Paus Pius XII dan jasanya Menyelamatkan Ribuan Orang Yahudi dari Holocaust

0
573
Paus Pius XII. IST

ROMA, Pena Katolik –  Para imam Serikat Yesus (Jesuit) menemukan daftar nama ribuan orang Yahudi yang dilindungi oleh umat Katolik di Roma pada masa perang. Temuan ini menambah bukti lebih lanjut tentang kepahlawanan Paus Pius XII.

Daftar tersebut ditemukan dalam arsip Institut Kitab Suci Kepausan Biblicum Roma, Italia, yang dikelola Jesuit. Pada daftar itu ada sekitar 4.300 orang yang dilindungi antara bulan September 1943 hingga Juni 1944, ketika Roma dibebaskan oleh pasukan Sekutu.

Dari jumlah tersebut, 3.600 orang teridentifikasi berdasarkan namanya dalam daftar, dari jumlah tersebut, setidaknya 3.200 adalah orang Yahudi. Pada peneliti telah membandingkan daftar itu dengan arsip yang dikelola oleh komunitas Yahudi di Roma.

Disembunyikan di Biara

Saat itu, ada setidaknya 100 ordo suster dan 55 ordo biarawan Katolik, serta paroki dan lembaga Katolik lainnya, menyediakan tempat perlindungan selama pendudukan Jerman. Orang-ornag Yahudi ini disembunyikan di biara-biara, paroki dan rumah-rumah yang dimiliki ordo.

Selama periode pendudukan Nazi di Roma, setidaknya 2.000 orang Yahudi, termasuk ratusan anak-anak dan remaja, dibunuh. Total orang Yahudi di Roma setidaknya berjumlah antara 10.000 hingga 15.000 orang. Sebagian besar dari mereka tewas di kamp Auschwitz-Birkenau, setelah berhasil ditangkap Nazi pada pertengahan Oktober 1943.

Berita tentang penemuan daftar orang-orang yang diselamatkan ini diumumkan hari Kamis, 7 September 2023 lalu dalam konferensi di Museum Holocaust Roma. Namun begitu, informasi detail atas temuan ini belum dipublikasikan keseluruhan untuk alasan privasi.

“Kami tahu di mana mereka disembunyikan dan, dalam keadaan tertentu, tempat tinggal mereka sebelum penganiayaan,” kata pernyataan bersama dari Institut Kitab Suci Kepausan, Komunitas Yahudi Roma dan Yad Vashem.

Menurut para peneliti yang terlibat dalam proyek tersebut, daftar tersebut disusun oleh Pastor Gozzolino Birolo, Jesuit Italia, antara bulan Juni 1944 dan musim semi tahun 1945. Birolo, yang meninggal karena kanker pada bulan Juni 1945, pernah bertanggung jawab atas keuangan Biblicum di mena rector saat itu adalah Pastor Augustin Bea SJ dari Jerman, yang kemudian menjadi Kardinal dan pelopor hubungan Yahudi-Katolik setelah perang.

Di antara fasilitas gereja di Roma tempat orang Yahudi berlindung, menurut dokumentasi, adalah Paroki Transfigurasi, Paroki Penyelenggaraan Ilahi, Seminari Tinggi Roma, Gereja San Carlo al Corso, Paroki Santa Maria di Trastevere, Gereja Santa Maria delle Fornaci.

Para peneliti mengatakan bahwa daftar lembaga keagamaan di Roma yang menampung orang-orang Yahudi, beserta jumlah masing-masing kasus, telah diterbitkan oleh seorang sejarawan Italia bernama Renzo De Felice pada tahun 1961. Namun, sumber yang menjadi dasar daftar tersebut dianggap hilang sampai penemuan terbaru ini.

Meskipun daftar orang-orang yang diselamatkan sebagian besar terdiri dari orang-orang Yahudi, para peneliti mengatakan ada juga sejumlah orang yang dicari oleh Nazi karena alasan lain, termasuk partisan Italia yang terlibat dalam perlawanan terhadap pendudukan. Para sejarawan percaya bahwa perlindungan yang diberikan kepada orang-orang Yahudi, oleh lembaga-lembaga keagamaan di Roma, tidak mungkin terjadi tanpa dorongan eksplisit dari Paus Pius XII.

Fitnah Kepada Pius XII

Pada saat itu, Paus Pius XII difitnah oleh KGB (Rusia) dan kemudian oleh negara-negara Barat,  sebagai seorang pengecut, karena dianggap diam dan tidak aktif selama Holocaust. Vatikan telah lama menganggap klaim tersebut sebagai pencemaran nama baik.

Paus Benediktus XVI dari Jerman, tiga tahun setelah mengunjungi Auschwitz, menolak untuk mengunjungi pameran di Yad Vashem Holocaust Memorial di Israel karena tuduhan salah ini. Benediktus XVI membela pendahulunya dan meyakini bahwa Paus Pius XII telah berjuang untuk menyelamatkan orangorang Yahudi yang dikejar Nazi. Saat orang-orang Yahudi mencapai Vatikan, Paus Pius XII bahkan “tidak memprotes, baik secara lisan maupun tertulis” dan bahwa “ketika orang-orang Yahudi dideportasi dari Roma ke Auschwitz, Paus tidak melakukan intervensi”.

Mendiang Sir Martin Gilbert, pakar Holocaust dan seorang Yahudi terkemuka di dunia, juga berpandangan bahwa pameran di Yad Vashem Holocaust Memorial tersebut merupakan gambaran keliru yang “berbahaya”. Mitos diamnya Paus Pius bermula dari “The Deputy”, drama fiksi karya Rolf Hochhuth yang muncul pada tahun 1963, lima tahun setelah kematian Paus Puis XII, yang selanjutnya melahirkan serangkaian karya polemik.

Perintah Konklaf

Paus Pius XII tidak menandatangani kecaman Sekutu atas penganiayaan terhadap orang Yahudi pada tanggal 17 Desember 1942. Hal ini untuk menunjukkan bahwa ia netral.  Namun, seminggu kemudian, ia menggunakan pesan Natalnya untuk mengecam kengerian “ratusan ribu orang yang dibantai.

Sejauh menyangkut Nazi, Pius XII bukanlah Paus yang pendiam. Adolf Hitler yang selalu menanggapi kritik dengan kekerasan. Pada pertemuan tanggal 26 Juli 1943, Hitler bahkan telah menyusun rencana untuk menyerang Vatikan dan menangkap Paus dan para kardinal seniornya. Saat itu, Amerika Serikat, Spanyol dan Portugal masing-masing menawarkan pengasingan kepada Paus, tetapi Paus menolak meninggalkan Vatikan.

Italia menjadi negara pendudukan ketika, negara itu menandatangani gencatan senjata dengan Sekutu pada tanggal 3 September 1943. Tiga hari kemudian, Pius XII mengatakan kepada para uskup senior, bahwa penangkapannya akan segera terjadi dan ia akan mengundurkan diri pada saat itu. Selanjutnya, ia juga menginstruksikan, kalau itu terjadi para Kardinal dapat berkumpul di sebuah negara yang aman, mungkin Portugal, dan menyelenggarakan konklaf untuk memilih Paus yang baru.

Rencana Gagal

Rencana Hitler untuk menyerang Vatikan ini terungkap pada tahun 2007 ketika Dan Kurzman menerbitkan A Special Mission, sebuah buku berdasarkan wawancara dengan Karl Otto Wolff, Jenderal Pasukan Schutzstaffel (SS/Pasukan Khusus Nazi) yang diperintahkan untuk melaksanakannya.

Operasi tersebut ditunda tanpa batas waktu ketika Wolff menasihati Hitler untuk tidak melakukannya pada bulan Desember 1943, pada saat 477 orang Yahudi diam-diam berlindung di Vatikan. Saat itu, sekitar 3.000 orang Yahudi berada di Castel Gandolfo. Sementara itu, sebanyak 5.000 orang Yahudi lainnya disembunyikan di banyak biara di Kota Abadi.

Saat itu, beberapa orang Yahudi dilengkapi dengan akta baptis palsu bahkan ada yang menyamar sebagai pendeta. Sementara itu para biarawati di salah satu biara bahkan menyediakan rumah mereka kepada wanita Yahudi.

Sangatlah penting dipahami, bahwa tindakan kepahlawanan rahasia ini dimulai atas instruksi langsung Paus Pius XII pada tanggal 16 Oktober 1943. Hari itu tentara SS mulai mengumpulkan orang-orang Yahudi di Roma untuk dideportasi.

Gereja Katolik Menyelatkan Paling Banyak

Data sejarah yang dikumpulkan di kalangan sejarawan Yahudi menjadi sumber terbesar yang memuat bukti peran heroik Paus Pius XII. Pengakuan ini ada sejak tahun 1960-an dan menyatakan bahwa Gereja Katolik menyelamatkan lebih banyak nyawa, dibandingkan gabungan semua lembaga internasional.

Diplomat Israel, Pinchas Lapide memperkirakan bahwa Gereja di bawah kepemimpinan Pius Pius XII menyelamatkan hingga 850.000 orang Yahudi dari kematian. Ia mendasarkan penilaiannya pada catatan Yad Vashem.

Kepala Rabi Roma, Israel Zolli pada tahun 1946 menjadi seorang Katolik dan mengambil nama baptis Eugenio. Nama ini ia pilih sebagai penghormatan kepada Pius XII, yang sebelumnya adalah Kardinal Eugenio Pacelli. (AES)

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here