Jalan Kudus Martir Verona

VERONA, Pena Katolik – Suatu ketika, St. Peter dari Verona berkhotbah di banyak. Saat itu, ia berkhotbah di bawah terik matahari. Cuaca begitu panas, namun umat tetap setia mendengar pengajaran Peter.

Di antara para pendengarnya itu, ada beberapa bidah yang mencoba “mengganggu” pewartaan Peter. Mefeka menantangnya untuk mencarikan tempat berteduh bagi para pendengarnya. Berulang meraka berteriak “panas”, dan mengejek Peter karena tidak bisa menyediakan tempat berteduh.

Ajaib, ketika Peter sejenak berdoa awan di atas mereka tiba-tiba berwarna sedikit menghitam, memberi keteduhan bagi siapa saja di bawahnya. Peter kembali melanjutkan pewartaannya, di bawah awan yang memberi peteduhan untuk mereka. Setiap orang yang datang pun heran, termasuk pada bidah yang tadi mengejek Peter.

Menurut ceriya, Peter selama hidupnya sering berbincang dengan para santo, termasuk para martir perawan, yaitu St. Katarina, St. Agnes, dan St. Cecilia, padahal mereka hidup pada masa yang berbeda-beda. Sebuah legenda yang menunjukkan kesucian St. Peter dari Verona, seorang martir yang gugur karena mempertahankan imannya.

Lahir untuk Melawan Bidah

Peter lahir di kota Verona dalam keluarga yang mungkin menganut ajaran sesat Katarisme. Namun, Peter bersekolah di sekolah Katolik dan kemudian di Universitas Bologna. Pada usia 15 tahun, ia bertemu St. Dominikus. Peter bergabung dengan Ordo Para Pengkhotbah, yang juga dikenal sebagai Ordo Dominikan, dan menjadi pengkhotbah yang terkenal di seluruh Italia utara dan tengah.

Sejak tahun 1230-an, Peter berkhotbah menentang ajaran sesat, khususnya Katarisme, yang memiliki banyak pengikut di Italia Utara pada abad ke-13. Paus Gregorius IX mengangkatnya sebagai Inkuisitor Jenderal untuk Italia utara pada tahun 1234, dan Peter menyebarkan Injil ke hampir seluruh Italia, berkhotbah di Roma, Firenze, Bologna, Genoa, dan Como. Ia dianggap sebagai pendiri Venerabilis Arciconfraternita della Misericordia dari Firenze sekitar tahun 1240.

Pada tahun 1251, Paus Inosensius IV mengakui keutamaan Peter, di antaranya ketegasan hidup dan doktrinnya, bakatnya dalam berkhotbah, dan semangatnya untuk iman Katolik ortodoks, dan mengangkatnya sebagai Inkuisitor di Lombardia. Ia menjabat selama sekitar enam bulan, dan tidak jelas apakah ia pernah terlibat dalam persidangan apa pun. Satu-satunya tindakannya yang tercatat adalah pernyataan pengampunan bagi mereka yang mengaku sesat atau bersimpati terhadap sesat.

Dalam khotbah-khotbahnya, Peter mengecam ajaran sesat dan juga umat Katolik yang mengakui Iman dengan kata-kata, tetapi bertindak bertentangan dengannya dalam perbuatan. Kerumunan orang datang menemuinya dan mengikutinya; banyak yang bertobat, termasuk banyak umat Kathar yang kembali ke Gereja Katolik.

Kemartiran

Karena keprah Peter, sekelompok orang di Milan berkonspirasi untuk membunuhnya. Mereka menyewa seorang pembunuh bayaran, Carino dari Balsamo. Rekan Carino adalah Manfredo Clitoro dari Giussano. Pada tanggal 29 April 1252, ketika Peter kembali dari Como ke Milan, kedua pembunuh itu mengikuti Peter ke sebuah tempat terpencil di dekat Barlassina, dan di sana membunuhnya serta melukai parah rekannya, seorang biarawan bernama Domenico.

Carino memukul kepala Peter dengan kapak dan kemudian menyerang Domenico. Peter berlutut dan mendaraskan pasal pertama dari Kredo Para Rasul. Menurut legenda, ia mempersembahkan darahnya sebagai kurban kepada Tuhan dengan mencelupkan jari-jarinya ke dalam darah dan menulis di tanah: Crede atau Crede in unum Deum, kata-kata pertama dari kredo tersebut.

Pukulan itu menyebabkan kepalanya putus. Ia menjadi martir pada usia 46 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Basilica Sant’Eustorgio di Milan, Italia.

Carino, sang pembunuh, kemudian bertobat dan mengakui kejahatannya. Ia berpindah agama ke Gereja Katolik dan akhirnya menjadi seorang bruder awam di biara Dominikan di Forlì.

Teladan Kesucian

Seperti S. Dominikus, St. Petrus dari Verona adalah seorang pengkhotbah bagi kaum bidah Albigensian Kathar. Para bidah ini percaya, bahwa materi fisik itu jahat, membenci tubuh, membenci pernikahan, dan pada dasarnya menganut pandangan Manichean tentang alam semesta.

Peter adalah seorang pengkhotbah terkenal dan banyak orang mengikutinya ke seluruh Italia. Santo Petrus Martir adalah teladan untuk mengasah teologi Katolik dan secara aktif mengajarkan kebenaran.

Peter mempertobatkan banyak bidat Carhar/Albigensia dan membawa mereka kembali ke ajaran iman yang benar. Ia membimbing umat Katolik untuk menghidupi ajaran Gereja yg diimani dgn perbuatan nyata.

Peter juga membantu berdirinya Ordo Servite ‘Hamba Santa Perawan Maria’. Ordo ini secara resmi dikenal sebagai Ordo Pelayan Maria (Latin: Ordo Servorum Beatae Mariae Virginis/OSM). Ordo ini mencakup beberapa cabang biarawan (imam dan biarawan), biarawati kontemplatif, kongregasi biarawati, dan kelompok awam. Tujuan ordo ini adalah pengudusan para anggotanya, pewartaan Injil, dan penyebaran devosi kepada Bunda Maria, khususnya kepada penderitaannya. Para biarawan Servite menjalani kehidupan komunitas dalam tradisi ordo mendikan.

Penggelaran Kudus

Banyak mukjizat yang dikaitkan dengan St. Peter dari Verona selama hidupnya dan bahkan lebih banyak lagi setelah kemartirannya.

St. Peter dikanonisasi pada masa kepausan Paus Inosensius IV pada tanggal 9 Maret 1253. Ia diperingati setiap 6 April. Meskipun demikian, para Dominikan merayakannya pada tanggal 4 Juni. Perayaannya tidak dirayakan pada tanggal 29 April, pada tanggal kematiannya, karena sering berbenturan dengan Triduum Paskah. Patung-patung di pintu besar Gereja Dominikan di Verona, menggambarkan adegan-adegan dari kehidupan Santo Petrus Martir.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini