Pena Katolik | “Siapakah engkau?” Pertanyaan yang diajukan kepada Yohanes Pembaptis dalam Injil Yohanes (1:19–28) (Jumat, 2 Januari 2026) terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat eksistensial. Pertanyaan itu tidak hanya menyentuh identitas pribadi Yohanes, melainkan juga menggugah kesadaran siapa kita di hadapan dunia, kekuasaan, dan tujuan hidup. Yohanes menjawab dengan tegas dan jujur: ia bukan Mesias, bukan Elia, bukan nabi besar. Ia hanya suara—suara yang menunjuk kepada Sang Sabda.
Jawaban Yohanes terasa kontras dengan semangat zaman kita. Dunia modern, termasuk dunia manajemen dan ekonomi, justru mendorong individu dan institusi untuk terus menegaskan diri, membangun citra, memperbesar pengaruh, dan menumpuk pengakuan. Identitas sering kali diukur dari jabatan, omzet, pertumbuhan, pengaruh, dan popularitas. Dalam konteks inilah kesaksian Yohanes menjadi kritik yang tajam sekaligus pembebasan: tidak semua harus menjadi pusat, tidak semua harus menjadi “mesias”.
Memasuki Tahun Baru 2026, refleksi ini menjadi semakin relevan, dunia pascapandemi, konflik geopolitik yang berkepanjangan, krisis iklim, ketimpangan ekonomi, serta disrupsi teknologi telah menciptakan kebisingan yang luar biasa. Setiap organisasi, perusahaan, bahkan individu berlomba-lomba bersuara—menawarkan solusi, visi, dan janji. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah semua suara itu sungguh menunjuk pada kebaikan bersama, atau justru sekadar memperbesar ego dan kepentingan sempit?
Dalam perspektif manajemen modern, Yohanes Pembaptis dapat dibaca sebagai simbol servant leadership. Ia memimpin bukan dengan menguasai, melainkan dengan melayani arah yang lebih besar dari dirinya sendiri artinya ia memahami batas perannya. Dalam teori manajemen kontemporer, pemimpin yang efektif bukanlah yang selalu tampil di depan, tetapi yang mampu menciptakan sistem, budaya, dan arah yang memungkinkan tujuan bersama tercapai. Yohanes tidak membangun organisasi demi namanya, tetapi mempersiapkan jalan agar “yang lebih besar” dapat dikenal.
Pandangan ini sejalan dengan teladan Santo Dominikus, sebagai pendiri Ordo Pewarta, Dominikus tidak mendirikan ordo untuk memperkuat posisinya sendiri, melainkan untuk melayani kebenaran. Santo Dominikus menyadari bahwa kebenaran tidak lahir dari kekuasaan, melainkan dari kesetiaan pada realitas dan belas kasih terhadap sesama. Ia membangun komunitas berbasis doa, studi, dan pewartaan—tiga pilar yang hingga kini menjadi fondasi Ordo Dominikan. Dalam bahasa manajemen, Dominikus menciptakan learning organization jauh sebelum istilah itu dikenal.
Dalam dunia ekonomi, refleksi ini menantang paradigma pertumbuhan tanpa henti. Selama beberapa dekade, keberhasilan ekonomi diukur hampir semata-mata oleh angka artinya pertumbuhan PDB, laba, ekspansi pasar. Namun krisis demi krisis menunjukkan keterbatasan pendekatan ini. Ketika ekonomi kehilangan orientasi etis, ia berubah menjadi sistem yang mengorbankan manusia dan alam demi efisiensi dan keuntungan. Yohanes Pembaptis dan Santo Dominikus mengingatkan bahwa ekonomi seharusnya menjadi “suara”, bukan “tuan”. Ia seharusnya menunjuk pada kesejahteraan manusia, bukan menggantikannya sebagai tujuan akhir.
Dalam pandangan lain terutama filsafat eksistensial dan etika, jawaban Yohanes membuka ruang refleksi tentang keaslian (authenticity). Søren Kierkegaard menekankan pentingnya menjadi diri sendiri di hadapan kebenaran, bukan di hadapan opini publik. Yohanes tidak memainkan peran yang diharapkan orang banyak. Ia tidak memanfaatkan ekspektasi religius masyarakat untuk meraih kuasa. Ia setia pada panggilannya, meskipun itu berarti menolak kehormatan. Dalam dunia yang dipenuhi pencitraan, sikap ini terasa radikal.
Santo Dominikus pun hidup dalam keaslian yang sama, sebagaimana ia tidak tergoda untuk memerintah dengan kekuatan struktural semata, tetapi memilih jalan dialog, argumentasi rasional, dan kesaksian hidup. Ia percaya bahwa iman dan akal budi bukan musuh, melainkan mitra. Dalam konteks ini, semangat Dominikan menjadi sangat relevan bagi dunia modern yang sering terjebak dalam polarisasi: iman versus sains, nilai versus efisiensi, etika versus pasar. Dominikus menunjukkan bahwa kebenaran justru tumbuh ketika iman berani berpikir dan akal budi berani merendah.
Tahun Baru 2026 menawarkan momen refleksi kolektif dan banyak organisasi sedang menyusun rencana strategis, anggaran, dan target baru. Individu pun membuat resolusi pribadi. Namun Injil hari ini mengajak kita untuk melangkah lebih dalam sebelum bertanya apa yang ingin kita capai, kita perlu bertanya siapakah kita dan untuk siapa kita bekerja. Dalam manajemen, ini berarti menguji kembali visi dan misi, bukan sekadar indikator kinerja.
Dalam ekonomi, ini berarti menimbang dampak sosial dan ekologis dari setiap keputusan. Dalam filsafat hidup, ini berarti berani mengakui keterbatasan dan membuka diri pada makna yang melampaui diri.
Menjadi “suara” bukan berarti menjadi pasif atau tidak berpendirian. Justru sebaliknya, menjadi suara menuntut kejelasan arah dan keberanian moral. Yohanes bersuara dengan lantang, tetapi tidak tentang dirinya. Dominikus berkeliling dan berdebat, tetapi bukan untuk memenangkan ego, melainkan untuk memperjuangkan kebenaran. Dalam dunia yang sering menyamakan suara keras dengan kebenaran, teladan ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati terletak pada keselarasan antara kata, tindakan, dan tujuan.
Akhirnya, memasuki Tahun Baru 2026, kita dihadapkan pada pilihan, apakah kita ingin menjadi pusat dari kisah kita sendiri, ataukah kita bersedia menjadi bagian dari kisah yang lebih besar? Apakah institusi, perusahaan, dan komunitas kita akan sibuk membangun menara pencapaian, ataukah berani merendah untuk menjadi jalan bagi kebaikan bersama? Yohanes Pembaptis dan Santo Dominikus tidak menawarkan resep instan, tetapi memberikan orientasi yang jernih kebenaran tidak membutuhkan panggung megah, hanya hati yang jujur dan setia.
Dalam dunia yang semakin bising, mungkin tugas terpenting kita bukan menambah suara, melainkan menjernihkannya dan barangkali, justru dengan berani berkata, “Aku bukan pusatnya,” kita menemukan makna terdalam dari kepemimpinan, ekonomi yang manusiawi, dan hidup yang otentik di tahun yang baru. *Samuel_Pena Katolik.



