Senin, Januari 19, 2026

Cahaya Natal dalam Hidup Bartolo Longo

Natal selalu menjadi perayaan yang penuh cahaya. Lilin-lilin dinyalakan, lagu-lagu sukacita bergema, dan hati manusia diarahkan pada palungan Betlehem, tempat Sang Sabda menjadi daging. Namun di balik gemerlap itu, Natal sesungguhnya adalah kisah tentang terang yang menembus kegelapan.

Sosok St. Bartolo Longo, seorang awam Katolik dari Italia abad ke-19, menghadirkan kisah hidup yang sangat selaras dengan misteri Natal: perjalanan dari kegelapan menuju terang Kristus, dari keputusasaan menuju pengharapan, dari dosa menuju rahmat.

Bartolo Longo lahir pada tahun 1841 di Latiano, Italia. Ia tumbuh dalam keluarga Katolik, tetapi ketika dewasa ia terseret ke dalam arus rasionalisme dan anti-Gereja yang kuat pada masa itu. Bahkan, ia sempat menjadi imam okultisme dan terlibat dalam praktik spiritisme. Hidupnya diliputi kegelapan, kebingungan, dan kehampaan.

Namun, seperti Natal yang menyalakan terang di malam yang gelap, rahmat Allah menyentuh Bartolo. Melalui bimbingan seorang imam Dominikan, ia bertobat, kembali ke Gereja, dan menyerahkan hidupnya untuk karya pelayanan. Pertobatan ini menjadi titik balik yang luar biasa: dari seorang yang pernah menentang Gereja, ia berubah menjadi rasul Rosario dan pelayan kaum miskin.

Natal adalah peristiwa Allah yang masuk ke dalam kegelapan dunia. Bartolo Longo adalah saksi bahwa terang Kristus mampu menembus kegelapan pribadi manusia. Seperti para gembala yang datang dari malam gulita menuju cahaya palungan, Bartolo pun berjalan dari bayang-bayang dosa menuju terang kasih Allah.

Rosario dan Natal

Bartolo Longo dikenal sebagai “Rasul Rosario.” Ia mendirikan Basilika Rosario di Pompeii, dan melalui devosi Rosario ia menyalakan kembali iman banyak orang. Rosario sendiri adalah doa yang merenungkan misteri kehidupan Kristus bersama Maria, misteri Natal, Kelahiran Yesus, menjadi salah satu peristiwa yang selalu diulang dalam doa Rosario.

Bagi Bartolo, Rosario adalah jalan sederhana untuk masuk ke dalam misteri iman. Ia percaya bahwa melalui Rosario, orang dapat merasakan kehadiran Maria yang menuntun kita kepada Kristus. Natal, dalam terang Rosario, bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi pengalaman rohani yang terus hidup. Dengan Rosario, Bartolo mengajak umat untuk menyambut Kristus yang lahir dalam hati setiap hari.

Natal adalah misteri inkarnasi dan Rosario adalah jalan untuk merenungkan inkarnasi itu. Bartolo Longo mengajarkan bahwa doa sederhana bisa membuka pintu bagi keajaiban Natal dalam hidup kita.

Kabar Pengharapan

Bartolo Longo tidak hanya membangun Basilika, tetapi juga mendirikan sekolah, panti asuhan, dan karya sosial bagi anak-anak yatim dan kaum miskin di Pompeii. Ia tahu bahwa iman tidak cukup berhenti pada doa; iman harus diwujudkan dalam kasih.

Natal adalah kabar pengharapan bagi mereka yang miskin dan tersisih. Bayi Yesus lahir di kendang maka Bartolo Longo melihat wajah Kristus dalam anak-anak yatim, dalam orang miskin, dalam mereka yang tersingkir. Dengan penuh kasih, ia menjadikan hidupnya palungan tempat Kristus lahir kembali melalui pelayanan.

Refleksi Natal bersama Bartolo mengajak kita untuk melihat bahwa Kristus hadir dalam wajah sesama. Natal adalah kesempatan memberi makan yang lapar, mendidik yang tak bersekolah, menghibur yang putus asa, menjadikan Natal sebagai saat kelahiran baru bagi mereka.

Dari Putus Asa ke Sukacita

Natal adalah jawaban atas “keputusasaan” manusia. Allah tidak tinggal jauh di surga, melainkan turun menjadi manusia, hadir di tengah kita. Ada pengalaman pribadi Bartolo Longo yang merasa tak layak, dan justru dipeluk oleh Allah yang penuh belas kasih. Dari putus asa, ia beralih ke sukacita. Dari Bartolo, Natal adalah kabar baik bagi semua orang, termasuk mereka yang merasa jauh dari Allah.

Natal dan Pompeii

Pompeii dikenal sebagai kota yang hancur oleh letusan gunung berapi Vesuvius. Namun melalui karya Bartolo Longo, Pompeii menjadi kota doa, kota pengharapan. Basilika Rosario berdiri di sana, menjadi tanda bahwa dari reruntuhan bisa lahir kehidupan baru.

Dari kandang yang sederhana, lahir Sang Juruselamat. Dari reruntuhan dunia, lahir pengharapan baru. Bartolo menjadikan Pompeii simbol Natal yang hidup, tempat yang pernah hancur kini menjadi pusat doa dan kasih. Di sini, Natal melahirkan kehidupan baru dari kehancuran.

Dalam dunia modern yang penuh kebingungan, Bartolo Longo menjadi teladan yng menunjukkan, bahwa pertobatan selalu mungkin. Doa sederhana mengubah hidup, bahwa kasih nyata bisa melahirkan pengharapan.

Kisah hiduo Bartolo adalah contoh, saat misteri Natal bisa dihidupi dalam kehidupan nyata. Ia berjalan dari “kegelapan okultisme” menuju “terang Kristus”, dan menjadikan Rosario sebagai jalan sederhana menuju misteri Natal. Batrolo menghadirkan pengharapan bagi kaum miskin lalu menjadikan Pompeii simbol kebangkitan.

Ketik melihat Natal dalam kacamata Bartolo, setiap orang akan melihat peristiwa pertobatan, doa, pengharapan, dan kasih, yang menjadikan hidup sebagai palungan, tempat Kristus lahir kembali dalam kehidupan nyata.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini