FX Soedanto dan Kisahnya sebagai Dokter Seribu Rupiah

0
3758
dr FX Soedanto. IST

ASMAT, Pena Katolik – Bagi sebagian orang, profesi sebagai dokter adalah pekerjaan impian yang menjadi dambaan. Selain penghasilan yang lumayan, menjadi dokter berarti masa depan terjamin. Namun, pandangan semacam ini barang kali tidak berlaku bagi dr. FX Soedanto. Sebagai dokter, dr. Danto tidak mendamba penghasilan melimpah. Ia hanya mengenakan ongkos Rp. 1000 saja untuk setiap pasien yang datang berobat di kliniknya.

Tempat praktik dr. Danto bukanlah di kota besar dengan banyak pasien kaya. Sudah puluhan tahun, dr. Danto membuka praktik di Papua.

Putra Kebumen

Dr. Danto lahir dari pasangan Umar dan Mursila, sebagai anak keenam. Ibunya yang berprofesi sebagai perawat. Setelah tamat SMA, ia sempat menempuh studi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan di Universitas Gadjah Mada. Lalu, ia memutuskan memasuki Fakultas Kedokteran UGM.

Tahun 1975, setelah lulus menjadi dokter, dr. Danto mendaftar program Dokter Inpres (Instruksi Presiden). Program ini merupakan inisiatif Pemerintahan di masa Presiden Suharto untuk mengirim dokter-dokter ke daerah terpencil di seluruh Indonesia. Saat itu, dr. Danto mendapat penempatan di Asmat, Irian Jaya, atau sekarang dikenal Papua.

“Begitu SK Gubernur keluar 1975, saya ke Asmat dan jadi dokter di rumah sakit peninggalan Belanda,” tutur pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah ini.

Ketika masa awal di Asmat, dr. Danto menjalankan profesinya dengan berjalan kaki masuk – keluar hutan dan rawa. Asmat memang dikenal dengan daerah berawa, bahkan hingga kini. Saat itu, dr Danto melayani dengan mengecek kesehatan masyarakat dari satu kampung ke kampung lainnya. Saat menembus luasnya hutan Asmat, tak jarang dr. Danto mencukupi nutrisinya dengan makanan seadanya.

“Saya hanya makan sagu dan ikan, sebab tidak ada sayur di sana, karena daerahnya rawa,” ujarnya.

Pada masa itu, dr. danto tidak sendiri. Ia ditemani beberapa tenaga medis yang berasal dari masyarakat asli di sana. Masyarakat Asmat hidup dengan nilai budaya yang kental, bahkan mereka masih memakai pakaian berbahan dasar rumput.

Dalam pelayanan ini, dr. Danto mengingat masyarakat yang sederhana. Ia tidak dapat menuntut pasiennya untuk membayar biaya perawatan dalam jumlah banyak. Masyarakat kebanyakan bekerja sebagai petani, bahkan masih bertani secara berpindah-pindah. Tak jarang, pasien yang datang berobat, mereka membayar dr. Danto dengan sagu atau hasil hutan yang lain.

“Selama melayani, banyak masyarakat tak mampu. Mereka hanya membayar dengan sagu, ataupun kayu bakar dari hutan,” katanya.

dr FX Soedanto saat melayani pasien. IST

Dokter 1000

Setidaknya enam tahun dr. Danto melayani di Asmat. Selanjutnya, ia dipindah ke Jayapura pada 1982. Kondisi di tempat yang baru tak jauh berbeda. Di Jayapura, dr. Danto bekerja di Rumah Sakit Jiwa Abepura. Di tempat ini, ia melayani pasien hingga pensiun pada 2013.

Kondisi di Jayapura tak berbeda jauh dengan Asmat. Di sini, pasien dr. Danto juga berasal dari masyarakat sederhana. Ia mengingat, tahun 1982, ia hanya meminta biaya sebesar Rp. 500 untuk setiap pasien yang berobat. Harga ini termasuk untuk biaya obat.

Apotek Rahmat di Jalan Ayapo, nmor 11 Abepura, Kota Jayapura, menjadi tempat baginya untuk terus memberikan pelayanan kesehatan bagi warga Kota Jayapura. Hingga saat ini, genap sudah 40 tahun Soedanto memberikan pelayanan kesehatan di Negeri Matahari Terbit, Port Numbay.

Biaya perawatan ini perlahan naik. Meski begitu, dr. Danto lupa kapan biaya periksa di kliniknya naik menjadi Rp. 1.000, kemudian sempat Rp. 2.000 dan saat ini setiap berobat ke kliniknya, pasien hanya ditarik biaya Rp. 5000. Namun, ia sering menerima pasien yang hanya memberikan ucapan terima kasih sebagai balasan.

“Sejak 1982 hingga 1985 biayanya Rp 500. Kemudian, saya lupa di tahun berapa itu naik menjadi Rp 2.000. Saya lupa karena sudah lama sekali. Sampai baru-baru ini sudah Rp 5.000,” katanya.

Waktu awal membuka praktik, rata-rata pasien yang datang adalah dari kalangan masyarakat kelas bawah, seperti pekerja bangunan, dan lain sebagainya. Untuk biaya berobat di Papua, pada tahun itu, harga pemeriksaan diberikan bagi masyarakat cukup murah. Biaya pengobatan naik lantaran masyarakat saat ini sudah cukup memiliki pendapatan yang baik dan kebutuhan keluarganya juga semakin meningkat.

“Dulu anak baru satu, kebutuhan juga masih sedikit. Tapi lama-lama anak bertambah, yah kebutuhan hidup tambah naik,” ujarnya.

Walau harga pemeriksaannya bertambah menjadi beberapa ribu, namun julukan “dokter seribu’ tetap saja melekat erat dalam diri dr. Danto. Dari waktu ke waktu, pasien yang datang ke tempat praktiknya terus meningkat.

“Setiap hari rata-rata 200 pasien saya periksa,” jelasnya.

Setiap pagi, mulai pukul 9.00 WIT, sudah banyak pasien antre. Dengan kondisi tubuh yang kini semakin menua, dr. Danto mengaku terkadang dirinya merasa lelah. Pada tahun 2022 ini, genap sudah 46 tahun ia melayani masyarakat di Papua.

“Tapi mau bagaimana, untuk masyarakat, saya harus tetap melaksanakan kewajiban saya sebagai dokter,” katanya.

Apotik Rahmat tempat praktik dr FX Soedanto di Abepura Jayapura. IST

Setia Melayani

Dr. Danto lahir di Kebumen pada tahun 1948. Saat ini usianya 74 tahun. Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Ayahnya Umar adalah kontraktor dalam pemerintahan kolonial Belanda, dan Ibunya Mursila berprofesi sebagai perawat.

Ketika ditanya mengenai alasannya menjadi Dokter Seribu Rupiah, dia mengatakan tak ingin melihat siapapun tidak bisa berobat ke dokter, hanya karena tidak memiliki uang. Dr. Danto tulus ingin membantu orang yang kurang beruntung. 

Perjuangan dr. Danto yang sempat pindah haluan dari fakultas matematika UGM ke fakultas kedokteran kini terbayar. Pilihan masuk ke jurusan kedokteran karena ia mengikuti saran sang ibu.

“Saya mengambil tes lain di School of Medicine. Mungkin ibu saya ingin salah satu dari anaknya menjadi seorang dokter, untuk mengikuti jejaknya sebagai perawat,” kata dr. Danto.

Setelah lulus, Kementerian Kesehatan memintanya untuk memilih provinsi di mana ia ingin ditugaskan. Soedanto muda memilih Irian Jaya, sekarang disebut Papua. Pilihan ini ia ambil, mengingat pada saat itu ia harus membayar “suap” apabila ingin ditugaskan di lokasi yang lebih strategis. Ia menolak, selain karena tak ada biaya, hati nuraninya membuat ia memilih mengabdi di Irian Jaya. Ia terketuk untuk melayani di Pulau Cenderawasih itu.

“Saya memilih Irian Jaya karena saya menyukainya. Selain itu, pada waktu itu, jika kita memilih provinsi lain seperti Sulawesi, Jawa atau Sumatra, kami harus membayar semacam suap kepada pejabat kementerian. Saya tidak punya uang saat itu,” kenang dr. Danto.

Perjuangan dr. Danto menjadi “dokter seribu rupiah” nyatanya menjadi inspirasi yang menjangkau bahkan keluar jauh dari batas-batas Pulau Papua. Kini, ia dikenang sebagai salah satu teladan karya kemanusiaan. Umat Paroki Gembala Baik Abepura ini membuktikan, bahwa kehidupan tidak hanya sebatas memperkaya diri. Yang utama adalah menjadi pribadi yang berguna bagi sesame, selanjutnya, berkat Tuhan akan datang dalam hidupnya. (Antonius E. Sugiyanto)

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here