MERAUKE, Pena Katolik – Uskup Agung Merauke, Mgr Petrus Canisius Mandagi, MSC menakankan pentingnya berpuasa dari semua yang hadir dalam pertemuan semua pastores dari semua paroki di Keuskupan Agung Merauke. Dia mengatakan 81 romo ditambah dengan 3 orang daikon adalah satu kesatuan gereja katolik.
Dia menambahkan, mereka semua mengadakan Mupaspas Keuskupan Agung Merauke di ruang Woytila, Pankat Kelapa Lima, Merauke sekaligus melakukan reareat yang dipandu oleh jawal yang telah tersusun dengan baik terhitung Senin hingga 19-30, Januari 2026.
Mgr. Mandagi menyebut semua imam harus mengikuti pertemuan tersebut karena akan mucul berbagai kebijakan pastoral dalam Keuskupan Agung Merauke, begitu penting sehingga jangan ada seorang pun malas, seperti tertidur, mengikuti, pertemun, tidak ikut misa setiap hari sebelum acara, makan bersama dalam acara tersebut. Dia menambahkan beberapa imam berdasarkan pengalamannya punya kebiasaan seperti demikian mentang-mentang bertitel hingga bergelar doctor atau yang lainya, sangat prestisius dalam gereja sehingga tidak perlu hadir dalam pertemuan tersebut. “Ini sudah tidak benar,” katanya. Dia mengatakan, justeru pentingnya pertemuan tersebut sehingga semua diharapkan mengikuti muspaspas dan ret-reat pastores di Kuskupan Agung Merauke. Dia dalam khotbahnya juga dia sempat menyinggung sikap beberapa imam hidup seenaknya, lupa bangun pagi, suka merokok tidak serius mengikuti pertemuan dengan serius kegiatan tersebut juga. Dia mengajak semua peserta agar bercermin pada tema khsusus pertemuan supaya kelak menjadi pimpinan umat dengan baik kelak, menji gembala yang baik. Tema utama dalam rapat tersebut adalah “Menjadi Imam Yang Baik dan Sehat: Gembala Yang Hadir Berintergritas Dan Melindungi Dalam Budaya Safeguarding.
Dia mengatakan Mupaspaspas, yang berlangsung sukses tersebut juga untuk membicarakan arah gereja katolik KAMe. Dia sempat menyinggung sikap para imam asal Keuskupan Agung Merauke, yang tidak berpuasa, seenaknya minum mabuk, tidak pernah mengikuti misa sayukur, makan sembarangan, suka berjalan, senang hura-hura, menghabiskan uangnya, suka merokok karena tidak tahan dengan aturan tersebut alias tidak puasa. Dia mengatakan hal tersebut karena pengalamannya saat mengikuti aturan berbagai Muspas di selama bertugas pertama kali di Keuskupan Agung Merauke, terkadang ada yang kerjanya seperti demikian. Dia tegas mengatakan bahwa kedisplinan harus ada kalau tidak disipin percuma berdiri di hadapan umat.
Dia berhap semua pastores harus membangun kebersamaan, tekun menjankan hidup doa, jangan setengah-setengah. Dia mengambil contoh bila umat sering dengan diawali doa maka hidup rohani lebih mudah.
“Hidup doa lebih penting sebagai imam perlu harus rutin, taat aturan dalam Muspaspas ini,” katanya.
Ketua Panitia Muspaspas, Keuskupan Agung Merauke, Romo Johanes Joenmo Kandam dalam arahannya menyebut tahun 2026, kegiatan Mupaspas dilaksanakan di Keuskupan Agung Merauke setiap dua kali dalam setahun.
Dua menyebut bahwa pertemuan para pastor sangat penting, karena menghimpung semua imam dalam persaudaraan untuk melayani seluruh umat katolik. Dia mengatakan pertemuan tersebut juga yang dilakukan dua kali setahun, dengan topic tertentu yang dibawaka dua imam yang berkarya di Jayapura tepatnya STFT “Fajar Timur” Abepura-Jayapura. Dia menambahkan para pakar tersebut berguna untuk membekali para imam demi menambah para imam untuk hidup berpastoral degan baik.
Dia berharap bekal tersebut untujk menjadi modal berpastoral di Keuskupan Agung Merauke dan siap memberikan perhatian yang tulus. Dia menyebutkan, aturan tersebut berguna. Dalam masa ret-reat tepatnya diakhir pertemuan, tersebut dundang Mgr,Vitus Rubianto Solichin SX, Uskup Padang, untuk memberikan materi ret-reat tersebut. (Agapitus Batbual/Merauke)




