Hidup Panggilan Romo Magnis: Filsafat Barat, dan Jawa

0
3545
Romo Franz Magnis Suseno dan Ahmad Syafii Maarif. IST

JAKARTA, Pena Katolik – Sekitar 120 tahun lalu, Romo Franciscus Georgius Josephus Van Lith, SJ adalah seorang Imam Serikat Yesus asal Belanda yang ditugaskan di Muntilan, di Wilayah Karisedenan Kedu, Hindia Belanda. Saat ini, Muntilan masuk dalam wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Untuk bertugas di daerah itu, yang sebagian masyarakatnya orang Jawa, Romo van Lith percaya, ia harus belajar bahasa Jawa terlebih dahulu. Begitulah, setelah memahami sedikit Bahasa itu, Romo van Lith berhasil mewartakan kekristenan di daerah itu, ia mambaptis 171 orang desa dari daerah Kalibawang di Sendangsono, Kulon Progo pada 14 Desember 1904.

Peristiwa ini dipandang sebagai lahirnya Gereja di antara orang Jawa. Hingga kini, umat Katolik yang awalnya 171 orang itu kini menjadi umat Katolik di Wilayah Keuskupan Agung Semarang.

Sejak saat itu, karya misi Katolik sangat memperhatikan budaya. Sehingga saat pada tahun 1961, Frater Frans Magnis Suseno SJ datang ke Indonesia, Bahasa Jawa ini juga yang paling pertama ia pelajari, dan kemudian belajar bahasa Indonesia. Setelah menyelesaikan studi teologi di Yogyakarta, Romo Magnis pun ditahbiskan menjadi imam pada 31 Juli 1967.

Hingga kini, sudah 61 Romo Magnis tinggal di Indonesia, ia bahkan sudah menjadi warga negara Indonesia selama puluhan tahun. Berkat ketekunannya belajar bahasa Jawa, banyak yang menilainya bahkan “lebih Jawa disbanding orang Jawa”. Namun, perihal hal ini, Romo Magnis pun menjawab, bahwa itu menunjukkan bahwa ia sebenarnya bukan orang Jawa.

“Banyak yang mengatakan saya lebih Jawa dari orang Jawa sendiri, tapi itu menunjukkan bahwa saya sebenarnya bukan ornag Jawa,” begitu kelakar Romo Magnis.

Romo Franz Magnis Suseno SJ saat menerima bintang penghargaan dari Presiden Joko Widodo. IST

Dunia Filsafat

Romo Magnis memiliki nama lengkap Maria Franz Anton Valerian Benedictus Ferdinand von Magnis. Ia lahir Eckersdorf 23 Mei 1936. Setelah menyelesaikan Novisiat di Jerman, ia melanjutkan belajar filsafat tepatnya di Philosophissche Hochschule Jerman dari 1957 hingga 1960. Selanjutnya, ia datang ke Indonesia pada usia 24 tahun. Ia belajar teologi di Yogyakarta hingga ditahbiskan menjadi imam dan lalu bertugas di Indonesia.

Romo Magnis kemudian ditugaskan untuk belajar filsafat di Ludwig-Maximilians, Universitas Munchen pada 1971-1973 sampai memperoleh gelar doktor di bidang filsafat dengan disertasi mengenai Karl Marx.

Pada tahun 1977, Romo Magnis berganti kewarganegaraan. Ia lalu menambahkan Suseno di belakang namanya. Nama ini mengacu pada tokoh wayah Karna Basuseno. Sosok yang menjadi favoritnya kalau sedang menonton wayang kulit.

“Karna adalah pribadi yang tanpa pamrih, dia tahu utang budi dan juag dia tahu baik buruk,”ujar Romo Magnis.

Romo Franz Magnis Suseno SJ saat mendaki sebuah gunung di Swiss. iST

Perihal nama ini, ketika akan menjadi warga negara Indonesia, Romo Magnis ingin menambahkan sebuah kata bahasa Jawa pada namanya. Ia lalu menginginkan nama ini diawali dengan kata “su”. Sehingga, ia lalu mendapat nama “Suseno”. Saat ia menanyakan perihal nama ini kepada koleganya, Romo Kuntara Wiryomartono SJ, sang rekan yang ahli bahasa Jawa kuno menyetujui.

Dari peristiwa itu, Magnis-Suseno ingin menjadi pribadi yang lebih baik bahkan mengabdi untuk tanah air Indonesia. Walaupun bukan keturunan asli, kecintaannya terhadap negara Indonesia tidak perlu diragukan.

“Itu boleh juga,” begitu Romo Magnis mengenang perkataan sahabatnya itu.

Sebagai seorang rohaniawan yang belajar filsafat sosial, khususnya mendalami pemikiran Karl Marrx, Romo Magnis termasuk rajin menerbitkan tulisan-tulisan baik yang diterbitkan sebagai buku maupun opini-opini yang dipublikasikan di media masa. Salah satunya ia menulis buku Etika politik yang menjadi acuan pokok bagi mahasiswa filsafat dan ilmu politik di Indonesia.

Sebagai satu kejutan, ia juga menulis buku Etika Jawa yang dituliskan selama ia menjalani tahun sabbatical di Paroki Hati Kudus Yesus, Sukoharjo Jawa Tengah. Sejak itu, selain sebagai acuan pemikiran sosial Barat, Romo Magnis selalu menjadi acuan juga bagi siapa saja yang mendalami filsafat Jawa.

Romo Magnis dikenal kalangan ilmiah sebagai seorang cendekiawan yang cerdas dan bersahabat dengan semua orang tanpa pandang bulu. Banyak kandidat doktor yang merasa dibantu dalam menyelesaikan disertasinya.

Dunia akademis yang dilalui Romo Magnis akhirnya mengantarnya juga mendapat gelar doktor kehormatan di bidang teologi dari Universitas Luzern, Swiss. Selain itu, sebagai puncak penghargaan atas jasanya kepada bangsa dan negara Indonesia, Romo Magnis dianugerahi Bintang Mahaputera Utama pada 13 Agustus 2015 (berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 83/TK/TaHUN 2015. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Presiden Jokowi pada tanggal 7 Agustus 2015. Romo Magnis dinilai berprestasi atas jasa-jasanya di bidang kebudayaan dan filsafat.

Romo Franz Magnis Suseno SJ bersama kedua orangtuanya. dok. Pribadi

Toleransi

Selama ini, Romo Magnis juga dikenal sebagai imam yang sering menyerukan semangat toleransi di kalangan masyarakat tidak saja untuk umat Katolik saja. Pada satu kesempatan, ia bahkan mengunjungi Habib Muhammad Rizieq Shihab. Romo Magnis meyakini, dengan saling mengunjungi maka dialog akan terjalin.

“Saya mendorong kepada para imam untuk mengunjungi para tokoh agama lain, dengan begitu persahabatan dan relasi akan terjalin,” begitu Romo Magnis sering mengatakan.

Ajakan ini memang sering didengungkan Romo Magnis dan ia sendiri membuktikan bahwa dengan kunjungan semacam ini maka toleransi dan semangat saling menghargai dapat terjalin.

Ia mengingat saat di satu wilayah ada sekelompok umat Katolik di Jakarta yang dilarang para anggota Front Pembela Islam, ia lalu meminta salah seorang imam untuk mengungi Habib Rizieq atas permintaannya menanyakan perihal pelarangan ini. Alhasil, Habib Rizieq mengakui bahwa anggotanya melakukan kesalahan dan menyerukan untuk tidak lagi melarang diadakannya Doa Rosario.

Pada satu kesempatan, Romo Magnis diundang untuk berbicara dalam sebuah seminar di salah satu paroki di Depok, Keuskupan Bogor. Saat itu, ia menjadi pembicara bersama dengan pimpinan FPI Depok. Kepada room paroki, Romo Magnis menanyakan bagaimana relasi mereka dengan para anggota FPI. Sang imam menjawab bahwa selama ini relasi dengan para anggota FPI baik baik saja, dan paroki selalu mengundang para anggota FPI kalua ada kegiatan di gereja.

“Saya berpendapat, komunikasi ini penting untuk membangun relasi,” ujarnya.

Gus Dur

Di Indonesia, Romo Magnis dikenal tidak saja di kalangan umat Katolik. Kiprahnya telah melewati batas-batas agama. Ada banyak tokoh agama lain yang hingga kini diketahui akrab dengannya. Presiden ke-4 Indonesia, Abdurahman Wahid atau yang dikenal dengan Gus Dur menjadi salah satunya.

Salah satu yang dikagumi dari Gus Dur adalah jiwa kepahlawannanya. Gus Dur adalah figur yang patut dicontoh dalam menghargai persatuan dan dan keberagaman di Indonesia. Sebagai seorang nasionalis, Gus Dur sangat mantap sebagai seorang muslim. Tapi dia juga memiliki toleransi yang luar biasa dalam melihat berbagai persoalan kebangsaan.

“Saya mengenal Gus Dur dari tahun 1970-an, dan selalu sangat dekat,” ujar Romo Magnis mengenang.

Menurut Romo Magnis, dari banyak segi, Gus Dur adalah tokoh yang komplit. Dari banyak sisi, ia menilai Gus dor adalah tokoh yang setingkat dengan Soekarno.

“Paham keagamaan Gus Dur adalah paham keagamaan ideal,” begitu Romo Magnis Mengakui.

Pada suatu kali, Romo Magnis menanyakan mengapa Gus Duru tidak juga berhenti dari kegiatan politik. Pertanyaan ini merujuk pada kondisi politik 2001 silam. Satu kali pada perayaan ulang tahunnya, Gus Dur menceritakan bagaimana Romo Magnis berani mengatakan hal ini sedangkan orang lain tidak.

Hidup Rohani

Romo Magnis dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Sebagai imam Serikat Yesus, hidup kesederhanaan sunggu dihidupinya. Meski di masa muda ia lahir dari keluarga bangsawan, namun semangat Ignatian sungguh tertanam dalam hidupnya.

Misalnya saja dalam hidup berkomunitas, Romo Magnis dikenal sebagai pribadi yang taat untuk melaporkan pengeluaran pribadinya kepada ekonom komunitas. Sebagai seorang religius, ini menjadi salah hsatu bentuk ketaan.

Sesekali, Romo Magnis juga terlihat berjalan melewati perkampungan di sekitar STF Driyarkara. Pada saat tertentu ketika tidak ada aktivitas di luar kampus, ia lebih suka berjalan kaki dari kediamannya di Biara Jesuit Johar Baru ke kantornya di daerah Rawa Sari. Hingga tahun 2015, Romo Magnis tercatat sudah 12 kali mendaki puncak Gunung Merapi. Tak hanya gunung di Yogyakarta itu, ia tercatat setiap tahun mendaki gunung bersama koleganya. Atas capaian ini, Romo Magnis bahkan dianugerahi Piagam Rekor Museum Rekor Indonesia sebagai rohaniwan pertama yang mendaki gunung di atas ketinggian 3000 meter di Pulau Jawa.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here