Home BERITA TERKINI Relikui Kerudung St. Maria di Katedral Jakarta

Relikui Kerudung St. Maria di Katedral Jakarta

0

JAKARTA, Pena Katolik – Sejak Agustus 2022, di Katedral St. Maria Diangkat ke Surga Jakarta tersimpan Relikui Kerudung St. Maria, Ibu Yesus. Katedral Jakarta mendapatkan relikui ini dari Basilika Santo Fransiskus di Assisi, Italia.

Awalnya, Romo Salvatore Sabato OFMConv (alm) memohon kepada Kustos di Sacro Convento agar bagian kecil dari Relikui dipersembahkan kepada Gereja Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Katedral Jakarta. Setelah mendapat Relikui Kedurung St. Maria ini, ia kemudian menyerahkan relikui ini kepada Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo pada tanggal 28 Agustus 2022. Saat itu, Romo Salvatore bertemu dengan Karinal Suharyo di Roma.

Selanjutnya, relikui itu diserahkan kepada Kepala Paroki Katedral Jakarta, Romo Hani Rudi Hartoko SJ. Selanjutnya, Relikui Kerudung Bunda Maria ini ditempatkan di Altar Maria di salah satu sayap bagian depan di dekat altar utama Katedral Jakarta.

Romo Hani mengatakan, Relikui Kerudung St. Maria ini adalah relikui “kelas dua”. Hal ini karena St. Maria diangkat ke Surga dengan jiwa dan badannya. Ini berarti, tidak ada sisa-sisa tubuh St. Maria yang tersisa di dunia.

“Relikui kelas pertama adalah bagian dari tubuh dari orang kudus itu, karena Bunda Maria diangkat ke Surga dengan badan dan jiwanya, maka tidak ada bagian tubuhnya yang tersisa menjadi relikui, yang ada adalah apa yang dikenakan. Dan ini adalah kerudung yang dikenakan Bunda Maria,” ungkap Romo Hani.

Relikui para santo-santa diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yang mewakili tingkat hubungan yang berbeda. Relik kelas satu adalah sisa-sisa fisik orang kudus (tulang, darah, rambut) atau barang-barang dari Sengsara Yesus. Relikui kelas dua adalah barang-barang pribadi (pakaian, buku) yang digunakan oleh santo. Sedangkan relikui kelas tiga adalah benda-benda yang disentuh dengan relik kelas satu atau dua, sehingga menjadi penghubung dengan santo melalui kontak, seringkali berupa kartu suci atau kain, dengan penghormatan yang berfokus pada santo dan Tuhan, bukan pada benda itu sendiri.

Relikui Kerudung Perawan Maria yang tersimpan di Katedral Jakarta bertuliskan Ex Velo B.M.V. (Beata Maria Virgo) atau Ex Veil Blessed Virgin Mary. Relikui ini adalah bagian dari Santa Camisa yang dibawa dari Yerusalem ke Konstantinopel.

Romo Salvatore mendapatkan relikui ini saat bertugas di Italia. Ia sebelumnya menjadi imam di Paroki St. Lukas Sunter sebelum pindah tugas ke Italia pada 2002. Romo Salvatore setelah mendapatkan potongan kecil dari relikui ini, ia ingin agar ditakhtakan di Gereja Santa Maria Diangkat Ke Surga, Katedral Jakarta.

Altar Maria tempat Penyimpanan Relikui Kerudung Maria di Katedral St. Maria Diangkat ke Surga Jakarta. IST

Dari Yerusalem

Sejak abad ke-14, kerudung disimpan di Basilika Santo Fransiskus di Assisi dan diperlihatkan kepada umat setiap Hari Raya Maria Santa Diangkat ke Surga (15 Agustus) dan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda (8 Desember).

elikui kerudung Bunda Maria yang tersimpan di Basilika Santo Fransiskus Assisi memiliki sejarah panjang yang penuh makna. Menurut catatan Felice Autieri OFMConv, relikui ini sudah ada sejak tahun 1320, dipersembahkan oleh Tommaso Orsini, seorang bangsawan dari Manopello, Italia.

Sejarawan Antonio Cristofani menuturkan bahwa relikui tersebut awalnya dibawa oleh seorang pengusaha Damaskus, Sayf al-Din Tanqis al-Nasiei, yang memperolehnya dari seseorang tak dikenal di sebuah gereja di Yerusalem. Ketika kembali ke Italia, Tommaso Orsini jatuh sakit dan bernazar kepada Santo Fransiskus: jika ia sembuh, relikui itu akan dipersembahkan kepada para saudara Fransiskan di Sacro Convento, Basilika Santo Fransiskus Assisi. Nazar itu terpenuhi, dan pada 11 Maret 1320, relikui kerudung Bunda Maria resmi dipersembahkan di depan altar makam Santo Fransiskus.

Romo Salvatore Sabato OFMConv di Gereja St. Lukas Sunter. Dok. Pribadi

Melindungi dari Wabah

Sejak saat itu, relikui ini menjadi rahmat besar bagi penduduk Assisi. Devosi kepada kerudung Bunda Maria tumbuh kuat, terutama ketika kota dilanda mara bahaya atau penyakit. Catatan sejarah menyebutkan bahwa pada wabah tahun 1362 di wilayah Umbria, para Fransiskan membawa relikui ini dalam prosesi bersama umat, diiringi doa-doa memohon pembebasan dari wabah dan keselamatan kota.

Tradisi lain yang berkembang adalah pemberkatan umat melalui pengantaraan relikui. Setiap kali prosesi selesai, Kustos Sacro Convento memberikan berkat dari atas kubah Basilika bagian superior, sehingga seluruh umat yang hadir merasakan kehadiran rahmat melalui kerudung Bunda Maria.

Relikui ini hingga kini tetap dihormati sebagai simbol iman dan pengharapan, menjadi tanda nyata bagaimana devosi kepada Bunda Maria senantiasa menguatkan umat dalam menghadapi kesulitan dan menjaga Assisi dari berbagai ancaman sepanjang sejarah.

Basilika Santo Fransiskus Assisi.Dok. Pribadi

Sejarah Panjang

Relikui kerudung Bunda Maria memiliki sejarah panjang yang penuh makna bagi umat beriman. Awalnya, relikui ini tercatat dalam inventaris pada tahun 1430. Kemudian, atas kehendak Kardinal Alessandro Peretti, relikui dipindahkan ke tempat yang sekarang. Pada tahun 1604, keluarga Camilla mempersembahkan sebuah kapel khusus, yakni Kapel Santo Yohanes Pembaptis di dalam Basilika Santo Fransiskus Assisi, agar relikui ini dapat disimpan dengan lebih layak dan terhormat.

Kerudung tersebut menjadi objek penelitian para ahli kain. Hasil kajian menunjukkan bahwa tenunannya kuno dan terbuat dari bisus, sejenis sutera laut alami yang diperoleh dari filamen moluska kerang ketika menempel pada batu. Sutera laut ini dikenal di kawasan Mediterania dan karena biaya produksinya yang sangat mahal, hanya digunakan oleh kalangan bangsawan. Pada masa itu, kerudung jenis ini sering dipamerkan oleh istri-istri tokoh berpengaruh sebagai simbol status dan kehormatan.

Pengalaman Mistik

Santo Yosef Copertino dikenal sebagai seorang mistikus Fransiskan yang hidup dengan kerendahan hati dan penuh cinta kepada Allah. Selama beberapa tahun ia tinggal di Sacro Convento, Assisi, dan di sana ia mengembangkan devosi yang mendalam kepada Relikui Kerudung Bunda Maria. Setiap kali melihat relikui tersebut, ia kerap mengalami ekstasi rohani yang luar biasa.

Catatan sejarah menyebutkan sebuah peristiwa pada 2 Juli 1646. Seusai prosesi meriah, seorang Fransiskan bernama Ludovico memanggil Copertino karena mengetahui kerinduannya untuk menghormati relikui. Dengan penuh devosi, Copertino mencium kerudung Bunda Maria. Saat itu, saksi mata melihat dirinya terangkat hingga pertengahan ruang sakristi, tanda ekstasi rohani yang begitu mendalam.

Kesaksian lain datang dari Ottavio Aromatari pada tahun berikutnya. Ia mencatat bahwa Copertino kembali diundang secara pribadi untuk menghormati relikui. Setelah berdoa dan mencium kerudung, mulut sang santo terbuka dan ia hanya mengucapkan doa sederhana: “Salam Maria.” Seketika itu, tubuhnya terdorong beberapa langkah ke belakang dan kembali terangkat dalam ekstasi.

Peristiwa-peristiwa ini memperlihatkan betapa besar kasih dan iman Santo Yosef Copertino kepada Bunda Maria. Devosinya yang tulus menjadi teladan bahwa doa sederhana, bila diucapkan dengan hati penuh iman, mampu membawa manusia pada pengalaman rohani yang mendalam dan persatuan yang lebih erat dengan Allah. Relikui Kerudung Bunda Maria, yang dihormati di Assisi, menjadi sarana rahmat yang meneguhkan iman umat sekaligus menyinari perjalanan hidup Santo Yosef Copertino.

Tanda Kasih

Bagi umat beriman, relikui kerudung Bunda Maria menjadi tanda kasih dan perlindungan ilahi. Hingga kini, umat dan para peziarah dapat berdoa serta menghormatinya dua kali setahun, yaitu pada 15 Agustus saat Hari Raya Maria Diangkat ke Surga, dan pada 8 Desember dalam perayaan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa.

Relikui ini tetap menjadi pusat devosi dan ziarah, mengingatkan umat akan peran Bunda Maria sebagai pengantara rahmat dan teladan iman yang senantiasa menuntun umat menuju Kristus.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version