Minggu, Maret 29, 2026

Mengembalikan Esensi Pendidikan dalam Pemikiran Romo Odemus Bei Witono

JAKARTA, Pena Katolik  – Standar pendidikan di era modern tidak boleh menjadi “baju seragam” yang dipaksakan kepada setiap sekolah. Sebaliknya, pendidikan harus dikelola secara cerdas dan kontekstual agar mampu menyentuh realitas di akar rumput. Pesan kuat ini menjadi intisari dari peluncuran dan bincang buku karya Direktur Perkumpulan Strada, Romo Odemus Bei Witono, yang digelar di Kompas Institute, Jakarta, Rabu 11 januari 2026.

Dalam acara bertajuk “Pendidikan Integratif yang Memanusiakan” tersebut, Romo Bei meluncurkan empat buku sekaligus: Menimba Kebijakan Pendidikan, Pendidikan dan Dimensi Lingkungan, Ragam Cetak Tata Kelola Sekolah, serta Ruang Spiritual Pendidikan.

Pendekatan Integratif

Romo Bei menjelaskan bahwa buku-buku ini lahir dari kegelisahannya melihat keberagaman realitas sekolah. Ia memilih pendekatan “integratif” untuk menjahit serpihan-serpihan unsur pendidikan menjadi sebuah mosaik yang utuh.

“Mosaik indah itu tecermin dalam profil lulusan yang kita hasilkan,” kata Romo Bei. Ia menekankan bahwa standar pendidikan modern harus dipahami secara kontekstual, di mana sekolah juga harus berfungsi sebagai laboratorium pelestarian alam untuk membangun kesadaran ekologis.

Pendidikan sering kali terjebak dalam angka, standarisasi, dan pemenuhan administratif yang kaku. Namun, bagi Romo Bei pendidikan adalah sebuah organisme hidup yang memiliki “roh”.

Pemikiran Romo Bei tidak lahir dari menara gading akademis yang berjarak, melainkan dari refleksi mendalam dari seorang praktisi yang bergulat langsung di lapangan. Dalam terang iman Katolik, pemikirannya dapat kita maknai sebagai perwujudan dari visi Cura Personalis (perhatian terhadap pribadi secara utuh) yang menjadi ciri khas pendidikan Jesuit.

Tata Kelola Sebagai Perwujudan Rohani

Salah satu poin krusial yang diangkat Romo Bei adalah redefinisi tata kelola sekolah. Baginya, tata kelola bukanlah sekadar urusan birokrasi atau pengisian borang administratif. Tata kelola adalah “roh” organisasi. Dalam perspektif Kristiani, sekolah adalah sebuah persekutuan (communio).

Tata kelola yang sehat mencerminkan bagaimana sebuah institusi memandang martabat manusia di dalamnya. Jika tata kelola dilakukan secara kaku dan memaksa, maka sekolah telah gagal memanusiakan guru dan siswanya. Sebaliknya, tata kelola yang inklusif, fleksibel, dan kolaboratif adalah bentuk nyata dari penghargaan terhadap martabat pribadi manusia sebagai Imago Dei (Gambar Allah). Pemimpin sekolah bukan sekadar administrator, melainkan pelayan yang memiliki tanggung jawab moral untuk membangun karakter dan menjaga relasi yang harmonis.

Romo Bei menekankan penggunaan istilah “integratif” daripada sekadar “holistik”. Hal ini mencerminkan pemikiran teologis yang mendalam tentang keberagaman. Dunia pendidikan kita dipenuhi dengan serpihan-serpihan realitas: perbedaan latar belakang sosial, kapasitas ekonomi, hingga keberagaman talenta.

Tugas pendidikan adalah “menjahit” serpihan-serpihan tersebut menjadi sebuah mosaik yang utuh. Dalam iman Katolik, kita mengenal prinsip kesatuan dalam tubuh mistik Kristus. Meskipun berbeda-beda anggota, semuanya membentuk satu tubuh yang harmonis. Pendidikan integratif Romo Bei mengejar profil lulusan yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga utuh secara kepribadian—manusia yang memiliki empati tajam dan kecintaan pada sesama. Inilah esensi dari pendidikan yang memanusiakan: membawa manusia pada kepenuhan jati dirinya.

Ruang Spiritual dan Kesadaran Ekologis

Dua dimensi unik dalam pemikiran Romo Bei adalah spiritualitas dan ekologi. Di era teknokrasi ini, pendidikan sering kali menjauh dari makna sejatinya karena terlalu berfokus pada keterampilan teknis. Romo Bei mengajak kita kembali ke “Ruang Spiritual Pendidikan”.

Pendidikan tanpa dimensi spiritual akan melahirkan manusia-manusia cerdas yang kering jiwanya. Ruang spiritual yang dimaksud bukan sekadar pelajaran agama formal, melainkan kemampuan untuk menemukan Tuhan dalam segala hal ‘Finding God in All Things’. Ketika seorang siswa diajarkan untuk reflektif dan dialogis, ia sedang membangun fondasi spiritual yang akan menuntunnya menjadi pribadi yang berintegritas.

Sejalan dengan Ensiklik Laudato Si’ dari Paus Fransiskus, Romo Bei juga menempatkan dimensi lingkungan sebagai pilar pendidikan. Sekolah harus menjadi “laboratorium pelestarian alam”. Kesadaran ekologis bukan sekadar teori di buku biologi, melainkan sebuah komitmen moral untuk menjaga “Rumah Kita Bersama”. Pendidikan yang sejati harus mampu melahirkan manusia yang tidak hanya berdamai dengan sesama, tetapi juga berdamai dengan alam ciptaan-Nya.

Melawan Penyeragaman, Merangkul Kontekstualitas

Kritik tajam Romo Bei terhadap standarisasi pendidikan yang bersifat seragam dan memaksa sangat relevan dengan nilai subsidiaritas dalam ajaran sosial Gereja. Setiap sekolah memiliki ciri khas dan kearifan lokalnya sendiri. Memaksakan standar yang sama bagi sekolah di perkotaan dengan sekolah di daerah pelosok adalah bentuk ketidakadilan sistemik.

Pendidikan yang cerdas adalah pendidikan yang kontekstual—yang memahami kapasitas nyata dan kebutuhan sosial-kultural lingkungannya. Dengan menghargai keberagaman konteks, pendidikan memberikan ruang bagi inovasi dan pertumbuhan yang organik. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap “talenta” yang berbeda-beda yang dititipkan Tuhan pada setiap komunitas pendidikan.

Romo Bei mengingatkan pendidikan yang memanusiakan adalah pendidikan yang berakar pada kasih, karena pada akhirnya, hanya melalui kasihlah, setiap serpihan mosaik pendidikan itu dapat disatukan menjadi sebuah gambaran kemuliaan Tuhan yang utuh.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini