IMG_1740

Mengapa  anak-anak bangga menjadi anak Katolik. “Karena ada tanda salib!” jawab Nitam. “Karena Tuhan menyayangiku!” tegas Leoni.  Bagaimana menjadi pewarta kabar gembira? “Dengan membaca Kitab Suci untuk kemudian dikabarkan pada umat,” Rensa menimpali.

Setelah pertanyaan-pertanyaannya dijawab oleh anak-anak, Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko membenarkan jawaban-jawaban itu dan menegaskan bahwa “semua anak-anak Katolik dipanggil menjadi anak-anak yang baik,  dipanggil untuk menjalani tugas perutusan, tugas misioner, diutus untuk menjadi pewarta-pewarta Tuhan, pewarta warta kabar kegembiraan.”

Lebih daripada itu, sebanyak 7633 anak dan remaja dari 69 paroki dan 348 pendamping PIA-PIR se-Keuskupan Agung Semarang diajak oleh Mgr Rubi untuk menjadi saksi-saksi Tuhan dengan cara khas anak-anak yaitu dengan 4S: sehat, suci, sregep (rajin), dan srawung (bergaul).

Menurut Mgr Rubi, hidup sehat dimulai dari sekarang, misalnya dengan banyak makan dan suka sayur-sayuran. “Hidup sehat, juga dilakukan dengan tidak mencemari tubuh dengan narkoba, rokok, atau minum-minuman keras. Hindarkan itu semua. Ini cara kita untuk menjadi pewarta kebahagiaan,” kata Mgr Rubi.

Tentang hidup suci, Mgr Rubi mengajak anak-anak untuk berdoa setiap hari dan rajin membaca Kitab Suci. Tentang sregep, Mgr Rubi berharap, anak-anak rajin mengikuti berbagai kegiatan positif entah di rumah, sekolah lingkungan maupun Gereja. Tentang srawung, Mgr Rubi berharap, anak-anak mau bergaul dengan siapa pun tanpa pilih-pilih.

Srawung artinya bergaul dengan siapa saja. Tidak pilih-pilih. Berani bergaul dengan teman-teman yang beragama apapun. Ini menjadi salah satu tantangan kita. Inilah cara kita menjadi anak-anak Tuhan, menjadi anak-anak Katolik yang baik,” kata Mgr Rubi.

Uskup Agung Semarang berbicara dengan anak-anak dan remaja pada Misa Hari Anak Misioner Sedunia ke-175 di lapangan Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang, 7 Januari 2018.

Seperti tiga raja dari timur yang datang mencari Yesus, Sang Raja Diraja dengan melihat bintang, Mgr Rubi berharap, anak-anak pun selalu melihat Yesus sebagai Bintang Kehidupan. “Walaupun nanti dalam perjalanan ada kesulitan-kesulitan hidup, kita selalu melihat Sang Bintang. Kita persembahkan hidup kita yang terbaik. Mudah-mudahan dengan acara ini, kita bisa tetap bersatu dengan Yesus dan kita menjadi anak-anak Tuhan yang baik, yang bisa memberi warta suka cita bagi orang lain.”

Direktur Nasional Karya Kepausan Indonesia Pastor Markus Nurwidi Pranoto Pr lalu mengajak Anak-Anak Misioner, Anak-Anak Sekami, Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner untuk membawa semboyan ‘Children Helping Children’ (anak membantu) melakukan tindakan konkret “2D 2K” (doa, derma, kurban, dan kesaksian).

“Dengan emat tindakan itulah kita akan bermisi, kita menjadi anak-anak misioner, kita mengembangkan dan mewujudkan pewartaan akan Yesus Tuhan Sang Juru Selamat dunia,” seru imam itu dalam acara yang diakhiri dengan pentas drama anak-anak Paroki Cawas, Klaten, tentang menjaga Indonesia.(Lukas Awi Tristanto)

IMG_1847IMG_1821IMG_1766

 

1 komentar

Tinggalkan Pesan