CARACAS, Pena Katolik – Di tengah keheningan biara Caracas, kisah tentang ketabahan dan kemenangan atas keterbatasan telah sampai ke altar Gereja Katolik. Kisah itu bukan tentang pasukan besar, melainkan tentang seorang perempuan yang lahir dengan disabilitas fisik namun mengisi kekosongan spiritual bangsanya: Santa Carmen Rendiles Martínez.
Santa Carmen, yang akrab disebut Ibu Carmen, lahir pada 1903 tanpa lengan kiri. Di awal abad ke-20, kondisi itu bisa berarti keterasingan sosial. Namun, apa yang kurang pada tubuhnya justru menjadi kekuatan rohaninya. Ia sempat menggunakan prostesis kayu, tetapi segera meninggalkannya dan menjadikan keterbatasan itu sebagai sarana kerasulannya.
Ibu Carmen mendirikan Kongregasi Hamba-Hamba Yesus, yang berfokus pada pendidikan dan pelayanan bagi kaum miskin. Mereka yang melihatnya berjalan di koridor sekolah atau rumah misi tidak lagi memperhatikan lengan yang hilang. Ia menulis, menjahit, memasak, dan mengatur segala sesuatu dengan cekatan.
Beatifikasinya pada 2018 dan kanonisasinya pada Oktober 2025 menjadi peristiwa gerejawi, serta napas harapan bagi rakyat Venezuela.
Mukjizat yang mengukuhkan beatifikasinya terjadi pada seorang dokter bedah Venezuela, Trinette Durán de Branger, yang mengalami sengatan listrik parah di lengan kanannya. Bertahun-tahun, ia menderita nyeri kronis dan kehilangan fungsi tangan yang sangat penting bagi profesinya. Setelah berdoa memohon perantaraan Ibu Carmen di kapel tempat sang santa dimakamkan, ia merasakan panas luar biasa. Keesokan harinya, ia sembuh total.
Seorang imam kemudian berkhotbah bahwa Ibu Carmen lahir tanpa satu lengan. Trinette, yang sebelumnya tidak tahu, merasa seolah sang santa “memberikan” lengannya agar ia bisa terus melayani sebagai dokter.
Harapan bagi Bangsa
Dalam beberapa kesempatan, termasuk doa Angelus 4 Januari dan pidato kepada Korps Diplomatik 9 Januari, Paus Leo XIV menyinggung Santa Carmen Rendiles sebagai teladan iman. Paus menyerukan agar kekerasan di Venezuela diakhiri dan kedaulatan rakyat dihormati.
Devosi kepada Santa Carmen kini berkembang pesat di Venezuela. Ia menjadi bukti bahwa kekudusan tidak menuntut kesempurnaan fisik, melainkan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah.
Bagi umat yang mencium gambarnya di paroki sederhana di Petare, Santa Carmen bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah kepastian bahwa meski satu lengan hilang untuk memikul beban dunia, jiwa tetap memiliki kekuatan untuk merangkulnya.
Kanonisasi Santa Carmen menjadi tanda harapan bagi bangsa Venezuela yang terluka namun tetap teguh. Ia adalah bunga yang mekar di atas beton, tangan tak terlihat yang menopang sebuah bangsa yang terus berdoa, percaya, dan berjuang demi kehidupan.



