cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (9)

Paus Fransiskus merayakan Misa hari Rabu Abu, 14 Februari 2018, di Basilika Santa Sabina di Roma yang menjadi Pusat Ordo Dominikan. Sesuai tradisi, perayaan itu dimulai di Basilika Santo Anselmus. Dari situ, Paus memimpin prosesi tobat ke Santa Sabina yang berada di dekatnya guna mengawali awal Masa Prapaskah, waktu persiapan untuk Pekan Suci.

Ketika berbicara dalam homili saat merayakan Misa Rabu Abu di Santa Sabina di Bukit Aventino, Paus Fransiskus mendesak umat beriman untuk membuka kedok setan-setan yang mematikan dan melumpuhkan jiwa agar hati mereka berdegup kencang bersama hati Yesus yang bersemangat.

Dalam homili yang menggemakan ajakan untuk “Berhentilah Sebentar” guna memandang dan berkontemplasi, untuk “Melihat” wajah nyata Yesus dan untuk “Kembali” tanpa takut, guna mengalami penyembuhan dan kembali pada kelembutan Tuhan, Paus mengatakan bahwa Masa Prapaskah adalah saat “mengobati perasaan tidak enak dari kehidupan Kristen kita.”

Untuk membaca teks lengkap homili Paus Fransiskus itu, Paul C Pati dari PEN@ Katolik menerjemahkan homili itu:

Masa Prapaskah adalah saat yang tepat untuk memperbaiki perasaan yang tidak enak dalam kehidupan Kristen kita dan untuk menerima pernyataan Paskah Tuhan yang selalu baru, menyenangkan dan penuh harapan. Gereja dalam kearifan keibuannya mengajak kita untuk secara khusus memperhatikan segala sesuatu yang bisa meredam atau bahkan memperberat hati kita yang percaya.

Kita tunduk pada banyak godaan. Kita masing-masing tahu kesulitan yang harus kita hadapi. Dan sedih untuk dicatat bahwa, ketika berhadapan dengan situasi kehidupan sehari-hari yang selalu beragam, ada suara-suara bermunculan yang memanfaatkan rasa sakit dan ketidakpastian. Satu-satunya yang ingin mereka lakukan adalah menabur ketidakpercayaan. Jika buah iman adalah amal kasih, seperti yang sering dikatakan oleh Ibu Teresa, maka buah ketidakpercayaan adalah sikap apatis dan pengunduran diri. Ketidakpercayaan, sikap apatis dan pengunduran diri: ini adalah setan yang mematikan dan melumpuhkan jiwa orang percaya.

Prapaskah adalah saat tepat untuk membuka tabir godaan-godaan ini serta godaan lainnya, untuk membiarkan hati kita berdenyut sekali lagi selaras dengan hati Yesus yang bersemangat. Seluruh Masa Prapaskah diilhami dengan keyakinan ini, atau bisa dikatakan digaungkan oleh tiga kata yang ditawarkan kepada kita guna menghidupkan kembali hati umat beragama: berhenti sebentar, melihat dan kembali.

Berhenti sebentar, tinggalkan kegelisahan dan kekacauan yang mengisi jiwa dengan perasaan-perasaan pahit yang tidak pernah mengerti kita di mana pun. Berhenti sebentar dari paksaan untuk hidup serba cepat yang menceraiberaikan, memisahkan dan akhirnya menghancurkan waktu bersama keluarga, bersama teman, dengan anak-anak, dengan kakek dan nenek, dan waktu sebagai karunia … waktu bersama Tuhan.

Berhentilah sebentar, hindari kebutuhan untuk pamer dan dilihat oleh semua orang, untuk terus tampil di “papan pengumuman” yang membuat kita melupakan nilai keintiman dan ketenangan.

Berhentilah sebentar, hindari wajah angkuh, komentar-komentar sepintas dan merendahkan yang muncul karena melupakan kelembutan, belas kasih dan penghormatan terhadap perjumpaan dengan orang lain, terutama mereka yang rentan, terluka dan bahkan yang tenggelam dalam dosa dan kesalahan.

Berhentilah sebentar, hindari dorongan untuk mau mengendalikan segalanya, tahu segalanya, hancurkan semuanya. Ini berasal dari perasaan syukur namun merendahkan karunia kehidupan dan semua kebaikan yang kita terima.

Berhentilah sebentar, hindari suara memekak yang melemahkan dan membingungkan pendengaran kita, yang membuat kita melupakan kekuatan keheningan yang berbuah dan kreatif.

Berhentilah sebentar, hindari sikap yang mendorong pemikiran steril dan tidak produktif yang timbul dari keterasingan dan sayang diri, dan itu menyebabkan kita lupa pergi menemui orang lain untuk ikut menanggung beban dan penderitaan mereka.

Berhentilah sebentar, hindari kekosongan dari segalanya yakni hak-hal yang seketika, sesaat dan sejenak, yang membuat kita tercerabut dari akar kita, ikatan kita, dari nilai keberlanjutan dan kesadaran akan perjalanan kita yang terus berlanjut.

Berhentilah sebentar guna melihat dan berkontemplasi!

Lihatlah gerak gerik yang mencegah matinya amal kasih, yang tetap membuat api iman dan harapan hidup. Pandanglah wajah-wajah yang hidup bersama kelembutan dan kebaikan Tuhan yang bekerja di tengah-tengah kita.

Lihatlah wajah keluarga-keluarga kita yang terus berusaha, hari demi hari, dengan usaha keras, untuk maju dalam kehidupan, dan yang berkomitmen menjadikan rumah mereka sebagai sekolah cinta kasih,  meskipun ada banyak kekhawatiran dan banyak kesulitan.

Lihatlah wajah anak-anak dan kaum muda kita yang penuh kerinduan akan masa depan dan harapan, yang dipenuhi dengan “masa depan” dan kesempatan yang menuntut dedikasi dan perlindungan. Tunas-tunas cinta dan kehidupan, yang selalu membuka jalan di tengah perhitungan kita yang kurang dan mementingkan diri sendiri.

Lihatlah orang-orang tua yang wajahnya ditandai dengan lorong waktu, wajah yang mengungkapkan kenangan hidup orang-orang kita. Wajah-wajah yang mencerminkan kebijakan Tuhan sedang bekerja.

Lihatlah wajah orang sakit kita dan orang-orang yang merawat mereka, wajah-wajah yang dalam kerentanan dan pelayanan mereka mengingatkan kita bahwa nilai dari setiap orang tidak akan pernah bisa direduksi menjadi pertanyaan kalkulasi atau kegunaan.

Lihatlah wajah-wajah penyesalan dari begitu orang banyak yang mencoba memperbaiki kesalahan yang disadari dan tidak disadari, dan yang berupaya mengubah situasi mereka dan bergerak maju dari kemalangan dan penderitaan mereka.

Lihatlah dan kontemplasikan wajah Cinta yang Tersalib, yang kini dari salib terus memberi harapan kepada kami, tangan-Nya terulur kepada orang-orang yang merasa tersalib, yang mengalami dalam hidup mereka beban kegagalan, kekecewaan dan patah hati.

Lihatlah dan kontemplasikan wajah Kristus yang disalibkan karena cinta untuk semua orang, tanpa kecuali. Untuk semua orang? Ya, untuk semua orang. Melihat wajah-Nya adalah ajakan yang dipenuhi harapan akan masa Prapaskah ini, guna mengalahkan setan ketidakpercayaan, sikap apatis dan pengunduran diri. Wajah yang mengajak kita untuk berteriak: “Kerajaan Allah itu mungkin!”

Berhentilah sebentar, lihatlah, dan kembalilah. Kembalilah ke rumah Bapamu. Kembalilah tanpa rasa takut kepada tangan Bapamu yang terulur dan penuh hasrat, yang kaya dengan rahmat (lih Ef 2: 4), yang menanti kalian.

Kembalilah tanpa rasa takut, karena ini adalah saat yang tepat untuk pulang, ke rumah Bapaku dan Bapamu (lih Yoh 20:17). Inilah saatnya membiarkan hati seseorang disentuh … Bertahan di jalan kejahatan hanya akan menimbulkan kekecewaan dan kesedihan. Kehidupan sejati adalah sesuatu yang sangat berbeda dan hati kita memang tahu hal ini. Tuhan tidak bosan, juga tidak akan lelah, mengulurkan tangannya (lih. Misericordiae Vultus, 19).

Kembalilah tanpa rasa takut, untuk ikut dalam perayaan orang-orang yang dimaafkan.

Kembalilah tanpa rasa takut, untuk mengalami penyembuhan dan kelembutan Tuhan yang mendamaikan. Biarkan Tuhan menyembuhkan luka-luka dosa dan memenuhi nubuat yang dibuat kepada nenek moyang kita: “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan diri tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (Yeh 36:26).

Berhentilah sebentar, lihatlah dan kembalilah!(pcp)

cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (6)cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (8)

Tinggalkan Pesan