Selasa, Februari 3, 2026

Bacaan dan Renungan Hari Senin 9 Februari 2026, Pekan Biasa ke-V (Hijau)

Bacaan I – 1Raj. 8:1-7,9-13

Pada waktu itu raja Salomo menyuruh para tua-tua Israel dan semua kepala suku, yakni para pemimpin puak orang Israel, berkumpul di hadapannya di Yerusalem, untuk mengangkut tabut perjanjian TUHAN dari kota Daud, yaitu Sion.

Maka pada hari raya di bulan Etanim, yakni bulan ketujuh, berkumpullah di hadapan raja Salomo semua orang Israel. Setelah semua tua-tua Israel datang, maka imam-imam mengangkat tabut itu.

Mereka mengangkut tabut TUHAN dan Kemah Pertemuan dan segala barang kudus yang ada dalam kemah itu; semuanya itu diangkut oleh imam-imam dan orang-orang Lewi. Tetapi raja Salomo dan segenap umat Israel yang sudah berkumpul di hadapannya, berdiri bersama-sama dengan dia di depan tabut itu, dan mempersembahkan kambing domba dan lembu sapi yang tidak terhitung dan tidak terbilang banyaknya.

Kemudian imam-imam membawa tabut perjanjian TUHAN itu ke tempatnya, di ruang belakang rumah itu, di tempat maha kudus, tepat di bawah sayap kerub-kerub; sebab kerub-kerub itu mengembangkan kedua sayapnya di atas tempat tabut itu, sehingga kerub-kerub itu menudungi tabut serta kayu-kayu pengusungnya dari atas.

Dalam tabut itu tidak ada apa-apa selain dari kedua loh batu yang diletakkan Musa ke dalamnya di gunung Horeb, yakni loh-loh batu bertuliskan perjanjian yang diadakan TUHAN dengan orang Israel pada waktu perjalanan mereka keluar dari tanah Mesir.

Ketika imam-imam keluar dari tempat kudus, datanglah awan memenuhi rumah TUHAN, sehingga imam-imam tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan TUHAN memenuhi rumah TUHAN. Pada waktu itu berkatalah Salomo: “TUHAN telah menetapkan matahari di langit, tetapi Ia memutuskan untuk diam dalam kekelaman.

Sekarang, aku telah mendirikan rumah kediaman bagi-Mu, tempat Engkau menetap selama-lamanya.”

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Mzm. 132:6-7,8-10

  • Memang kita telah mendengar tentang itu di Efrata, telah mendapatnya di padang Yaar. “Mari kita pergi ke kediaman-Nya, sujud menyembah pada tumpuan kaki-Nya.”
  • Bangunlah, ya TUHAN, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu!
  • Biarlah imam-imam-Mu berpakaian kebenaran, dan bersorak-sorai orang-orang yang Kaukasihi! Oleh karena Daud, hamba-Mu, janganlah Engkau menolak orang yang Kauurapi!

Bacaan Injil – Mrk. 6:53-56;

Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada.

Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

***

Disentuh oleh Belas Kasih Yesus”

Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Genesaret. Begitu orang banyak mengenali Yesus, mereka segera berlari membawa orang sakit ke mana pun Ia berada. Mereka meletakkan orang-orang itu di pasar, di jalan, dan di tempat-tempat umum, dengan harapan hanya dapat menyentuh jumbai jubah-Nya. Injil mencatat bahwa semua yang menyentuh-Nya menjadi sembuh.

Perikop ini menyingkapkan kerinduan mendalam umat akan kehadiran Yesus. Mereka percaya bahwa hanya dengan menyentuh jubah-Nya, kuasa penyembuhan akan mengalir. Iman yang sederhana namun penuh keyakinan ini menjadi pintu bagi rahmat Allah.

Yesus digambarkan sebagai pribadi yang penuh belas kasih. Ia tidak menolak orang banyak yang datang, meski mungkin lelah setelah perjalanan. Ia selalu membuka diri bagi mereka yang membutuhkan. Belas kasih-Nya melampaui batas waktu, tempat, dan keadaan.

Renungan ini mengajak kita untuk bertanya: apakah kita sungguh percaya bahwa kehadiran Yesus mampu menyembuhkan luka-luka kita? Luka itu bisa berupa sakit fisik, tetapi juga bisa berupa luka batin, kegagalan, atau rasa putus asa. Seperti orang banyak di Genesaret, kita diajak untuk mendekat kepada Yesus dengan iman yang sederhana: percaya bahwa sentuhan kasih-Nya mampu memulihkan hidup kita.

Kita juga diajak untuk menjadi “jubah Yesus” bagi sesama. Artinya, melalui sikap penuh kasih, kepedulian, dan perhatian, kita dapat menjadi saluran rahmat bagi orang lain. Ketika kita hadir bagi mereka yang sakit, terluka, atau tersisih, kita sedang menghadirkan belas kasih Kristus di tengah dunia.

Maka, marilah kita mendekat kepada Yesus dengan iman yang sederhana, dan sekaligus menjadi tanda kasih-Nya bagi sesama.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau yang penuh belas kasih, kami datang kepada-Mu dengan iman yang sederhana, seperti orang banyak di Genesaret. Sentuhlah luka-luka kami, sembuhkanlah kelemahan kami, dan pulihkanlah harapan kami. Jadikanlah kami saluran kasih-Mu bagi sesama, agar melalui sikap dan tindakan kami, banyak orang merasakan kehadiran-Mu yang menyelamatkan. Teguhkanlah iman kami agar selalu percaya bahwa sentuhan kasih-Mu mampu mengubah hidup kami. Amin.

***

Santa Apolonia, Martir

Gadis ini lahir di Aleksandria, Mesir. Karena imamnya kepada Kristus, ia ditangkap, dianiaya dan dibakar hidup-hidup pada tahun 249. Peristiwa naas ini terjadi pada masa pemerintahan kaisar Philipus (244-249). Kemartirannya disebabkan oleh penolakannya untuk menyangkal imannya. Apolonia dikenal sebagai seorang martir dari gereja Kristen awal.

Santo Paulinus Aquileia, Pengaku Iman

Paulinus dikenal sebagai seorang pemimpin gereja terkenal di kota Aquileia pada abad ke 8/9. Ia lahir di desa Freuli, sebuah daerah pertanian di Italia pada tahun 726 (buku lain 750). Ia mengenyam pendidikan yang baik di bidang Gramatika sampai menjadi ahli Gramatika. Karena kepandaiannya, ia dipanggil oleh Kaisar Karolus Agung ke istana dan diangkat menjadi guru besar Gramatika; ia kemudian di tabhiskan menjadi imam dan Uskup Kota Aquileia.

Sebagai seorang Uskup, Paulinus mengikuti sinode-sinode yang diadakan pada waktu itu dalam kaitannya dengan bidaah-bidaah yang berkemabang disana. Jasanya bagi gereja amat besar dalam menghadapi para penganut ajaran sesat dan mengembalikan orang-orang itu ke pangkuan gereja yang benar. Ia juga mengutus misionaris-misionaris ke luar negeri untuk mengutuk pembaptisan orang-orang yang belum benar-benar memahami ajaran agama Kristen. Di samping itu ia rajin menggubah syair, sanjak-sanjak serta lagu-lagu rohani gereja. Ia wafat dengan tenang pada tanggal 11 Januari 804 (buku lain 802).

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini