VATIKAN, Pena Katolik – Delapan bulan setelah terpilih, Paus Leo XIV menggelar konsistori luar biasa pertamanya bersama kolegio kardinal. Pertemuan tertutup ini diadakan untuk refleksi dan discernment atas tantangan besar yang dihadapi Gereja dan dunia.
Pada sesi pembukaan, Paus yang berasal dari tarekat Agustinus mempercayakan meditasi awal kepada Kardinal Timothy Radcliffe OP, seorang dominikan asal Inggris yang baru bergabung dalam kolegio kardinal dan dikenal luas sebagai pengkhotbah serta pembimbing rohani.
Kardinal Radcliffe mengawali refleksinya dengan kisah Injil Markus tentang Yesus berjalan di atas air. Ia menafsirkan perahu Petrus sebagai gambaran pelayanan Paus dan tugas para kardinal: “mendampingi Bapa Suci dan tidak membiarkannya menghadapi badai seorang diri.”
“Kita tidak bisa tinggal di pantai sambil berkata: ‘Hari ini aku tak mau berlayar’ atau ‘Aku lebih suka perahu lain’,” tegas Kardinal Radcliffe.
Kardinal Radcliffe menekankan bahwa dukungan pertama bagi Paus adalah menjaga perdamaian di antara para kardinal. Jika perahu dipenuhi pertengkaran yang sia-sia, Gereja akan kehilangan daya untuk menopang penerus Petrus dalam tugasnya membangun persekutuan.
Kardinal Radcliffe kemudian memperluas pandangan ke konteks global: meningkatnya kekerasan, ketidaksetaraan yang makin tajam, serta runtuhnya tatanan internasional. Ia juga menyinggung ketidakpastian dampak nyata kecerdasan buatan (AI) terhadap kehidupan manusia.
Dengan keterbukaan yang sama, ia menyoroti “badai” internal Gereja: kasus-kasus pelecehan dan perpecahan ideologis. Kardinal Radcliffe mengajak para kardinal untuk tidak bersembunyi di tepi pantai, melainkan berani berlayar di tengah kesulitan dengan kebenaran dan keberanian.
Di hadapan konsistori, Radcliffe menawarkan gaya percakapan gerejawi yang memadukan tradisi dan kebaruan tanpa saling meniadakan. Ia menyerukan untuk menjaga memori iman sekaligus terbuka pada karya Roh Kudus yang selalu baru.
Meditasi ditutup dengan ajakan untuk tidak mengeraskan hati, melainkan percaya bahwa Allah akan melipatgandakan apa pun yang kita persembahkan, terutama bila dibagikan dalam semangat komuni, mendengarkan, dan berjalan bersama demi misi Gereja. Konsistori luar biasa ini menjadi tonggak awal kepemimpinan Paus Leo XIV, menegaskan panggilan Gereja universal untuk bersatu menghadapi badai dunia dan tetap setia pada misi Kristus.



