MATALOKO, Pena Katolik – Gereja Paroki Roh Kudus Mataloko dipenuhi umat dan para anggota hidup bakti dalam suasana khidmat dan penuh syukur saat berlangsung Perayaan Ekaristi Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah yang sekaligus dirayakan sebagai Hari Hidup Bakti, 2 Februari 2026. Perayaan ini dipimpin langsung oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, bersama para imam, biarawan-biarawati dari berbagai kongregasi, serta umat paroki.
Dalam pengantar perayaan, Uskup Agung Ende mengajak umat merenungkan tema, “Dipersembahkan, dimurnikan untuk menjadi terang.” Tema ini menegaskan makna pesta Yesus Dipersembahkan sekaligus jati diri hidup bakti: mempersembahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, membiarkan diri dimurnikan, lalu diutus untuk meneruskan terang Allah melalui kesaksian hidup dan pelayanan.
Dalam homilinya, Mgr. Paulus menegaskan bahwa hidup bakti adalah hidup yang dipersembahkan, dimurnikan, dan diutus menjadi terang, terutama di tengah dunia yang terluka. Ia menekankan bahwa para anggota hidup bakti dipanggil menjadi saksi kenabian tentang perdamaian, bukan sebagai pribadi tanpa luka, melainkan sebagai manusia yang menyadari keterbatasannya.
“Hidup bakti tidak membawa kita lari dari realitas dunia,” tegasnya, “melainkan menempatkan kita di tengah dunia nyata, dengan segala keindahan, penderitaan, dan tantangannya.”
Uskup Agung Ende juga menyoroti Injil hari itu yang menampilkan tiga generasi—Yesus, Maria dan Yosef, serta Simeon dan Hana—yang dipersatukan oleh Kristus. Ia mengaitkan hal ini dengan realitas komunitas hidup bakti yang kerap mengalami ketegangan lintas generasi. Menurutnya, perbedaan dapat diperdamaikan bila Yesus menjadi pusat perhatian dan perutusan.
Puncak perayaan ditandai dengan pembaruan kaul hidup bakti. Para biarawan dan biarawati berdiri dengan lilin bernyala, simbol terang Kristus, untuk memperbarui komitmen hidup taat, murni, dan miskin. Uskup Agung Ende mengajak mereka meneguhkan pilihan hidup Injili, setia pada aturan kongregasi, serta menghidupkan semangat kemurahan hati demi pelayanan umat Allah.
Perayaan ini menjadi momen rahmat untuk pembaruan diri, baik pribadi maupun komunitas. Semangat dipersembahkan, dimurnikan, dan diutus menjadi terang diteguhkan kembali, agar Gereja Keuskupan Agung Ende terus menjadi berkat bagi dunia yang merindukan damai.




