Home BERITA TERKINI Kisah Santo Petrus Claver dan Keberhasilannya Membaptis 300 Ribu Orang

Kisah Santo Petrus Claver dan Keberhasilannya Membaptis 300 Ribu Orang

0

CARTAGENA, Pena Katolik – Santo Petrus Claver adalah seorang misionaris Yesuit asal Spanyol yang hidup pada sekitar abad ke-17. Berkat dorongan dari sahabatnya, Santo Alfonsus Rodriguez, Claver rela diutus ke koloni Spanyol di Benua Amerika, yang disebut Spanyol Baru (New Spain) tepatnya di wilayah Cartagena, kini wilayah Kolombia. Namun sesampainya di sana, ia segera terkejut melihat praktik perdagangan budak dan kondisi hidup mereka yang sangat mengenaskan.

Setelah mendengar cerita Romo Alfonsus, Pastor Claver mengajukan diri untuk dikirim ke sana Spanyol Baru (New Spain). Namun, dan tak lama setelah tiba, ia merasa ngeri dengan perdagangan budak dan kondisi kehidupan orang-orang yang diperbudak.

Selama pelayanannya ini, Claver berhasil membaptis 300.000 orang, sebagain besar adalah para budak yang ia layani. Claver menjadi teman, sekaligus imam bagi para budak itu. Tindakan yang menyentuh hati mereka.

Dari sanalan, orang-orang yang diperbudak ini memilih baptisan. Mereka mempercayai Claver, bukan karena kedalaman pengetahuan teologisnya, tetapi karena kasih sayang yang ia tunjukkan kepada mereka. Lewat keberhasilan ini, maka metode penginjilan Claver adalah salah satu yang terbaik, karena menyentuh inti Injil, menyentuh setiap jiwa dengan kasih Kristus.

Menjadi Satu

Claver menjadi layaknya teman bagi para budak itu. Dalam kebersamaan dengan mereka, ia tidak saja berfokus pada pertobatan dan pembaptisan mereka. Claver bahkan berusaha memenuhi kebutuhan fisik mereka.

Claver seolah menjadi satu dengan para budak itu. Hari-hari Claver dihabiskan dengan menaiki kapal-kapal yang berisi budak. Ia datang dan merawat budak-budak yang sakit dan memerlukan bantuan. Kisah ini ia tuangkan dalam salah satu suratnya merangkum pengalaman sehari-harinya.

“Oleh karena itu, kami (Claver dan Alfonsus) menanggalkan jubah kami dan mengambil dari gudang apa pun yang tersedia untuk membangun sebuah platform untuk merawt orang-orang yang sakit.”

Untuk memudahkan merawat mereka, Claver membagi mereka yang sakit menjadi dua kelompok: satu kelompok dirawat oleh rekannya dengan seorang penerjemah, sementara ia merawat kepada kelompok lainnya.

“Ada dua orang kulit hitam, lebih dekat dengan kematian daripada kehidupan, sudah kedinginan, denyut nadi mereka hampir tidak terdeteksi. Dengan bantuan sebuah ubin, kami mengumpulkan beberapa bara api dan menempatkannya di tengah dekat orang-orang yang sekarat itu. Ke dalam api ini kami melemparkan rempah-rempah.”

Di atas segalanya, St. Peter Claver ingin memastikan bahwa orang-orang yang diperbudak ini diperlakukan sebagai manusia sejati. Ia tidak peduli apa yang orang lain pikirkan tentangnya dan sebaliknya ingin menghidupi Injil Yesus Kristus.

“Kami memiliki dua kantong penuh rempah-rempah, dan kami menggunakannya semua pada kesempatan ini. Kami memberikan perawatan asap kepada mereka, yang tampaknya membuat mereka kembali hangat dan bernapas. Kegembiraan terlihat lagi di mata mereka, saat mereka memandang kami, sungguh menakjubkan.”

Claver menggunakan jubahnya dan dipakaikan untuk orang yang sakit. Dalam surat itu, Claver menjelaskan bagaimana “bahasa penyembuhan” ini adalah bahasa terbaik yang pernah ia gunakan.

“Beginilah cara kami berbicara kepada mereka, bukan dengan kata-kata tetapi dengan tangan dan tindakan kami.”

Dengan kehadiran Claver, para budak menemukan kembali kehidupannya. Mereka kembali tersenyum, dan terutama meras dicintai. Claver ada untuk mereka, ia hadir dan menjadi pelindung untuk mereka. Dengan segala Upaya, Claver menemani para budak menemukan kembali kehidupan mereka.

“Kami duduk, atau lebih tepatnya berlutut, di samping mereka dan membasuh wajah dan tubuh mereka dengan anggur. Kami melakukan segala upaya untuk menyemangati mereka dengan gerakan ramah dan menunjukkan di hadapan mereka emosi yang secara alami cenderung menghibur orang sakit.”

Misionaris di Pelabuhan

Setiap kali kapal budak dari Afrika merapat di pelabuhan Cartagena, Claver akan selalu hadir. Ia hadir dengan tangan penuh biskuit dan lemon, yang ia kumpulkan dari penduduk kota. Sontak, ia membagikan makanan itu kepada para budak yang baru tiba. Saat menemui beberapa jenazah budak dari kapal, ia mencium mereka yang meninggal dan berdoa. Selanjutnya, Claver menggendong yang sakit ke daratan untuk duduk di tempat teduh.

“Kami menyambut mereka, dan saya memberikan mereka makanan yang kami bawa, beruntung orang-orang di kota ada yang bermurah hati,” ungkap Claver dalam suratnya.

Padahal, sebagai seorang Jesutit, Claver sendiri hidup dalam kemiskinan ekstrem. Setiap hari, ia nyaris tidak makan dan menjalani hidup dengan pola makan yang sangat kurang. Sutuasinya tak ubahnya dengan seseorang yang kelaparan. Semua yang ia miliki ia berikan demi merawat para budak. Mereka tiba setiap beberapa minggu, sebelum mereka dijual ke perkebunan gula yang kejam.

Pada masa itu, Cartagena adalah pusat perdagangan budak di Dunia Baru. Kota tropis yang panas dan penuh penyakit ini menjadi tempat transit ribuan budak dari Afrika. Sekitar sepertiga dari mereka meninggal dalam perjalanan laut yang panjang dan penuh penderitaan, sementara banyak lainnya mati akibat kondisi kerja yang tidak manusiawi. Claver memilih untuk berbagi penderitaan mereka, menjadi pelayan bagi mereka sejauh yang ia mampu.

Dalam catatan Arnold Lunn, penulis A Saint in the Slave Trade, Claver mengajarkan Injil kepada para budak dengan penuh hormat. Para budak itu senang mendengar pewartaan Claver. Namun hal ini tidak dengan para pedagang budak, mereka marah.

“Mereka adalah tamu saya, dan di mata Kristus, mereka lebih penting daripada saya,” kata Claver kepada para pedagang budak.

Salah satu harta benda Claver hanyalah sebuah jubah tua. Jubah ini ia gunakan untuk membungkus tubuh budak yang menggigil, dijadikan bantal bagi yang sakit, bahkan menutupi luka-luka menjijikkan atau membungkus jenazah. Para penerjemahnya terkejut melihat betapa jubah itu menjadi kotor dan penuh penyakit, tetapi Claver tetap memakainya kembali tanpa ragu. Jubah itu kemudian dikenal sebagai “simbol kasih tanpa batas”.

Kehidupan St. Petrus Claver

St. Petrus Claver lahir dengan nama lengkap Pedro Claver y Corberó (Catalan: Pere Claver i Sobocano). Ia lahir pada 26 Juni 1580 di Verdú, Catalonia, Spanyol. Ia lahir dari keluarga Katolik yang taat dan makmur. Sejak muda ia menunjukkan kecerdasan dan kesalehan. Saat belajar di Universitas Barcelona, ia menulis tekad hidupnya: “Aku harus mengabdikan diri kepada Allah sampai mati, dengan pengertian bahwa aku seperti seorang budak.”

Pada usia 20 tahun ia masuk Serikat Yesus (SJ) di Tarragona. Saat studi filsafat di Palma, Mallorca, ia berjumpa dengan Santo Alfonsus Rodriguez, seorang bruder Yesuit yang mendorongnya untuk melayani di koloni Spanyol di Dunia Baru.

Setelah tahbisan, Claver tiba di Cartagena pada 1610, pusat perdagangan budak di Dunia Baru. Setelah enam tahun studi teologi, ia ditahbiskan imam pada 1622. Ia melanjutkan karya pendahulunya, Alonso de Sandoval, yang telah melayani para budak Afrika.

Selama 40 tahun pelayanan, Claver diperkirakan membaptis sekitar 300.000 orang dan mendengarkan pengakuan dosa lebih dari 5.000 orang setiap tahun. Ia dikenal sebagai “Servus Aethiopum Semper” ‘Hamba orang Afrika selamanya’, sebagaimana ia tulis dalam profesi akhir imamatnya.

Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Claver sakit parah dan dirawat dengan buruk oleh seorang mantan budak. Ia menerima penderitaan itu sebagai penebusan dosa. Ia wafat pada 8 September 1654. Berita kematiannya membuat masyarakat Cartagena berduka; kamar tempat ia tinggal segera dikosongkan karena dianggap penuh relikui.

St. Petrus Claver dikanonisasi pada 1888 oleh Paus Leo XIII, bersama St. Alfonsus Rodriguez. Pada 1896, Paus Leo XIII menetapkannya sebagai pelindung misi bagi bangsa Afrika. Kongres Kolombia menetapkan 9 September sebagai Hari Nasional Hak Asasi Manusia untuk menghormatinya.

Saat ini, jenazahnya disemayamkan di Gereja San Pedro Claver, Cartagena. Hingga kini, nama Petrus Claver diabadikan dalam banyak lembaga: Knights of Peter Claver, Inc. – organisasi fraternal Katolik terbesar bagi umat Afrika-Amerika di AS; Missionary Sisters of St. Peter Claver – kongregasi religius yang melayani kaum miskin, khususnya di Afrika. Banyak paroki, sekolah, dan rumah sakit di seluruh dunia yang memakai namanya, termasuk di Amerika Serikat, Afrika, dan Amerika Latin.

Santo Petrus Claver adalah teladan kasih Kristiani yang nyata. Ia mengabdikan hidupnya bagi para budak yang menderita, menjadikan Injil sebagai tindakan nyata penuh belas kasih. Warisannya terus hidup dalam karya Gereja dan dalam setiap usaha membela martabat manusia.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version