Bacaan dan Renungan Minggu, 2 Maret 2025, Hari Minggu Biasa VIII (Hijau)

0
146

Bacaan I – Sir. 27:4-7

Kalau ayakan digoyang-goyangkan maka sampahlah yang tinggal, demikianpun keburukan manusia tinggal dalam bicaranya.

Perapian menguji periuk belanga penjunan, dan ujian manusia terletak dalaiti bicaranya.

Nilai ladang ditampakkan oleh buah pohon yang tumbuh di situ, demikian pula bicara orang menyatakan isi hatinya. Jangan memuji seseorang sebelum ia bicara, sebab justru itulah batu ujian manusia.

Demikianlah Sabda Tuhan

Syukur Kepada Allah

Mzm. 92:2-3.13-14.15-16

Refrain: Sungguh baik menyanyikan syukur kepada-Mu ya Tuhan.

Mazmur (oleh pemazmur):

  1. Sungguh baik menyanyikan syukur kepada Tuhan, dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, Yang Mahatinggi, memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi dan kesetiaan-Mu di waktu malam.
  2. Orang benar akan bertunas seperti pohon kurma akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon mereka yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita.
  3. Pada masa tua pun mereka masih berbuah menjadi gemuk dan segar untuk memberitakan bahwa Tuhan itu benar bahwa Ia Gunung Batuku, dan tidak ada kecurangan pada-Nya.

Bacaan II – 1Kor. 15:54-58

Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan.

Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?”

Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Demikianlah Sabda Tuhan

Syukur Kepada Allah

Bait Pengantar Injil

Refrain: Aleluya, Aleluya, Aleluya, Aleluya 2X

Ayat (oleh solis): Kamu bercahaya seperti bintang-bintang bila kamu berpegang pada firman kehidupan.

Bacaan Injil – Luk. 6:39-45

Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?

Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.

Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?

Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

“Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.

Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.

Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.”

Demikianlah Injil Tuhan

Terpujilah Kristus

Kasih yang Melampaui Batas

Dalam Lukas 6:27-38, Yesus mengajarkan tentang kasih yang melampaui batas manusiawi. Dia berkata, “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu, berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” Perintah ini tampak sulit, bahkan tidak masuk akal bagi banyak orang. Namun, Yesus tidak hanya mengajarkan kasih kepada orang-orang yang mudah dikasihi, tetapi juga kepada mereka yang menyakiti kita.

Kasih sejati bukan sekadar emosi, melainkan tindakan yang nyata. Dunia mengajarkan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi Yesus memanggil kita untuk melakukan yang sebaliknya: mengasihi, memberkati, dan mendoakan mereka yang menyakiti kita. Ini bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan sejati dari hati yang telah diubahkan oleh kasih Tuhan.

Yesus juga berkata, “Sebagaimana kamu ingin orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Prinsip emas ini mengajarkan bahwa kita harus terlebih dahulu menunjukkan kasih dan kebaikan, bukan hanya menunggu diperlakukan dengan baik. Dalam kasih yang tulus, tidak ada perhitungan untung dan rugi. Kita memberi tanpa mengharapkan balasan, sebagaimana Bapa di surga yang murah hati kepada semua orang, baik yang jahat maupun yang baik.

Pada akhirnya, Yesus mengajak kita untuk menjadi serupa dengan Allah, penuh belas kasih dan pengampunan. “Jangan menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi… Berilah, maka kamu akan diberi.” Kasih yang sejati membuka pintu bagi berkat dan kemurahan Tuhan. Saat kita hidup dalam kasih seperti Kristus, kita bukan hanya menjadi berkat bagi orang lain, tetapi juga mengalami damai sejahtera yang sejati di dalam hati kita.

Maukah kita belajar mengasihi seperti Yesus hari ini?

Santo Simplisius, Paus dan Martir

Kisah tentang Simplisius tidak banyak di ketahui. Tanggal kelahirannya pun tidak diketahui. Yang tercatat tentang dirinya ialah bahwa Simplisius diangkat menjadi Paus pada tanggal 3 Maret 468, dan memimpin gereja hingga kematiannya pada tanggal 10 Maret 483.

Selama masa kePausannya, Simplisius dengan gigih mempertahankan primasi Tahkta Suci di Roma dan menentang bidaah Monophysitisme yang berkembang pesat di belahan dunia Timur. Reaksinya diungkapkan dalam sebuah surat kecaman yang ditujukan kepada Kaisar Basiliscus dan Zeno.

Kecuali itu, di dalam surat itu pun, Simplisius dengan keras mengecam penangkapan atas diri Patriakh Aleksandria oleh Petrus Mongus dan Timotius Ailurus, pengikut aliran sesat itu; juga ia mengecam penangkapan atas diri Uskup Antiokhia oleh Petrus Fullo, penyebar ajaran sesat lainnya.

Kemartiran Simplisius dituliskan oleh Ardo dari Vienne dalam bukunya tentang martir-martir Roma yang dibunuh karena imannya kepada Kristus.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, semoga renungan ini menguatkan iman kami. Bantulah kami untuk hidup sesuai dengan kehendak-Mu dan menjadi berkat bagi sesama. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini