Minggu, Januari 11, 2026

Bacaan dan Renungan Hari Kamis 15 Januari 2026, Hari Biasa Pekan ke-1 (Hijau)

Bacaan I – 1Sam. 4:1-11

Dan perkataan Samuel sampai ke seluruh Israel. Orang Israel maju berperang melawan orang Filistin dan berkemah dekat Eben-Haezer, sedang orang Filistin berkemah di Afek.

Orang Filistin mengatur barisannya berhadapan dengan orang Israel. Ketika pertempuran menghebat, terpukullah kalah orang Israel oleh orang Filistin, yang menewaskan kira-kira empat ribu orang di medan pertempuran itu.

Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: “Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita.”

Kemudian bangsa itu menyuruh orang ke Silo, lalu mereka mengangkat dari sana tabut perjanjian TUHAN semesta alam, yang bersemayam di atas para kerub; kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, ada di sana dekat tabut perjanjian Allah itu.

Segera sesudah tabut perjanjian TUHAN sampai ke perkemahan, bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar.

Dan orang Filistin yang mendengar bunyi sorak itu berkata: “Apakah bunyi sorak yang nyaring di perkemahan orang Ibrani itu?” Ketika diketahui mereka, bahwa tabut TUHAN telah sampai ke perkemahan itu, ketakutanlah orang Filistin, sebab kata mereka: “Allah mereka telah datang ke perkemahan itu,” dan mereka berkata: “Celakalah kita, sebab seperti itu belum pernah terjadi dahulu.

Celakalah kita! Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Inilah juga Allah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun.

Kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki, hai orang Filistin, supaya kamu jangan menjadi budak orang Ibrani itu, seperti mereka dahulu menjadi budakmu. Berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah!”

Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki. Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

Mzm. 44:10-11,14-15,24-25

  • Engkau membuat kami mundur dari pada lawan kami, dan orang-orang yang membenci kami mengadakan perampokan. Engkau menyerahkan kami sebagai domba sembelihan dan menyerakkan kami di antara bangsa-bangsa.
  • Engkau membuat kami menjadi sindiran di antara bangsa-bangsa, menyebabkan suku-suku bangsa menggeleng-geleng kepala. Sepanjang hari aku dihadapkan dengan nodaku, dan malu menyelimuti mukaku,
  • Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu dan melupakan penindasan dan impitan terhadap kami? Sebab jiwa kami tertanam dalam debu, tubuh kami terhampar di tanah.

Bacaan Injil – Mrk. 1:40-45

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.”

Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.”

Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”

Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

***

Iman yang Rendahan Hati

Seorang penderita kusta yang datang kepada Yesus dengan penuh iman dan kerendahan hati. Ia berlutut dan berkata: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Permohonan ini sederhana, namun sarat dengan kepercayaan. Ia tidak menuntut, melainkan menyerahkan dirinya sepenuhnya pada kehendak Yesus.

Yesus tergerak oleh belas kasih. Ia mengulurkan tangan, menyentuh orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga, penyakit kustanya lenyap. Tindakan Yesus sungguh radikal: menyentuh seorang penderita kusta berarti melanggar batas sosial dan ritual pada zaman itu. Namun bagi Yesus, belas kasih lebih besar daripada aturan yang memisahkan. Ia hadir untuk memulihkan, bukan mengucilkan.

Peristiwa ini mengajarkan kita beberapa hal penting: Iman yang rendah hati, orang kusta tidak memaksa, melainkan menyerahkan diri pada kehendak Yesus. Iman sejati adalah percaya bahwa Allah tahu yang terbaik bagi kita, bahkan ketika jawaban-Nya tidak sesuai dengan keinginan kita.

Belas kasih yang melampaui batas terlihat saat Yesus tidak takut menyentuh yang dianggap najis. Ia menunjukkan bahwa kasih Allah tidak mengenal sekat. Gereja pun dipanggil untuk merangkul mereka yang tersisih, miskin, sakit, atau terpinggirkan.

Sedangkan kesaksian itu meluas, meski Yesus meminta agar peristiwa itu tidak disebarkan, orang yang disembuhkan justru mewartakan kabar gembira ke mana-mana. Kasih yang dialami tidak bisa ditahan; ia harus dibagikan. Demikian juga kita, ketika mengalami sentuhan kasih Allah, kita dipanggil untuk menjadi saksi yang hidup.

Dalam konteks hidup kita, “kusta” bisa berarti segala bentuk luka batin, dosa, atau stigma sosial yang membuat kita merasa terasing. Yesus hadir untuk menyembuhkan dan memulihkan martabat kita. Pertanyaannya: apakah kita berani datang kepada-Nya dengan rendah hati, berkata: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku”?

Semoga kita semakin yakin bahwa belas kasih Kristus sanggup menyembuhkan, dan kita pun diutus untuk menjadi tanda kasih itu bagi sesama.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau yang penuh belas kasih, kami datang kepada-Mu dengan segala kelemahan dan luka hidup kami. Seperti orang kusta, kami percaya bahwa Engkau sanggup menyembuhkan dan memulihkan kami. Sentuhlah hati kami agar menjadi tahir, bebas dari dosa dan ketakutan. Jadikanlah kami saksi kasih-Mu, yang berani merangkul mereka yang tersisih dan membawa harapan bagi yang putus asa. Semoga hidup kami memancarkan terang dan belas kasih-Mu, sehingga dunia semakin mengenal Engkau sebagai Penyelamat. Kini dan selamanya. Amin.

***

Beato Arnold Janssen, Imam

Arnold Janssen adalah seorang imam berkebangsaan Jerman, pendiri dan pemimpin umum serikat Sabda Allah. Ia lahir di Goch, Jerman pada tahun 1837 dan meninggal dunia pada tahun 1909 di Steijl, Belanda.

Ia pernah menjadi guru di Bocholt. Pada tahun 1867 ia menjabat sebagai Direktur Kerasulan Doa untuk Jerman dan Austria. Perhatiannya sangat besar pada usaha penyatuan kembali umat Kristen. Untuk maksud itu, ia mengusahakan Perayaan Misa harian di makam Santo Bonifasius di Fulda.

Agar supaya ia punya lebih banyak waktu untuk kegiatan – kegiatannya, ia diangkat menjadi rektor suster – suster Ursulin di Kempen. Disana ia menerbitkan majalan “Utusan Hati Kudus”. Atas himbauan uskup Mrg. Raimondi, pada tahun 1875 ia membuka “Rumah misi”-nya di Steijl, dekat Venlo, sebab memulai karya baru di Jerman telah menjadi mustahil karena “perang kebudayaan”, yang telah berlangsung disana. DAri rumah misi ini lahirlah Serikat Sabda Allah, dengan karya – karya misi diseluruh dunia: Amerika Utara ditengah – tengah orang Negro; Amerika Latin: ARgentina, Brasil dan Chile; Asia: Cina, Jepang, Filipina, India dan Indonesia; Papua Nugini; Afrika: Akkra dan Zaire.

Ia mencari dana untuk karya ini, dengan mendirikan sebuah percetakan, yang ditanah suci dijadikan percetakan KePausan.

Maksud kedua dari percetakan ini adalah menyebarkan bacaan bermutu dan menanamkan pengetahuan tentang karya misi ini, serta menanam cinta kasih untuk karya ini. Dengan gigih ia juga memajukan ilmu pengetahuan dengan mendirikan Institut Anthropos dan Institut Kartografis Santo Gabriel di Moedlling , dekat Wina.

Banyak retret tertutup diusahakannya, baik untuk para imam maupun untuk kaum awam. Ia juga giat mempropagandakan devosi kepada Roh Kudus dan Tritunggal Mahakudus. Ia masih mendirikan dua kongregasi suster yaitu: Kongregasi Suster Abdi Roh Kudus dan Kongregasi Suster Sembah Sujud Abdi Roh Kudus. Kongregasi suster yang pertama pergi ke daerah – daerah misi, sedangkan yang kedua menyelenggarakan sembah sujud abadi untuk memohonkan berkat Tuhan atas karya misi itu.

Pada tahun 1935 proses informatif untuk pernyataan dirinya sebagai Beato diadakan, sedangkan proses Apostolik dibuka pada tahun 1943.

Santo Maurus dan Plasidus dkk, Martir

Santo Benediktus sungguh harum namanya di seluruh Italia. Ia tinggal di Subiako. Banyak keluarga terkemuka di Italia menyerahkan anak – anaknya untuk dididik oleh Santo Benediktus.

Seorang prajurit Romawi membawa anaknya yang bernama Maurus kepada Benediktus.Maurus menjadi seorang murid Benediktus yang terkenal. Pada masa dewasanya, Maurus dikirim oleh Benediktus ke Prancis untuk mewartakan Injil dan membangun sebuah biara disana. Maurus meninggal dunia pada tahun 565 dalam tugasnya sebagai pemimpin biara di Glanfeuil dan sebagai pewarta Injil.

Selain Maurus, ada juga Plasidus yang juga dibawa oleh ayahnya untuk dididik oleh Benediktus. Sekali peristiwa ketika sedang mengambil air, Plasidus jatuh dan tenggelam dalam danau. Benediktus menyuruh Maurus untuk menyelamatkan Plasidus. Maurus heran, ketika menyelamatkan Plasidus, ia berjalan seperti biasa di atas air danau itu.

Plasidus bersama beberapa temannya dikirim ke Sisilia untuk membangun sebuah biara disana. Tetapi mereka dibunuh oleh segerombolan penjahat pada tahun 539.

Santo Paulus, Pertapa

Paulus berasal dari Mesir. Semenjak berumur 15tahun,ia menjadi anak piatu. Meskipun demikian, ia memperoleh pendidikan agama yang baik dan benar. Ketika terjadi penganiayaan terhadap umat Kristen pada tahun 250, ia menyembunyikan diri di rumah seorang kawannya. Tetapi ia pun akhirnya ditangkap dan dihadapkan kedepan pengadilan karena laporan dari seorang kawannya. Ia berhasil melarikan diri ke padang gurun. Disana ia terus menerus berdoa agar penganiayaan itu segera berakhir, dan dia boleh pulang kekampung halamannya. Namun kiranya Tuhan mempunyai rencana lain atas dirinya. Hidup dalam kesunyian padang gurun dalam doa dan tapa membuatnya semakin dekat dan mesra bersatu dengan Tuhan. Ia lalu memutuskan menetap di padang gurun.

Setelah berkelana kesana kemari, ia akhirnya menemukan sebuah sumber air. Ditempat inilah ia mulai berdoa dan bertapa. Atas suruhan Allah, Santo Antonius menemuinya. Keduanya bersama – sama memulai hidup baru dalam persatuan erat dengan Allah. Saat ajalnya yang sudah dekat diberitahukannya kepada Antonius dengan pasti. Ia meminta Antonius untuk membungkus tubuhnya dengan pakaian yang dipakai Antonius.Ketika meninggal dunia, ia genap berumur 113 tahun.

Santo Makarius, pertapa

Makarius meninggalkan kampung halaman dan kedainya lalu pergi kesuatu tempat pertapaan. Maksudnya adalah untuk lebih memusatkan perhatiannya pada doa, guna memperoleh kekuatan rahmat Allah agar tidak terus menerus jatuh kedalam dosa. Ia sering berdoa dan berjaga sepanjang malam.

Sekali peristiwa ia memikul sekeranjang pasir dibawah terik matahari. Kawan – kawannya heran melihat tingkah lakunya yang aneh ini. Kepada mereka ia berkata: “Tubuhku terlalu banyak menggoda aku. Ada baiknya juga kalau sekali – kali tubuhku di beri beban berat sehingga tidak tergoda untuk pergi melancong ke kota.”

Usahanya untuk tidak menyentuh barang – barang yang dapat mengenakkan tubuhnya sungguh luar biasa. Suatu ketika ia dikirimi buah – buah anggur yang masih segar. Ia menolak kiriman itu, menyentuhnya pun ia tidak mau. Ia menyuruh pembawa anggur mengirimkan anggur itu kepada rekannya yang lain. Rekan – rekannya pun bersikap seperti dia. Karena tidak seorangpun yang mau menerima kiriman itu, maka si pembawa anggur membawa kembali anggur – anggur itu kapada Makarius. Makarius menjadi heran dan ia pun bersyukur kepada Allah, karena atas rahmat-Nya rekan – rekannya bertahan dalam pantang yang berat.

Kondisi tubuhnya menunjukkan betapa berat dan sungguh – sungguh ia menjalankan tapa. Pada umurnya yang sudah tua itu, ia mencoba berdoa tanpa henti selama lima hari. Tetapi pada hari ketiga pondoknya terbakar. Makarius lari meninggalkan pondoknya dan tidak bisa melanjutkan doanya. Tentang peristiwa itu, ia berkata : “Itu adalah kehendak Allah, agar aku tidak sombong.” Pada hari – hari terakhir hidupnya, Makarius diusir dari tempat pertapaannya oleh orang – orang Arian yang memusuhi Gereja. Ia meninggal dengan tenang pada tahun 394.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini