Asia Bibi © Aleteia - Timothée Dhellemmes
Asia Bibi © Aleteia – Timothée Dhellemmes

Dihukum mati karena meminum air dari mangkuk yang sama dengan perempuan Muslim yang merupakan bentuk penistaan ​​agama di Pakistan, Asia Bibi menjalani 10 tahun penjara kemudian dibebaskan. Saat berkunjung ke Paris, Agnès Pinard Legry dari Aleteia mewawancarai perempuan yang namanya telah ribuan kali ditulis, diucapkan dan dinyanyikan dalam beberapa tahun terakhir. Kisahnya telah diceritakan di setiap sudut planet ini. Asia Bibi telah menjadi simbol: simbol pertarungan melawan undang-undang penistaan ​​agama di Pakistan.

Asia Bibi adalah seorang ibu beragama Katolik dari Pakistan, perempuan kecil dengan kekuatan, ketahanan, dan keyakinan luar biasa. Sejak meninggalkan Pakistan, hanya sedikit informasi diperoleh tentang kehidupan barunya, kecuali lokasi negara yang menjadi tuan rumahnya saat ini, Kanada. Dan pada suatu hari, terdengar berita: Asia Bibi akan datang ke Prancis. Sehari sebelumnya dan beberapa hari sejak itu, dia memberikan kesempatan wawancara dan menghadiri pertemuan-pertemuan resmi. Asia Bibi, yang diterima oleh Wali Kota Paris Anne Hidalgo dan dijadikan warga kehormatan Kota Paris itu, dijadwalkan bertemu Presiden Perancis Emmanuel Macron, 28 Februari 2020, atas undangan Istana Kepresidenan Prancis, Élysée. Asia Bibi rencananya akan memberitahukan permintaan suaka politiknya kepada presiden itu.

Asia Bibi, yang difilmkan, dicari, dan difoto tanpa henti dalam beberapa hari terakhir, masih menyimpan dampak yang diterimanya dalam tahanan. Namun, meskipun kelelahan, dia tersenyum terus tanpa lelah. Meskipun jawabannya singkat dan kadang-kadang hanya beberapa kata, wajahnya yang hangat dan ramah serta tatapannya yang dalam menjadi saksi atas apa yang telah dialaminya: bertahun-tahun kesepian, dan kadang-kadang, keputusasaan. Semua itu juga mencerminkan imannya, yang menjadi sandarannya, serta kepercayaan dan kesederhanaannya. Dengan bantuan penerjemah bahasa Prancis-Urdu (bahasa yang digunakan di Pakistan, red), Aleteia mewawancarai Asia Bibi dan diterbitkan 28 Februari 2020, dan Paul C Pati dari PEN@ Katolik menerjemahkannya:

Aleteia: Asia Bibi, ceritakan sedikit tentang kisah hidupmu?

Asia Bibi: Anda pasti sudah tahu kisah saya! Tapi sampai hari ini rasanya kisah itu tidak terjadi dalam hidupku! Saya seorang Kristen (baca: Katolik) dan seorang ibu, pekerjaan saya antara lain, memetik buah. Tanggal 14 Juni 2009, saya masih ingat betul panasnya hari itu, saya minum air sumur dalam cangkir yang sama dengan seorang perempuan lain. Dua dari mereka menuduh saya mencemari air itu karena saya seorang Kristen. Beberapa hari kemudian, saya dituduh melakukan penistaan. Kemudian, saya diadili dan November 2009 saya dihukum mati dengan tuduhan melakukan penistaan. Oktober 2014, Pengadilan Tinggi Lahore membenarkan hukuman saya.

Apa yang Anda pikiran saat tahu tentang hukuman itu?

Anak-anak saya. Mereka masih sangat kecil saat itu, dan saya merasa sangat sedih. Saya berkata pada diri sendiri, itu tidak mungkin, saya tidak melakukan apa-apa.

Ketika dihukum, Anda habiskan 10 tahun di penjara. Bagaimana kehidupan sehari-hari Anda?

Saya sangat terisolasi, dan saya melakukan segala hal agar bisa tenang. Tetapi, di atas segalanya, setiap saat saya simpan Allah di hati saya. Saya berdoa setiap hari.

Apa yang membuat Anda tidak ambruk?

Saya mengalami tahanan itu sebagai cobaan yang dikirim oleh Allah. Ketika seorang manusia diuji, keinginan untuk mengatasi cobaan itu sangat kuat. Saya tahu, doa akan membantu saya dalam hal ini, dan banyak tanda mendorong saya untuk berdoa. Contohnya, suatu malam saya mimpi tentang seorang imam yang mendorong saya membaca ayat-ayat Kitab Suci. Ketika saya buka mata, saya kaget karena saya tak bisa melihatnya lagi. Saya pikir, mungkin Tuhan mengirim tanda bahwa saya harus mencoba mempelajari ayat-ayat yang akan ikut menopang saya. Jadi, itulah yang saya lakukan. Saya membaca Injil dengan sangat teratur.

Ada ayat Kitab Suci yang mendorong Anda secara istimewa?

Ya, kata-kata yang saya ingat adalah, “Tuhan, tempat perlindungku.” Berulang-ulang kali, itulah mazmur pertama yang saya jumpai.

Suamimu, Ashiq, juga pendukung setia.

Ya, dia menjadi pilar bagi saya selama ini. Dia tidak pernah pergi dariku, meskipun ada ancaman dan kesulitan. Dialah yang memberi tahu saya bahwa seorang jurnalis, Anne-Isabelle Tollet, adalah orang pertama yang berbicara atas nama saya. Dialah yang memberi tahu saya bahwa banyak orang tertarik akan kasus saya. Dia juga yang mengatakan kepada saya bahwa Paus berdoa untuk saya. Saya mengenang perasaan sukacita yang luar biasa! Anak-anak kami adalah salah satu topik yang paling sering kami bicarakan. Karena ancaman terhadap mereka, saya tidak bisa sering melihat mereka. Saya sering bertanya kepada Ashiq apakah mereka masih bersekolah.

Anda akhirnya dibebaskan di musim gugur 2019, tetapi gelombang protes lebih besar menghalangi Anda untuk segera meninggalkan negara itu. Bagaimana perasaan Anda tentang curahan kebencian ini?

Pembebasan saya sungguh membuat situasi semakin tegang. Tetapi yang tersulit adalah saya bisa mendengar mereka. Saya bisa mendengar semua yang mereka katakan. Saya bisa mendengar mereka menyanyikan eksekusi hukuman mati saya, dengan cara apa pun yang diperlukan. Tapi, luar biasa kelihatannya, saya mempertahankan kekuatan saya. Saya tidak takut.

Sudahkah Anda memaafkan orang-orang yang mengutukmu?

Ya, saya sudah memaafkan mereka. Saya sudah memaafkan 10 tahun di penjara, jauh dari keluarga saya. Dari lubuk hati saya, saya sudah memaafkan mereka.

Di sel yang Anda tempati 10 tahun, kini ada perempuan Kristen lain, Shagufta Kousar, yang dijatuhi hukuman mati atas tuduhan penistaan ​​agama.

Saya mendukung dia sepenuhnya. Kalau kisah serta kesaksian saya bisa membantunya, saya akan sangat bahagia. Shagufta Kausar juga seorang ibu, dan dia dituduh bersama suaminya mengirim pesan teks yang menghujat. Tuduhan ini jauh lebih tidak masuk akal, karena mereka tidak bisa menulis. Tapi saya tahu mereka ada di tangan yang baik. Saif-ul-Malook, pengacara yang membantu saya, sedang membelanya. Selain Shagufta, semua orang yang kini dalam tahanan perlu dibantu. Saya ingin dunia bersatu membebaskan mereka, baik yang masuk dalam kelompok minoritas atau mayoritas. Semua harus didengar! Itulah perjuangan saya saat ini: Saya yakin, undang-undang anti-penistaan agama harus direformasi. Untuk itulah saya ingin dedikasikan hidup saya mulai sekarang.

Kemarin Anda diberikan kewarganegaraan kehormatan oleh Kota Paris, dan Anda juga ingin meminta suaka politik kepada Emmanuel Macron. Mengapa Prancis?

Prancis sangat saya sayangi karena dari Prancislah orang berbicara atas nama saya. Prancis yang memberi saya identitas Asia Bibi. Saya juga harus mengatakan bahwa gedung-gedung kuno, terutama Katedral Paris yang telah bertahan selama berabad-abad sungguh telah memikat hati saya. Saya tahu, Notre Dame terbakar di musim semi lalu, dan saya sangat sedih.

Bagaimana Anda memandang masa depan?

Saya berharap kita semua bisa bekerja bersama mereformasi undang-undang anti-penistaan ​​agama di Pakistan. Sejauh menyangkut masa depan pribadi saya, harapan terbesar saya adalah agar anak-anak perempuan saya boleh mendapat akses pendidikan, agar mereka bisa tumbuh dalam lingkungan yang berpendidikan dan agar mereka bisa berjuang untuk kesetaraan.

Apakah Anda merasa bebas?

Saya terus-menerus menerima ancaman, tapi ya, saya merasa bebas.

Apa yang paling menyedihkan Anda saat ini?

Saya sangat sedih ketika harus meninggalkan Pakistan, negara tempat saya dilahirkan. Itu setelah pembebasan saya, dan saya tahu Allah menunjukkan jalan-Nya kepada saya. Tapi, saya berpegang teguh pada pengharapan bahwa suatu hari saya akan bisa kembali ke negeri saya.

Sebaliknya, apa yang membuat Anda sangat bersukacita saat ini?

Saya merasa sangat bersukacita ketika saya sujud di hadapan kebesaran Allah.

 

1 komentar

  1. Ya Tuhanku… saya sangat sedih membaca kesaksian ini..semoga Tuhan sentiasa berserta Asia Bibi & keluarga serta shagufta Kumar…Tuhan itu luarbiasa..semoga damai sejahtera akan berserta kalian

Leave a Reply to Yamica Batal