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
  • Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
  • Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. Sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Bacaan Injil – Luk. 9:22-25.

Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”

Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.

Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

***

“Mengikuti Kristus dengan Menyangkal Diri”

Yesus berkata kepada para murid-Nya: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan, ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut Aku. Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.”

Perikop ini menyingkapkan inti panggilan Kristiani: mengikuti Kristus berarti berani menyangkal diri, memikul salib, dan menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Allah. Yesus tidak menjanjikan jalan yang mudah, melainkan jalan yang penuh tantangan, penderitaan, bahkan penolakan. Namun, di balik jalan salib itu, ada kebangkitan dan kehidupan yang sejati.

Sering kali kita ingin mengikuti Kristus tanpa salib, hanya menginginkan berkat dan kemudahan. Namun Injil hari ini mengingatkan bahwa iman sejati tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari kesetiaan dalam penderitaan. Menyangkal diri berarti melepaskan ego, ambisi pribadi, dan keinginan duniawi, lalu menempatkan kehendak Allah sebagai pusat hidup kita.

Yesus menegaskan bahwa siapa pun yang berusaha mempertahankan hidupnya demi kepentingan diri sendiri akan kehilangan hidup sejati. Sebaliknya, mereka yang rela kehilangan hidupnya demi Kristus akan menemukan keselamatan. Pesan ini mengajak kita untuk berani berkorban, bukan hanya dalam hal besar, tetapi juga dalam keseharian: mengutamakan kasih, mengampuni, melayani, dan setia dalam doa.

Hari ini mari kita bertanya: apakah kita sungguh siap memikul salib setiap hari? Apakah kita berani menyangkal diri demi Kristus? Semoga kita belajar melihat salib bukan sebagai beban semata, tetapi sebagai jalan menuju kebangkitan dan kehidupan kekal.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau mengajarkan kami untuk menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti-Mu setiap hari. Bukalah hati kami agar tidak takut menghadapi penderitaan, penolakan, atau kesulitan, sebab bersama-Mu kami menemukan kekuatan dan pengharapan. Ajarlah kami melepaskan ego dan ambisi pribadi, agar hidup kami sungguh menjadi persembahan bagi-Mu. Semoga kami berani kehilangan hidup duniawi demi memperoleh hidup sejati dalam kasih-Mu. Jadikan kami murid-Mu yang setia, yang melihat salib sebagai jalan menuju kebangkitan dan keselamatan. Kami serahkan hidup kami kepada-Mu, ya Kristus, Juruselamat kami. Amin.

***

Santo Marselus, Martir

Marselus menjadi Paus pada tahun 308 sampai 309. Tempat, tanggal lahirnya serta berbagai cerita hidupnya sangat samar-samar diketahui. Yang pasti adalah beliau adalah seorang imam pada masa kepemimpinan Paus Marselinus I (296-304).

Setelah wafatnya Marselinus I, Tahkta suci mengalami kekosongan kepemimpinan selama masa penganiayaan terhadap orang-orang Kristen oleh Kaisar Diokletianus (284-305). Sampai pada tahun 308 barulah diangkat seorang Paus baru, yakni Marselus. Pada masa ini, administrasi Gereja morat-marit.

Paus Marselus diserahi tanggungjawab untuk mengatur kembali administrasi gereja yang morat-marit itu. Pertama-tama ia membagi Gereja ke dalam wilayah-wilayah Paroki dibawah pimpinan seorang imam. Imam-imam ini bertugas untuk mengajar agama kepada para calon babtis, mengadakan pengakuan umum, mendoakan orang mati dan mengatur upacara peringatan para martir. Marselus sendiri membangun pekuburan baru di jalan Salaria di Roma.

Karya Marselus untuk mengatur kembali administrasi gereja dirintangi oleh perihal masalah kemutradan orang-orang Kristen selama masa penganiayaan. Banyak diantara mereka ingin kembali ke pangkuan Gereja tanpa melalui dahulu masa pertobatan. Tetapi Marselus menuntut bahwa orang-orang seperti itu harus terlebih dahulu melakukan pertobatan. Pertentangan serius ini mengakibatkan pertumpahan darah. Karena pertentangan besar ini, Kaisar Maxentius (306-312) membuang Marselus dari Roma. Marselus akhirnya meninggal di pengasingan pada tahun 309.

Santo Konradus dari Lombardia, Pengaku Iman

Konradus lahir di Lombardia dari sebuah keluarga bangsawan. Sebagai seorang putera bangsawan, Konradus lebih banyak menggunakan waktunya untuk bersenang-senang dan berfoya-foya. Hobinya adalah berburu. Agar cepat dan mudah menangkap binatang buruannya, biasanya ia membakar hutan tempat persembunyian binatang-binatang itu. Tapi perbuatan itu mendatangkan malapetaka baginya. Pembakaran hutan itu mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat dan harus di ganti. Semua kekayaan keluarga di pakai untuk membayar kerugian tersebut. Karena itulah keluarga Konradus mulai jatuh miskin.

Di dalam situasi miskin itu, Tuhan memanggil Konradus. Isterinya sendiri menjadi biarawati, sedangkan Konradus masuk Ordo ke tiga Santo Fransiskus. Untuk lebih menyucikan dirinya, ia menjadi seorang rahib dan tinggal terpencil di dalam sebuah gua di Sisilia. Memang banyak gangguan menghadangnya tetapi kesungguhan dalam berdoa dan berpuasa membuat ia mampu mengalahkan kesemuanya itu. Ia meninggal pada tahun 1351.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version