YOGYAKARTA, Pena Katolik – Krisis sampah yang melanda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pasca-penutupan total TPA Piyungan sejak Januari 2026 memicu reaksi nyata dari Gereja Katolik. Melalui Focus Group Discussion (FGD) Gerakan Ekologis Kevikepan Yogyakarta Timur dan Barat, Kamis (5/2/2026), para pemangku kepentingan berkumpul di Wisma Mahasiswa Yogyakarta untuk merumuskan pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Moderator FGD, Romo Martinus Joko Lelono menegaskan bahwa forum ini merupakan wujud keterlibatan sosial umat Katolik dalam menjawab isu krusial di masyarakat. Dengan mengusung ide “Ubah Sisa Menjadi Sumber Hidup”, Gereja ingin bertransformasi dari sekadar wacana menjadi aksi konkret melalui kebijakan paroki hijau.
Data yang dipaparkan oleh Albertus Ariyanto Nugroho, Anggota Tim Kajian Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan. Pada 2024, hampir 44 persen sampah di DIY tidak tertangani, dan angka ini diprediksi melonjak tajam saat ini.
“Di Sleman dan Kota Yogyakarta, timbulan sampah mencapai ratusan ribu ton per tahun dengan dominasi sampah organik lebih dari 60 persen,” ungkap Albertus, seraya mengkritik pola pengelolaan yang masih berorientasi pada pembuangan, bukan pengolahan.
Menanggapi hal tersebut, Yustinus dari Kementerian Lingkungan Hidup mendorong agar semangat Ensiklik Laudato Si’ segera dibumikan dalam proyek percontohan di tingkat paroki. Senada dengan itu, Sr. Marissa, CB, menekankan bahwa akar masalah sampah bukan sekadar teknis, melainkan moral. Ia menggarisbawahi pentingnya pendidikan paradigma sampah sebagai sumber daya sejak usia dini (TK hingga SMA).
Sebagai langkah taktis, Widiandayani dari Signis Indonesia membagikan kisah sukses ekonomi sirkular, di mana sampah warga dibeli, dipilah, dan disalurkan ke industri daur ulang secara tunai. Menutup diskusi, Romo R. Sapto Nugroho, Pr., mengingatkan agar semangat ini bertransformasi menjadi komitmen yang didukung oleh strategi, sistem, dan pembiayaan yang matang demi keberlanjutan lingkungan di Yogyakarta.



