Pertobatan Santo Paulus: Titik Balik bagi Gereja

ROMA, Pena Katolik – Saul dari Tarsus, seorang Farisi terpelajar sekaligus penentang gigih Gereja perdana, berangkat menuju Damsyik dengan kuasa untuk menangkap orang-orang Kristen. Namun, yang menghentikan perjalanannya adalah perjumpaan dengan Kristus yang bangkit, suatu pengalaman yang seketika meruntuhkan keyakinannya.

Kisah ini diceritakan tiga kali dalam Kisah Para Rasul (Kis 9, 22, dan 26), sebuah pengulangan yang menandakan betapa pentingnya peristiwa tersebut. Saul dikelilingi cahaya “lebih terang dari matahari,” jatuh ke tanah, dan mendengar namanya dipanggil dua kali: “Saul, Saul, mengapa engkau menganiaya Aku?” (Kis 26:14). Dalam keadaan buta dan bingung, ia digiring masuk ke kota, memulai transformasi yang kelak mengubah arah sejarah Kekristenan.

Apakah Paulus jatuh dari kuda?

Seni rupa sering kali mengisi kekosongan Kitab Suci. Lukisan Caravaggio yang terkenal menggambarkan Paulus jatuh dramatis dari seekor kuda. Namun, teks Kitab Suci lebih sederhana: tidak ada kuda, keledai, atau sarana transportasi lain disebutkan. Paulus hanya berkata, “Aku jatuh ke tanah” (Kis 22:7). Bisa jadi ia jatuh dari sesuatu, atau sekadar roboh di tempat ia berdiri.

Kitab Suci kerap tidak mencatat detail keseharian tanpa meniadakan kemungkinan. Fokus utama bukanlah bagaimana Paulus jatuh, melainkan mengapa ia jatuh: karena cahaya ilahi yang menyelubunginya.

Lukas bahkan menekankan waktu kejadian, “sekitar tengah hari” menegaskan bahwa peristiwa itu terjadi dalam terang penuh, bukan karena kebingungan dalam gelap. Sebagian ahli menduga Saul mungkin sedang berdoa sesuai kebiasaan Farisi yang berdoa tiga kali sehari, termasuk tengah hari, ketika cahaya itu menyapanya.

Dari Damsyik ke seluruh dunia

Sejak saat itu, hidup Paulus menjadi jawaban terus-menerus atas rahmat. Dibaptis, diutus, dan diutus kembali, ia membawa Injil ke seluruh Mediterania timur. Surat-suratnya memperlihatkan pikiran yang dibentuk Kitab Suci dan hati yang ditempa penderitaan, sukacita, serta urgensi. Pertobatan baginya bukanlah momen sekali jadi, melainkan penyerahan diri yang berkelanjutan: “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20).

Salah satu kisah kemudian menunjukkan sejauh mana penyerahan itu membawanya. Dalam perjalanan ke Roma, Paulus mengalami kapal karam di Malta (Kis 27–28). Tinggalnya yang tak terduga meninggalkan jejak iman Kristen yang abadi di kepulauan itu, mengingatkan bahwa bahkan bencana dapat menjadi kesempatan rahmat. Jalan ke Damsyik tidak berakhir dengan pertobatan Paulus; jalan itu membuka kehidupan yang terus dipimpin—kadang dengan paksa—ke tempat Injil paling dibutuhkan.

Pesta Pertobatan Santo Paulus yang dirayakan setiap 25 Januari mengingatkan bahwa Allah campur tangan dalam waktu dan tempat yang biasa. Pengalaman Paulus tetap menjadi tanda bahwa satu perjumpaan dengan Kristus dapat mengubah arah hidup selamanya.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini